TUHAN BUKAN KACUNG

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

TUHAN BUKAN KACUNG

 

GOD is not our servant. Don’t ask HIM to do what we can do. Merely  thank GOD who gives us strength and actions to get rich

Johanes Lim

TUHAN bukan pembantu kita. Jangan meminta DIA melakukan apa yang bisa kita lakukan sendiri.

Melainkan ucapkan syukur kepada TUHAN yang telah memberikan kita kekuatan dan aksi untuk menjadi kaya

Johanes Lim

 

 

Saya pernah mendengar khotbah yang bunyinya kira kira demikian:

Ada jemaat yang datang kegereja selalu terlambat, dan meminta tolong agar pendetanya berdoa kepada TUHAN agar ia bisa datang tepat waktu.

Pendeta menjawab, “Hal seperti itu tidak perlu didoakan, karena bukan urusan TUHAN. Itu urusan Anda. Berangkatlah 30 menit lebih cepat dari biasanya, maka Anda tidak akan terlambat datang!”

Bravo! Pengajaran yang waras!

 

Saya juga sering mendengar pengajaran yang terdengar rohani (padahal menurut saya: rohana), yang berkata demikian:

Kalau mau omzet bagus, berdoa saja: “Ya TUHAN, tolong gerakkan hati konsumen agar membeli produk saya! Kirim malaekat MU untuk ngorder TUHAN!”

Ada pengajaran lain yang mirip dengan hal diatas:

“Kalau mau sukses dalam bisnis, tidak usah mikirin dan ngurusin bisnis. Serahkan saja kepada TUHAN! Tugas Anda adalah memikirkan dan mengurusi pekerjaan TUHAN!”

Terdengar saleh, lucu, atau konyol?

Saya tidak tahu alasan mengapa sampai terjadi pengajaran yang sedemikian tidak manusiawi dan tidak normal seperti itu?

  • Mengapa yang disuruh mencari pesanan adalah TUHAN dan malaekatNYA?
  • Lantas, apakah perusahaan tidak punya Salesman? Kalau yang ngorder malaekat, lantas untuk apa punya Salesman?
  • Kalau pebisnis tidak perlu mengurus bisnis, malahan menyuruh TUHAN yang mengurusi bisnis, memangnya TUHAN kurang kerjaan? Kalau pebisnis tidak mengurus perusahaan melainkan mengurusi ‘tetek bengek non bisnis’ lantas apakah pantas menyebut dirinya pebisnis?
  • Kalau karena keanehan dan ketidakwajaran prilaku itu mengakibatkan omzet anjlok dan atau bisnis bangkrut, apakah lantas menyalahkan TUHAN?

 

Saya bukan sedang mengolok-olok orang yang melakukan hal konyol seperti diatas, melainkan mengingatkan bahwa secara esensial dan teologis, itu adalah doa dan perbuatan yang keliru! Ngawur!

Itu bukan kesalehan, melainkan kesalahan!

Sama kelirunya dengan banyak doa yang berbunyi demikian:

“Ya TUHAN, kirimkanlah malaekatMU untuk mempertobatkan saudara saya!”

Maaf Bro, yang harus datang mengunjungi dan memberitakan firman TUHAN itu adalah ANDA, bukan malaekat!!

Kekeliruan yang mirip adalah doa seperti ini:

“Ya TUHAN, buatlah saya lebih mengasihi dan lebih taat kepadaMU”

Maaf Bro, itu juga doa yang ngawur! Kasih dan ketaatan itu bukan urusan TUHAN, melainkan urusan Anda!

Yang harus mau dan bertindak lebih taat dan lebih mengasihi itu adalah niat dan tekad Anda sendiri! Tidak perlu meminta TUHAN, karena IA pasti tidak mau melakukannya! TUHAN mau MANUSIA yang berkehendak bebas, BUKAN ROBOT yang diprogram!

Kasih dan ketaatan itu kerelaan dan kesadaran hati!

Kalau sudah pakai sistem paksa atau “install” sudah tidak seru lagi! Seperti main catur sendirian, apakah seru?!

 

Doa itu perlu dan berguna, serta sebaiknya kita lakukan, namun harus tepat sasaran. Doa adalah komunikasi antara kita dengan TUHAN.

Doa adalah salah satu bentuk manifestasi dari iman. Namun secara pragmatis dan realistis, doa itu bukan pengganti tindakan.

Secara teologis, sangat langka sekali TUHAN bertindak langsung menggantikan perbuatan kita, jika kita sanggup melakukannya.

Yang benar, saleh, dan waras adalah:

  • Kita berdoa dan bekerja.

Manfaat doa dan TUHAN adalah bahwa kita mempunyai pengharapan, keberanian, kekuatan, keyakinan, bahwa bersama TUHAN, apa saja yang kita lakukan, akan berhasil!

Jadi, kita patut bersyukur atas keberhasilan dan kekayaan kita, bukan karena TUHAN yang melakukannya; melainkan karena TUHAN memberikan kita kesempatan dan kekuatan untuk melakukannya!

Jadi, kata kuncinya ialah: KITA YANG MELAKUKANNYA!

Kalau meminta TUHAN yang melakukannya, bukanlah pertanda kesalehan, melainkan kesalahan dan kemalasan!