KEBIASAAN MENUNDA ADALAH PERILAKU BURUK

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

KEBIASAAN MENUNDA ADALAH PERILAKU BURUK

 

Procrastination is like a credit card: it’s a lot of fun until you get the bill, and the terror of debt collectors

Christopher Parker

Kebiasaan menunda-nunda adalah seperti kartu kredit: sangat menggembirakan ketika menggunakannya, sampai datang tagihan, dan teror dari debt collectors

Christopher Parker

 

Kebiasaan menunda-nunda adalah salah satu prilaku buruk yang menghambat perkembangan pribadi, pencapaian prestasi, serta kesuksesan hidup.

Istilahnya adalah “TAR SOK, entar besok”.

Kebiasaan ini khas, hanya sering dilakukan oleh “orang kecil” atau “si bukan siape siape”: Kalau berhutang dan ditagih, mereka akan berkelit, “TAR SOK, entar ya, besok ya..”

Kalau diminta menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok misalnya, mereka akan menjawab, “TAR SOK, entar ya, mulai besok deh”

Kalau diminta untuk memulai kebiasaan baik, seperti berolah raga misalnya, mereka akan menjawab, “TAR SOK, entar ya, mulai besok deh”

Pokoknya, apa saja hal baik hebat yang seyogyanya dilakukan SEKARANG, akan mereka tunda dengan menjanjikan hari besok.

Ujungnya, mereka tidak pernah melakukannya!

Karena hal baik hebat tidak dilakukan, maka hasilnya jelas: Tidak ada hal baik hebat yang terjadi!

Sehebat hebatnya kehidupan orang yang terbiasa menunda-nunda, akan mengalami kualitas hidup yang datar marginal saja; tidak maju dan tidak mundur, abadi seperti batu!

Dan tentu saja, secara logis, kebiasaan menunda-nunda akan banyak dan sering merugikan kehidupan pelakunya; karena persoalan yang satu tidak diatasi sampai membesar menjadi persoalan yang lain, demikian seterusnya, sampai dirinya tertimbun gunung persoalan.

 

Kalau saya analogikan kebiasaan menunda-nunda dengan penggunaan kartu kredit, maka sudah sering terjadi pengguna kartu kredit yang naif –yang menganggap kartu kredit adalah hibah, dan bukan hutang- akan dengan gembira berbelanja ria, sampai limit kartunya habis.

Ketika bulan depan ditagih, baru kaget. Karena tidak punya dana untuk melunasinya, maka ia membayar minimum, sekalipun dengan beban bunga yang luarbiasa besar!

Pembayaran minimum terjadi berbulan bulan, sampai ia mengajukan kartu kredit baru keperusahaan lain; dan kembali dibelanjakan sampai limitnya habis; dan kembali dibayar minimum.

Demikianlah hidupnya hari demi hari, bekerja hanya untuk membayar hutang; sampai suatu hari, kemampuan bayarnya kalah dengan kewajiban bayarnya, sehingga menunggak, bahkan wan prestasi.

Dalam hitungan hari, kenyamanan hidupnya dan juga keluarganya mulai terganggu oleh “teror” dari Debt Collectors yang menagih hutang; dan jika tidak diladeni, maka penagih hutang akan menggunakan cara lain yang akan mempermalukan diri dan keluarganya.

Maka, selain stress dikejar hutang, orang naif itu juga akan mengalami depresi, karena kehilangan reputasi, kehormatan, kebanggaan, MAU?!

 

Sekalipun contoh kasus diatas saya namakan analogi, namun sesungguhnya itu adalah hal yang biasa dan banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat; Sama seperti kebiasaan menunda-nunda yang banyak dan sering terjadi!

 

Saran saya bagi orang yang mempunyai kebiasaan menunda ialah:

  • JANGAN MENUNDA!
  • APA YANG BISA DAN HARUS ANDA LAKUKAN SEKARANG, MAKA LAKUKANLAH SEKARANG!
  • JANGAN MENUNDA BARANG SEDETIKPUN, LANGSUNG LAKUKAN SAJA!
  • MAKA DETIK BERIKUTNYA, ANDA AKAN SUDAH ASYIK MELAKUKAN HAL YANG BIASANYA ANDA TUNDA!

 

Menunda itu masalah kebiasaan, masalah sikap mental, bukan masalah teknikal.

Jadi cara mengatasinya juga mudah, dan tidak perlu belajar ilmu khusus, cukup dengan memaksa sikap mental kita untuk BERTINDAK, dan BERTINDAK SEKARANG JUGA!

 

Orang yang biasa menunda-nunda harus ingat akan lirik lagu yang berbunyi “Tomorrow never comes”

Kalau belum pernah dengar lagu itu, maka akan saya beri cerita yang biasa diajarkan oleh pedagang kelontong:

Si Polan sedang lapar, mau masak tidak punya bahan makanan, dan mau belanja tidak punya uang. Maka dia berinisiatif untuk mendatangi toko kelontong tetangganya, berniat untuk berhutang bahan makanan.

Ketika tiba ditoko tetangganya, Polan berkata, “Bro, saya perlu barang ini dan itu, hutang dulu ya?!”

Tanpa banyak bicara, sipemilik toko menunjuk pada papan yang tergantung diatas meja kasir yang berbunyi, “Hari ini kontan. Besok boleh ngutang!”

Si Polan tersipu malu. Sambil beranjak pergi dia berkata, “Sorry Bro, ya sudah, besok saja saya datang lagi ya. Thanks”

Maka si Polan menahan lapar pada hari ini, dan berniat kembali ketoko tetangganya untuk berhutang esok hari.

Pertanyaan saya:

Apakah ketika besok si Polan datang ketoko itu boleh berhutang?

Mengapa tidak boleh?

Oooo… karena tulisan “Hari ini kontan. Besok boleh ngutang!?”

Jadi, dengan kata lain, sampai dunia kiamatpun si Polan tidak mungkin bisa berhutang ditoko tersebut?

Mengapa?

Oooo… karena tidak akan pernah ada hari esok yang boleh ngutang?

Oooo… karena yang selalu berlaku adalah hari ini kontan?

 

Bagus! Saya senang mendengarnya. Berarti lirik lagu “Tomorrow never comes” benar dong ya?

Berarti kita sepaham dan sepakat dong ya, bahwa apa saja yang bisa dan harus kita lakukan SEKARANG, maka HARUS LANGSUNG KITA LAKUKAN SEKARANG! Bukankah demikian?

Deal!

Maka saudaraku, ketika kita bisa dan mau melaksanakan pengertian diatas, maka tidak akan ada lagi kebiasaan menunda-nunda; hilang begitu saja, secara otomatis.

Sama seperti gelap pasti hilang, digantikan dengan terang, ketika lampu dinyalakan.

Sama seperti embun atau kabut pasti hilang ketika matahari terik!