MERUBAH DUNIA

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

MERUBAH DUNIA

 

I thought I could change the world to the better; It took me 57 years to figure out that I can’t change the world. I can only change Johanes Lim, and Gosh, that ain’t easy either.

Johanes Lim

Saya pikir saya bisa merubah dunia agar menjadi lebih baik; perlu waktu 57 tahun untuk memahami bahwa saya tidak bisa merubah dunia. Saya hanya bisa merubah Johanes Lim, dan “Ajubilah”, itupun sukarnya bukan main.

Johanes Lim

 

Sudah sejak masih remaja, sebenarnya saya ini masuk kategori orang yang idealis, bahkan nyaris utopis.

Kata teman-teman, saya ini sok ksatria, mengharapkan dunia yang ideal, padahal seperti pahlawan kesiangan!

 

Saya menjadi “kutu buku” juga sudah sejak kecil, dan senang dengan buku-buku yang memberikan inspirasi, mulai dari cerita silat yang banyak filsafatnya seperti karya Kho Ping Hoo, juga karya TD Pardede, Dale Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, Jim Rohn, dll

 

Saya juga mempelajari Teologia dan perbandingan agama.

Bahkan ketika tugas di Auckland selama hampir 3 tahun, saya mempelajari Hypnotherapy, yang menurut literatur sudah terbukti efektif untuk mengubah prilaku sejak abad 17an.

 

Berbekalkan pendidikan akademis, pembelajaran yang terus menerus, pengalaman profesi dan bisnis, saya bertekad untuk istilahnya “mengubah dunia” yakni mengajarkan kepada sebanyak mungkin orang agar berambisi untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih berguna dan lebih mulia.

Jika Anda memperhatikan, cobalah baca buku pertama saya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1996 yakni NO PAIN NO GAIN, sangat sarat dengan idealisme.

 

Namun apa yang saya dapatkan?

Apakah setiap orang yang mendengar pengajaran motivasional saya, bahkan yang mendengar khotbah saya, “bertobat” dan menjadi lebih baik?

Sepertinya tidak!

Mengajarkan kebaikan dan kebergunaan itu sangat melelahkan, dan tidak populer; bahkan sering mendapat cemoohan, “Ah sok suci! Naïve!”

 

Bukan pujian yang saya dapatkan, juga bukan kekayaan finansial, hanya kesusahan. Sampai sampai saya mengeluh kepada TUHAN, “Ya TUHAN, saya menyerah. Saya seperti mengecat es balok, percuma!”

Namun ketika usia saya bertambah, dan rambut putih dikepala saya semakin banyak, saya menyadari bahwa, tidak ada perbuatan baik yang sia-sia.

Mungkin saja saya tidak bisa merubah semua orang buruk menjadi baik; semua orang miskin menjadi kaya; semua orang gagal menjadi sukses….; namun setidaknya, saya telah berhasil mengubah diri Johanes Lim agar menjadi lebih bijaksana. Lumayan…!