KITA BESAR, BANGSA KITA BESAR

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

KITA BESAR, BANGSA KITA BESAR!

 

Buku SANG MOTIVATOR ini saya buat karena keprihatinan menyaksikan kehidupan saudara saudari kita sebangsa dan setanah air yang tidak henti hentinya didera berbagai kesulitan dan penderitaan hidup

Sungguh merupakan peristiwa yang ironis dan tragis. Kita, bangsa Indonesia, yang hidup dibumi nusantara yang “gemah ripah loh jinawi”, yang kata lirik lagu Koes Plus “Tongkat dan batu jadi tanaman”, bisa mengakibatkan rakyatnya banyak yang melarat

 

Karena saratnya penderitaan, serta tidak terlihatnya ada titik terang perbaikan hidup, maka banyak orang yang mengidap stress, depresi, bahkan putus asa.

Ada pula yang terlibat dalam tindakan kriminal untuk survive.

 

Bagi masyarakat kalangan menengah atas juga tidak terlepas dari kesulitan hidup, khususnya persoalan finansial dan bisnis.

Merosotnya kemampuan beli masyarakat, diperparah dengan melonjaknya biaya operasional, sehingga tidak ada satu cara yang cukup ampuh untuk mempertahankan kelangsungan bisnis.

Cara termudah untuk “menghentikan pendarahan” adalah dengan menciutkan skalanya –untuk menghemat biaya-, dan atau membubarkannya, jika tidak ada lagi cukup dana untuk survive.

Akibatnya jelas: terjadi pengangguran massal!

 

Saya tidak lagi perlu menjabarkan apakah akibat dari terjadinya multi-layer unemployment seperti itu.

Stress bukan lagi kata yang tepat untuk menggambarkannya, melainkan KEPUTUS-ASAAN!

Banyak orang kalangan menengah atas terlibat dalam kehidupan malam dan penyalahgunaan narkoba, karena merasa selflessness dan hopeless, sehingga melarikan diri dari kenyataan.

Satu persoalan baru lagi mereka ciptakan dengan prilaku menyimpang itu: KEHANCURAN TUBUH DAN REPUTASI!!!

 

Saya tahu bahwa tidak semua lapisan rakyat Indonesia yang hidup dalam krisis dan penderitaan finansial, karena masih banyak orang yang cukup kaya dan sangat kaya di Indonesia; terbukti dengan masih larisnya penjualan mobil mobil mewah build-up; masih ramainya orang pergi berlibur keluar negeri; masih rutinnya diadakan pesta hura hura kalangan jetset; dsb…. dsj…. dst…..

 

Namun kalau kita berani jujur, mayoritas orang yang menghambur hamburkan uang seperti air itu bukanlah perintis bisnis!

Mereka itu adalah anak-anak dan anggota keluarga orang kaya, dan atau keluarga pejabat!

Yakni orang orang yang tidak pernah merasakan sulitnya mencari dan mengumpulkan uang!

Karena mereka mendapatkan uang dengan mudah, maka mereka juga akan menghamburkannya dengan mudah!

Kalau habis, tinggal minta! Atau tinggal ambil!

 

Perintis bisnis (business founder) tidak akan pernah melupakan sejarah, bahwa mereka bisa menjadi kaya karena bekerja sangat keras, dan hidup sangat hemat; bahwa adanya satu juta karena hasil akumulasi rupiah demi rupiah selama bertahun tahun!

Jadi mereka akan sangat merasa berdosa jika memboroskannya!

 

Namun saya juga tahu, bahwa cara hidup borjuis dan hedonis seperti itu tidaklah membahagiakan, dan sangat tidak membanggakan!

Saya tidak berani berkata MEMALUKAN, karena mereka belum tentu mempunyai rasa malu.

Saya hanya mengingatkan kepada Anda, saudara dan saudariku, bahwa JANGAN IRI KEPADA MEREKA!

Mereka bukan sedang bersenang-senang, melainkan sedang melakukan SELF-DESTRUCTION!

Percayalah bahwa gaya hidup seperti itu hanya merusak dan menghancurkan mental serta stamina tubuh.

 

Saya menulis tentang kehidupan menyimpang dari kalangan “The Have” itu karena menyesalkan, mengapa mereka tidak memanfaatkan berkat dan kelimpahan finansial yang TUHAN percayakan kepada mereka, untuk menolong sesamanya?

Mengapa mereka menutup mata dan telinga terhadap realita yang terjadi disekitarnya, bahwa ada seratusan juta saudara saudari kita sebangsa dan setanah air yang membutuhkan uluran tangannya?

Andaikan jatah untuk hidup hura-hura itu disumbangkan kepada orang miskin, maka akan mendatangkan 3 rakhmat:

  1. Orang miskin tertolong, tidak mati kelaparan
  2. Orang kaya tertolong, tidak mati kekenyangan
  3. Terjadi kebahagiaan dikedua pihak, seperti ada tertulis, “Terlebih berbahagia memberi daripada menerima”

 

Baiklah saudaraku, cukup sudah saya mengeluarkan unek-unek hati saya.

Sekarang saya ingin menyampaikan pendapat saya tentang mengapakah negara sebesar Indonesia bisa mengalami keterpurukan sedemikian lama pada banyak sektor; dan kedua adalah upaya saya untuk memberanikan Anda agar turut andil dalam mengatasinya; agar kita, sebagai masyarakat dan sebagai bangsa, bisa kembali kefitrahnya MENJADI BANGSA YANG BESAR!

 

Menurut pengamatan saya, kausa prima persoalan kita adalah pada MINDSET (sikap mental).

Sikap Mental banyak orang kita tidak kondusif terhadap penciptaan prestasi, keunggulan, dan kebergunaan!

  • Dimulai dari Mindset para pemimpin kita yang bersifat “cookie cutter approach”, berpikir pendek dan simptomatik, sehingga tidak mau berpikir panjang dan strategis, apalagi visioner. Itulah sebabnya bencana terjadi berulang, karena tidak ada orang yang memikirkan solusi antisipatifnya!
  • Diperparah dengan Mindset yang mementingkan diri sendiri, sehingga apa saja yang dilakukan dan atau tidak dilakukan hanyalah mengacu kepada “Bagaimana cara saya mengeruk keuntungan dari ini, sekarang!?”
  • Mindset pengambil dan pengerat” ini segera menular kesemua jajaran, dari atas sampai bawah, kekiri kanan, kedepan belakang; bukan lagi ibarat “nila setitik merusak susu sebelanga”, melainkan “nila sebelanga merusak susu setitik”, orang baik dan benar menjadi barang langka!
  • Karena orang berlomba-lomba untuk mempunyai kekuasaan agar bisa merampas hak orang lain, maka sudah tentu semangat melayani dan memperdulikan orang lain menjadi nyaris hilang. Terjadilah stagnasi pada pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan. “Yang kaya bertambah kaya, dan yang miskin menunggu ajal”
  • Teladan buruk dari atas turun kebawah, dari orang besar keorang kecil, sehingga terjadilah apa yang dinamakan “Ketidakperdulian Sosial”. Kita tidak lagi merasa bersalah membiarkan saudara sebangsa dan setanah air menderita sampai mati kelaparan! Bahkan dengan tega melahap pula jatah anggaran untuk orang miskin! Hati banyak orang menjadi “dingin”. Jangankan harta, kasih dan belas kasihan saja tidak lagi bisa dibagikan!
  • Hal kedua yang menyolok dari Mindset yang buruk ialah kebiasaan dan prilaku banyak orang kita yang MENYALAHKAN PIHAK LAIN!
  • Ketika kita menderita kerugian, kecelakaan, kemalangan, penderitaan, yang segera kita pikirkan adalah, “Siapa yang harus saya persalahkan atas semua ini?”
  • Dicarilah “kambing hitam” atau “kambing korban”, mulai dari orang lain, suku lain, kota lain, negara lain, agama lain, nasib dan takdir, sampai Setan dan TUHAN; “Pasti mereka yang salah, dan bukan saya!” Itulah pendapat mereka
  • Prilaku menyalahkan pihak lain ini akan menutup prilaku introspeksi. Ketika orang tidak merasa salah, maka sudah tentu tidak akan berusaha memperbaiki diri. Akibatnya jelas: kesalahan berulang, dan terus berulang, menjadi semakin buruk

 

Siapapun yang memiliki MINDSET seperti itu, sulit diharapkan untuk menciptakan keunggulan, apalagi prestasi.

  • Sifat dan prilaku mereka menjadi typical: Kalau masih menjadi “orang kecil” gemar menjilat, kalau perlu berkhianat, demi mencapai tujuannya.
  • Ketika sudah menjadi “orang besar” akan menekan si lemah, dan kalau perlu berkhianat, demi mempertahankan kekuasaannya.

Perhatikan kata berkhianat yang saya garis bawahi, yang timbul dalam dua situasi berbeda. Bukan karena saya sentimen atau mengada-ada, melainkan merupakan fakta sejarah.

Coba renungkan, mengapa Belanda, melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) bisa menjajah kita selama 350 tahun, suatu kurun waktu yang sangat lama: 127.750 (seratus dua puluh tujuh ribu tujuh ratus lima puluh) HARI!

Bukan karena Belanda hebat, dan bukan karena kita payah; melainkan karena VOC memanfaatkan kelemahan Mindset “pengkhianat” itu dengan menerapkan strategi “Devide et impera”, dengan memecah belah dan menghancurkan kita!

Apa yang terjadi ketika kita bersatu hati dan tindakan meneriakkan MERDEKA, ATAU MATI!? KITA MERDEKA!

 

Dengan contoh diatas saya ingin mencelikkan mata batin siapapun bahwa kita, bangsa Indonesia, sesungguh-sungguhnya berpotensi untuk menjadi Bangsa yang BESAR! Yang HEBAT! Yang MAKMUR!

Tidak perlu banyak syarat, dan tidak perlu bantuan negara lain, melainkan hanya dengan MERUBAH SIKAP MENTAL KITA!

Kalau kita bersedia introspeksi, bersedia merendahkan hati untuk mengakui kelemahan dan kesalahan, mempunyai semangat persatuan dan gotong royong, serta bertekad keras untuk mengubahnya menjadi kebaikan dan keunggulan, maka KITA PASTI BISA!

 

Tidak ada persoalan dengan tanah air; tidak ada persoalan dengan musim; tidak ada persoalan dengan sumber daya manusia; tidak ada persoalan dengan sumber daya alam!

Perhatikan:

  • Tanah air kita, dari Sabang sampai Merauke, sejak jaman dahulu sampai sekarang, adalah tanah yang subur dan diberkati. Kita hanya punya musim panas dan musim penghujan, sehingga bisa tetap produktif dalam musim apapun.

Kalau selama ini terjadi banyak kebakaran dimusim panas, dan terjadi kebanjiran dimusim penghujan… itu semua bukanlah salah musimnya, melainkan salah di kita, karena kita tidak berpikir antisipatif dan strategis!  Itu adalah hal yang sangat mudah untuk diatasi, setelah kita mempunyai Mindset dan prilaku yang kondusif!

 

Kalau ada diantara Anda yang skeptis atau pesimis terhadap keadaan Indonesia, maka saya perlu mengingatkan bahwa: JANGAN PASRAH! TUHAN TIDAK MERUBAH NASIB, MELAINKAN MERUBAH KITA!

  • Sejak masih sebagai sperma, manusia telah harus berjuang sangat keras, bersaing dengan ratusan juta sperma lain untuk bisa sukses membuahi ovum.
  • Sebagai janin, manusia harus berjuang keras untuk bisa keluar dari rahim ibu dengan selamat.
  • Sebagai anak kecil, manusia harus berjuang keras untuk belajar dan bertumbuh.

BERJUANG MERAIH KESUKSESAN DEMI KESUKSESAN ADALAH FITRAH DAN KARAKTERISTIK MANUSIA UNGGUL!

Pasrah dan menyerah adalah prilaku Pendalih!

  • KEGAGALAN & KEMISKINAN BUKANLAH TAKDIR ILAHI, MELAINKAN PERJUANGAN YANG HARUS DIPERBESAR ENERGINYA!

Seperti kita tidak bisa berkata bahwa bayi ditakdirkan merangkak, karena telah jatuh berulang kali dalam upayanya untuk bisa berjalan!

 

Untuk bisa menjadi PEJUANG YANG SUKSES MERAIH SUKSES, kita perlu kemampuan dan kemauan untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain secara terus menerus, yakni menjadi SANG MOTIVATOR!

JANGAN MENGANDALKAN ORANG LAIN UNTUK MEMOTIVASI ANDA!

PELAJARI CARANYA, DAN JADILAH SANG MOTIVATOR!

 

Jadi saudaraku, buku SANG MOTIVATOR ini saya peruntukkan bagi Anda yang serius ingin merubah hidup (mindset, prilaku, “nasib”) diri sendiri dan orang lain, agar mau-mampu MENJADI THE BEST ACHIEVER, DALAM WAKTU SELAMBAT-LAMBATNYA 21 HARI!

 

Agar Anda kelak bisa menggunakan isi buku ini untuk memotivasi orang lain, saya sudah mengaturnya demikian:

  • Setiap sesi saya mulai dengan mengutip pernyataan orang orang besar yang pernah ada, dan atau yang inspirasional
  • Saya akan mulai sesi pertama dengan mengutip pemikiran Proklamator kita Bung Karno, yang saya nilai luar biasa hebat
  • Kemudian saya jabarkan menurut versi saya, agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif
  • Isi “Quotes” telah saya pilih yang terbaik dan mencakup semua aspek vital kehidupan kita, yang diperlukan untuk mencapai kualitas hidup diatas rata-rata.
  • Johanes Lim telah membuat satu kata inspirasi yang menjadi filosofi dasar kita SANG MOTIVATOR, adalah: BETTER IS NOT ENOUGH WHEN GETTING THE BEST IS POSSIBLE!