CARA MENJALANI HARI

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

CARA MENJALANI HARI

 

How we spend our days is of course how we spend our lives.
Dillard, Anne

Bagaimana kita menjalani hari hari, adalah bagaimana kita menjalani kehidupan kita

Dillard, Anne

 

Saya punya kenalan, yang berdagang kain dipasar, yang telah dilakukannya sepanjang hidupnya, sejak masih remaja sampai sekarang telah menjadi kakek.

Setiap hari ia dan istrinya bangun pagi pagi, memasak nasi dan dadar telur untuk dimasukan kerantang dan dibawa untuk makan siang ditoko (mereka mempunyai 3 toko. Satu dijaga oleh suaminya. Kedua oleh istrinya. Dan yang ketiga dijaga oleh keponakannya) Ia naik Vespa tua yang telah dipakainya sejak muda; dan mengenakan kemeja atau kaos yang sudah pudar warnanya karena terlalu lama dipakai.

Sesampainya ditoko yang berukuran 3×4 meter, ia akan duduk didekat meja kasir, dari pagi sampai sore (dikurangi waktu beberapa belas menit untuk menyetor uang hasil penjualan kemarin, dan buang air di toilet). Pada petang hari kembali pulang kerumah; langsung menghitung dan mencatat uang hasil penjualan bersama istrinya, untuk disetorkan ke bank keesokan paginya.

Selesai menghitung uang, mereka akan makan malam ala kadarnya; beristirahat sejenak, dan kemudian mandi. Setelah itu pergi tidur.

Demikianlah setiap hari aktivitas hidup yang mereka lakukan.

 

Apakah mereka miskin? Apakah mereka tidak mempunyai anak?

Mereka cukup kaya. Ketiga anak mereka kuliah dan tinggal diluar negeri; masing masing telah mempunyai apartemen sendiri.
Tabungan mereka ada milyaran Rupiah di bank.

 

Kalau Anda bertanya:

Mengapa prilaku kehidupan mereka nampak seperti orang miskin?

Saya menjawab, “Saya tidak tahu.”

Yang saya tahu, sifat dan prilaku mereka memang sudah begitu sejak masih muda. Mereka sangat hemat dan kikir, kepada diri mereka sendiri, apalagi kepada orang lain!

Mereka tidak disukai tetangga, maupun saudara, karena prilakunya tidak menyenangkan: bukan hanya kikir, melainkan juga mudah tersinggung, sering merendahkan orang lain, dan egois.

 

Kalau Anda bertanya:

Apakah mereka berbahagia dengan gaya kehidupan mereka yang seperti itu?

Saya menjawab, “Saya tidak tahu”

Saya tidak pernah menanyakannya kepada mereka.

Namun kalau menurut analisa saya, mereka tidak bahagia!

Apa bahagianya hidup model seperti itu?

Sekalipun mereka berlimpah harta, namun mereka tidak menikmatinya, karena disimpan di bank; sedangkan setiap hari mereka hanya makan nasi dengan dadar telur atau dengan sayur ala kadarnya!

Mereka punya anak anak dan cucu, namun mereka tidak bisa merasakan atau membagi kehangatan, karena mereka semua berada jauh diluar negeri!

 

Suatu hari, ketika mereka meninggal, maka semua harta yang dikumpulkan selama berpuluh tahun, akan menjadi milik anak cucunya, tanpa mereka sendiri pernah menikmatinya.

Menurut saya, yang akan mengantar keliang lahat hanyalah anak cucu dan keponakannya saja, sedangkan tetangga maupun saudara lain merasa enggan, karena selama mereka hidup tidak ada kebaikan –apalagi kebergunaan- yang pernah dibaginya kepada orang lain

 

Sekarang giliran saya bertanya kepada Anda:

Apakah Anda mau mempunyai model kehidupan seperti orang itu?

Jika tidak mau, apakah Anda sudah memeriksa, bagaimana cara Anda menjalani kehidupan sehari-hari, menit demi menit, sepanjang hidup Anda, sampai detik ini?

Apakah Anda bahagia? Apakah Anda turut andil terhadap penciptaan kehidupan berkualitas orang lain? Apakah Anda telah melakukan kebergunaan bagi orang lain, sehingga jika suatu hari Anda meninggal, mereka akan merasa kehilangan, dan akan menangisi kepergian Anda?

 

Mari saudaraku, perhatikan bagaimana cara kita menghabiskan waktu dan kehidupan kita. Pastikan bahwa kita hidup tidak sia-sia. Pastikan bahwa hidup kita bermanfaat dan memberi kegembiraan, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga bagi keluarga, dan banyak orang!

 

Nasehat serupa telah pernah saya bagikan kepada dua orang teman saya. Mereka keduanya adalah “pengacara” (pengangguran banyak acara) yang lumayan kaya. Si “AN” adalah mantan pedagang elektronik di Jakarta Kota, yang menutup bisnis, dan hanya menikmati hidup dari uang hasil menyewakan ketiga buah rukonya, dan dari bunga depositonya. Lumayan besar, karena bisa untuk membiayai ketiga anaknya yang kuliah di Australia, dan membiayai kehidupannya dan istrinya tanpa perlu kerja.

Sedangkan si “LI” adalah mantan pengusaha tekstil, yang menutup pabriknya, dan sekarang juga menjadi “pengacara” sambil santai dibiayai oleh hasil bunga depositonya.

 

Setiap hari, mereka hidup “ongkang ongkang kaki” seperti ABG (anak baru gede), tanpa perlu bekerja mencari uang. Bangun tidur sesukanya, kemudian sarapan, kemudian pergi ke fitness center; kemudian makan siang; kemudian pulang ke kondominium nya masing masing untuk tidur siang. Bangun tidur buka internet, dan main game online. Malam hari pergi makan bersama istri atau teman teman, sampai larut malam. Biasanya pulang sudah dalam keadaan setengah teler, karena kebanyakan minum alkohol.

Sebulan dua kali, selama beberapa hari, mereka akan pergi kepulau bersama teman temannya untuk memancing ataupun “menembak ikan” (menyelam sambil memanah ikan). Kemudian dibakar dipulau dan disantap bersama minuman alkohol mahal.

Demikianlah kehidupan yang mereka jalani setiap hari selama bertahun-tahun, sampai hari ini.

 

Nah, saya ingin bertanya lagi kepada Anda:

Apakah menurut Anda mereka memiliki kehidupan yang berbahagia? Apakah Anda mau memiliki model hidup seperti mereka?

Saya mendapat jawaban yang bervariasi:

  • Ada yang mengatakan bahwa mereka bukan bahagia, melainkan enak, santai, senang!
  • Ada yang mengatakan, kalau hanya untuk sebulan dua bulan, mereka mau memiliki kehidupan seperti itu, namun kalau untuk bertahun-tahun, mereka tidak mau, karena pasti membosankan!

 

Kalau saya, akan menjawab secara tegas:

  • Saya tidak mau!

Hidup yang seperti itu terkesan tidak bertanggung jawab, sia-sia! Bayangkan, mereka adalah pria seusia saya, 57 tahun! Namun setiap hari hanya memikirkan cara menghabiskan waktu dengan bermain, makan, minum, mabuk, dan bermain! Astagaaa…!!!??

Betapa tidak bergunanya! Betapa tidak berharganya! Betapa tidak bermaknanya!

Mereka masih mempunyai kehidupan; masih punya uang; masih punya tenaga; dan punya banyak sekali waktu… pertanyaan saya:

  • Mengapa hanya dihambur-hamburkan dan disia-siakan tanpa guna? Mengapa tidak memikirkan dan mengupayakan agar memanfaatkan waktu, uang, dan aktivitas untuk kebergunaan banyak orang???!