TAKDIR RE-ENGINEERING: MEREKAYASA ULANG TAKDIR

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

TAKDIR RE-ENGINEERING: MEREKAYASA ULANG TAKDIR

Tulisan ini saya dedikasikan untuk para sahabat sahabat, pembaca buku, maupun peserta pelatihan saya; yang ingin mendapat masukan dan inspirasi tentang perkara yang sangat crucial, dan unsolvable; yakni tentang TAKDIR.

Bukan dengan maksud menggurui ataupun mengindoktrinasi, melainkan hanya ingin berbagi pendapat dan solusi terhadap hal yang menjadi misteri sepanjang jaman:

  • Apakah TAKDIR itu?
  • Apakah TAKDIR bisa diubah?
  • Apakah peranan TUHAN ALLAH terhadap TAKDIR setiap manusia?
  • Apakah TUHAN ALLAH menetapkan TAKDIR setiap orang menjadi kaya atau miskin, berbahagia atau menderita, sukses atau gagal?
  • Apakah TUHAN ALLAH Maha Baik dan Maha Kuasa sekaligus?
    Jika “YA”, lantas apa penjelasannya terhadap banyaknya penderitaan, kemiskinan, sakit penyakit, malapetaka? Mengapa banyak orang saleh yang menabur kebaikan malahan mendapat kemalangan, penyakit, kerugian, kemiskinan, penghinaan?
  • Mengapa banyak orang yang menabur kejahatan malahan mendapat keberuntungan, kekayaan, kehormatan, kebahagiaan?
  • Apakah manusia bisa merancang ulang TAKDIR nya sendiri, agar menjadi sebagaimana yang dikehendaki?
  • Bagaimana cara merancang ulang TAKDIR agar kita bisa menjadi sukses kaya, sehat sejahtera, dan berbahagia? Apa indikasinya bahwa TAKDIR seseorang sudah ditetapkan untuk tidak bisa diubah?

Dan masih banyak lagi pertanyaan tersembunyi yang memenuhi hati manusia, namun yang tidak berani diungkapkannya, karena merasa tidak patut, dan gentar, takut menyinggung perasaan TUHAN ALLAH.
Sayapun tidak akan berani lancang untuk menyampaikan hal yang bukan wewenang dan domain saya; bukan karena takut berdosa, melainkan takut malu karena mengajarkan hal yang tidak bisa saya pertanggung jawabkan

Tulisan saya inipun tidak bertujuan untuk mempengaruhi kepercayaan Anda terhadap apapun. Saya hanya ingin membantu, menolong.
Jika hati, pikiran dan roh Anda telah merasa sumpek, penasaran, kecewa dan frustrasi terhadap berbagai hal yang tidak Anda dapatkan jawabannya dari siapapun… mudah mudahan tulisan saya ini bisa memberikan kelegaan, jalan keluar bagi Anda.

 

Sebagaimana yang Anda ketahui, bahwa saya adalah Penulis beberapa buku bisnis dan motivasi seperti NO PAIN NO GAIN, JUST DUIT, MANAJEMEN USA, STRATEGI SUKSES, HYPNOSIS IN SELLING, RSQ THE MONEY MAKER, BUSINESS DOCTOR, dll

Saya bukan Penulis produktif, karena setiap buku memerlukan waktu riset 1-2 tahun agar bisa memberikan manfaat optimal dan orisinil. Dan untuk membina persahabatan, saya selalu mencantumkan nomor HP dan email pribadi saya disetiap buku, sehingga dari sana saya juga menerima sangat banyak masukan dan inspirasi dari para pembaca buku. Ditambah dengan pengalaman menjadi Pelatih Konsultatif diberbagai skala dan jenis industri selama lebih dari 16 tahun.
Berbagai pertanyaan, persoalan, harapan, kritikan, komentar dan saran dari para sahabat itulah yang mendorong saya untuk menulis sub-topik ini

Namun karena harus memilih, maka saya memilah subjek ini menjadi TAKDIR RE-ENGINEERING: MENJADI PRIA SEJATI.

AHA! Kalau ada dari Anda yang terperanjat, dan menduga saya diskriminatif terhadap gender, bahkan terkesan sok jagoan… saya perlu menginterupsi:

Ijinkan saya selesai menjabarkan.

Saya mengasihi pria maupun wanita. Namun karena budaya ketimuran kita yang memposisikan pria sebagai kepala keluarga, tulang punggung, pencari nafkah; dan karena saya adalah pria sehingga pasti kurang memahami wanita, sehingga kurang patut jika saya yang membahasnya… maka topik ini saya pilih.

Premis saya ialah:

  • Bagus atau buruknya suatu bangsa, ditentukan oleh masyarakatnya; masyarakat adalah kumpulan dari keluarga keluarga; dan dalam masyarakat yang berbudaya Timur serta paternalistik, kepala keluarga adalah pria; sehingga pria lah yang dominan menentukan “nasib” keluarga, masyarakat, dan bangsa!
  • Ibaratnya, pria adalah seperti lokomotif, sedangkan istri dan anak anaknya adalah gerbong. Apa yang akan terjadi, kemana akan menuju, tergantung arah lokomotif. Sehingga, jika kaum pria dijadikan Pria Sejati, maka dalam lingkup kecil, yang mendapat manfaat adalah wanita dan anak anaknya; sedangkan dalam lingkup besar, masyarakat dan bangsa juga akan mendapat manfaatnya

 

Saya tidak sedang berprasangka, melainkan berdasarkan realita.
Sekalipun populasi wanita 3 kali lebih banyak dari pria, namun jabatan pemimpin, didominasi oleh pria; baik dalam domain politik, sosial maupun bisnis.

Saya mempunyai data bahwa dari 32.000 pemimpin bisnis Indonesia, yang menjadi direksi wanita hanyalah 9% saja.

Jadi, jika kita secara bersama sama bisa meningkatkan kualitas dan kebergunaan pria, maka secara otomatis manfaatnya bisa dinikmati oleh banyak orang.

 

Adapun istilah “Menjadi Pria Sejati” bukanlah berarti menjadi pria macho; atau jika tidak mempelajari tulisan saya ini Anda bukan pria sejati.
Menjadi Pria Sejati hanyalah istilah saya:

  • Pria adalah ibarat kepala bagi tubuh; bahkan ibarat “tuhan” bagi keluarganya; sehingga “mati hidupnya” keluarga, ditentukan oleh kepala rumah tangga; sehingga sebagai Pria Sejati, kita harus bisa menjadi pemimpin dan teladan bagi istri dan anak anak.
    Seperti TUHAN, Pria Sejati harus mempunyai karakter dan prilaku yang baik, yang kuat, yang positif, yang berwibawa, yang mengasihi, yang melindungi, yang membanggakan, yang membahagiakan.
  • Pria Sejati kuat, disiplin, bertanggung jawab, terhormat, tegas, namun lembut. Tabu bagi Pria Sejati untuk berkata kasar, apalagi memperlakukan kasar kepada anggota keluarga yang harus dilindunginya.
  • Tabu bagi Pria Sejati untuk berputus asa, menyerah, menelantarkan keluarga, apalagi meninggalkannya (bercerai, minggat ataupun bunuh diri); apapun yang terjadi, baik dalam kejayaan maupun dalam penderitaan; Pria Sejati harus berprilaku setia, rela berkorban, dan terus berjuang sehebat mungkin, untuk kepentingan keluarganya.
  • Satu hal penting lagi: Pria Sejati harus bisa memberi nafkah lahir batin bagi keluarganya. Kecukupan finansial maupun kehangatan hubungan. Sangat ironis jika ada orang yang berkata bahwa ia adalah kepala rumah tangga yang baik, namun tidak sanggup memberi nafkah bagi keluarganya; juga ironis jika pria hanya memberikan kelimpahan material kepada keluarganya, tanpa memberikan waktu dan keintiman emosional

 

Kalau boleh saya sederhanakan, Pria Sejati adalah siapa saja yang mau mampu berjuang all-out untuk menjadi Protector dan Provider secara emosional dan material bagi keluarganya.

  • Protector adalah Pelindung
  • Provider adalah Penyedia

Tidak boleh kurang, boleh lebih dari itu!

Pria Sejati harus berani menjadi orang baik, sukses kaya, dan menikmatinya bersama keluarga.

Itulah TAKDIR pria.

Jika ada yang merasa bahwa TAKDIR nya bukan seperti itu, maka perlu dirancang ulang, dan dikembalikan ke fitrahnya.

Itulah sebabnya tulisan ini saya beri judul:

TAKDIR RE-ENGINEERING: MENJADI PRIA SEJATI

 

Saya akan memulai tulisan ini dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan pada halaman sebelumnya.

Sekali lagi: Ini adalah pendapat saya, yang saya harapkan menjadi manfaat bagi Anda.

Namun demikian, ini belum tentu adalah kebenaran sejati, sehingga keputusan tetap berada ditangan Anda untuk menerimanya atau tidak.

 

Apakah TAKDIR itu?

Menurut definisi, TAKDIR adalah keputusan dan misteri Ilahi.
Kalau dalam bahasa Inggris, TAKDIR ditulis DESTINY, yang berasal dari akar kata DESTINE, atau ditentukan sebelumnya.
Namun apakah artinya adalah bahwa kehidupan kita telah ditentukan sebelumnya oleh TUHAN ALLAH secara mutlak? Sehingga kita tidak berhak dan tidak berkuasa mengubah hal apapun?

Tergantung kepercayaan Anda.

  • Ada yang mengajarkan bahwa, TUHAN juga memberikan manusia FREE WILL (kehendak bebas), yang artinya boleh memilih dan melakukan apa saja seperti yang kita kehendaki; sehingga konsekwensi logisnya ialah bahwa baik atau buruk, senang atau susah, adalah tanggung jawab kita sendiri.
  • Ada juga yang mengajarkan bahwa 100% jalan hidup manusia memang sudah ditentukan oleh TUHAN ALLAH, sehingga tidak ada yang bisa mengubahnya, tinggal menjalani saja.

Menurut saya, kedua ajaran ada benarnya dan ada tidak benarnya.
Kalau kita percaya bahwa kitalah “Majikan atas TAKDIR” kita, namun faktanya: kita tidak bisa menjawab (apalagi memilih) kapan kita lahir dan kapan kita mati? Mengapa saya terlahir diketurunan etnis anu, dan bukan etnis anu.

Kalau kita percaya bahwa TUHAN lah yang menentukan semuanya tentang hidup kita, maka hal itu juga terdengar absurd. Jika kita hanya seperti “bidak catur” yang tidak berkuasa hendak melangkah kemana, maka kalah atau menang bukanlah urusan kita! Masuk Sorga atau neraka juga bukan urusan kita! Kita jadi rohaniwan atau jadi penjahat, juga bukan urusan kita!?

Menurut saya, jalan tengah yang paling realistis dan manusiawi adalah:

  • TUHAN bukan menetapkan, melainkan sudah mengetahui (preknowledge) tentang apa yang akan terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Untuk perihal kapan dan mengapa kita lahir; serta kapan dan bagaimana kita mati, itu memang ditetapkan oleh TUHAN; Namun BAGAIMANA KITA HIDUP, itu memerlukan andil dari setiap kita. Manusia yang harus memilih, memutuskan dan bertindak, atas berbagai alternatif yang tersedia; sehingga konsekwensinya menjadi tanggung jawab masing masing, baik ataupun buruk. Diluar konteks itu, biarkan TAKDIR menjadi rahasia dan hak prerogatif TUHAN ALLAH

 

Apakah TAKDIR bisa diubah?

Karena kita tidak tahu TAKDIR kita seperti apa: akan jadi apa kita kelak? Akan menjadi miskin atau kaya? Mati muda atau mati tua?
Maka jawaban atas pertanyaan diatas “BISA SAJA!”
Selama Anda berkesempatan untuk memahami dan melakukan perubahan, maka bisa saja itu merupakan definisi dari proses mengubah TAKDIR

Karena kita tidak tahu pasti tentang “wujud” TAKDIR, maka anggap saja bahwa kita bisa mengubahnya! Ketika kita lakukan, dan kehidupan kita menjadi lebih baik, berarti kita bisa mengubahnya, bukan

Apakah peranan TUHAN ALLAH terhadap TAKDIR setiap manusia?
Saya tidak tahu, karena saya bukan TUHAN ALLAH.
Dari pelajaran agama yang saya anut, dikatakan bahwa sesekali TUHAN campur tangan dalam kehidupan seseorang atau sesuatu kaum; apakah dengan mengangkatnya, ataupun menurunkannya!
Kalau menurut saya, bisa saja TUHAN ALLAH campur tangan, tapi tidak setiap saat, dan tidak kepada setiap manusia. Mungkin kepada orang yang TUHAN berkepentingan untuk memastikan agar “Grand Design” NYA terjadi

Apakah TUHAN ALLAH menetapkan TAKDIR setiap orang menjadi kaya atau miskin, berbahagia atau menderita, sukses atau gagal?

Jawaban atas pertanyaan ini juga tidak tuntas bisa saya jawab.
Kalau kita percaya kepada “Fatalisme”, maka bisa saja jawabannya adalah “Ya”

Dalam beberapa kasus juga pernah kita dengar bahwa orang yang secara manusia dinilai mustahil untuk bisa sukses kaya, atau menjadi pemimpin bangsa misalnya, tapi entah bagaimana toh bisa terjadi!! Kalau bukan campur tangan TUHAN, lantas bagaimana penjelasan logisnya?
Namun dilemmanya juga ada jika kita percaya kepada paham “Predeterminasi”, kok TUHAN ALLAH yang katanya Maha Baik, tega banget menetapkan seseorang terlahir dan hidup untuk menjadi menderita seumur hidup?

Saran saya ialah:

  • Karena kita tidak tahu 100% tentang TAKDIR kita apakah akan kaya atau miskin, sukses atau gagal, bahagia atau menderita…..jalan yang paling aman adalah BERJUANGLAH SEKERAS KERASNYA untuk menjadi sukses kaya bahagia!
  • Jangan perdulikan apakah kelak Anda bisa sukses kaya ataukah tidak; yang penting bertekad keras dan bekerja keras!
  • Jika karena itu Anda sungguh sungguh sukses kaya bahagia, ya sudah, berarti kita anggap TAKDIR Anda bagus!  Namun jika sebaliknya yang terjadi, maka kita anggap TAKDIR Anda buruk.
    TAKDIR baik atau buruk belum bisa dinilai selama kita masih hidup; sebab selama masih hidup berarti masih ada harapan. Nah, kalau sudah mati, baru “game over”

Apakah TUHAN ALLAH Maha Baik dan Maha Kuasa sekaligus?
Kalau menurut ajaran agama, jawabannya adalah “YA!”

Jika “YA”, lantas apa penjelasannya terhadap banyaknya penderitaan, kemiskinan, sakit penyakit, malapetaka?

Kalau Anda hanya jadi pengamat atas penderitaan, mungkin Anda tidak begitu perduli terhadap pertanyaan diatas. Namun jika Anda mengalaminya sendiri, pasti Anda pernah mempertanyakannya:

  • Kalau TUHAN Maha Baik, kok tidak mau menolong? Kalau TUHAN Maha Kuasa, kok tidak mampu menolong? Jadi, TUHAN itu Maha Kuasa tapi tidak Maha Baik, atau IA Maha Baik tapi tidak Maha Kuasa? Kan tidak mungkin ia memiliki sifat keduanya, tapi “do nothing”
  • Kalau menurut saya, seyogyanya TUHAN Maha Kuasa dan Maha Baik sekaligus; sebab jika TUHAN tidak Maha Kuasa, maka IA tidak layak disebut TUHAN, bukankah demikian? Juga tidak layak disebut TUHAN jika tidak Maha Baik!?

Lantas, mengapa IA seolah membiarkan semua keburukan itu terjadi?
Mungkin karena 2 alasan:

  1. TUHAN memberi hak dan tugas bagi manusia untuk membenahi dunia dan sesamanya manusia, agar menjadi “a better place”
  2. TUHAN punya alasan sendiri yang tidak perlu diberitahukan kepada kita

Mengapa banyak orang saleh yang menabur kebaikan malahan mendapat kemalangan, penyakit, kerugian, kemiskinan, penghinaan?
Kalau Anda terbiasa berbuat baik, Anda pasti bisa merasakan kegetiran hati terhadap pertanyaan diatas; karena Anda pasti sudah diajar bahwa “Menabur baik menuai baik”, sehingga Anda kecewa dan bingung ketika menuai yang buruk atas kebaikan yang Anda tabur!
Namun saya perlu meluruskan definisi “menabur kebaikan” dengan “mendapat kemiskinan atau penghinaan”, agar Anda tidak salah paham atau kecewa.

  1. Pertama: Ada perbedaan penghargaan (rewards) dari kehidupan manusia terhadap “kebaikan” dan “kebergunaan”. Ya benar, bahwa manusia pasti senang kepada orang yang baik, dan berbuat baik; namun belum tentu menghormatinya jika miskin atau bodoh. Manusia akan lebih menaruh rasa hormat dan kagum kepada orang yang berguna serta sukses kaya.
  2. Kedua: Tidak ada korelasi adekuat antara “berbuat baik” dengan “menjadi sukses kaya”. Berbuat baik itu masalah moral, masalah karakter. Orang bodoh atau orang pandai bisa berbuat baik. Kalau menjadi sukses kaya diperlukan lebih dari sekedar kebaikan; juga memerlukan determinasi, kecerdasan, kerja keras, persistensi, dan akumulasi investasi; yang sayangnya….. orang yang biasa berbuat baik, belum tentu bisa melakukannya!

 

Jadi saran saya:

  • Teruslah berbuat baik, namun juga kejarlah kebergunaan, kesuksesan dan kekayaan; agar Anda berbahagia dan dihormati dibumi, dan ketika mati mendapat pahala Sorgawi

Mengapa banyak orang yang menabur kejahatan malahan mendapat keberuntungan, kekayaan, kehormatan, kebahagiaan?
Saya tidak tahu persis jawabannya, namun kalau saya amati, orang jahat itu lebih cerdik dibandingkan orang baik.

Karena cerdik, maka mereka bisa melihat peluang, dan bisa memanfaatkan orang; sedangkan orang baik karena naif dan banyak pertimbangan, seringkali terlalu lamban dalam bertindak, dan kehilangan kesempatan

Hal manusiawi lainnya ialah:

  • Manusia melihat hasil, bukan proses.
  • Manusia melihat bukti, fakta, bukan omongan atau janji atau khotbah belaka. Manusia pada dasarnya egois dan materialistis, sehingga tidak perduli harta orang darimana, selama mereka kaya dan berbagi, akan dihormati! Sebaliknya, bagaimanapun baiknya hidup seseorang, jika miskin dan gagal, pasti dicemooh. Bukan hanya oleh orang lain, melainkan juga oleh anggota keluarganya sendiri!
  • Kalau soal berbahagia, itu adalah sikap hati.
  • Kalau kita hidup berkecukupan, serta dihargai, lebih mudah berbahagia, dibandingkan kalau hidup dalam kekurangan dan terpinggirkan

    Apakah manusia bisa merancang ulang TAKDIR nya sendiri, agar menjadi sebagaimana yang dikehendaki?

  • Ya, bisa. Untuk itulah saya mengajak Anda kesini. Jika tidak bisa, untuk apa saya membuang waktu membahas hal ini?

 

Bagaimana cara merancang ulang TAKDIR agar kita bisa menjadi sukses kaya, sehat sejahtera, dan berbahagia?

  • Pertama dan utama ialah bahwa Anda harus percaya bahwa Anda mempunyai TAKDIR untuk sukses kaya bahagia. Jika perlu, program ulang pikiran bawah sadar Anda agar kondusif terhadap kesuksesan dan kekayaan serta kebahagiaan.
  • Kedua: Buat tujuan hidup yang kongkrit dan tertulis tentang hal itu
    Laksanakan sekarang, setahap demi setahap

Konsisten dan persistenlah. NO PAIN NO GAIN!

Sebaiknya miliki Mentor yang akan membantu mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan hidup Anda

Apa indikasinya bahwa TAKDIR seseorang sudah ditetapkan untuk tidak bisa diubah?

Mudah saja: Jika seseorang diberitahu namun tidak mau tahu.
Ketika orang tidak mau berubah, maka jadilah demikian
Ada tertulis di Kitab Suci: “ALLAH tidak merubah nasib sesuatu kaum, sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri”

Menurut saya.. Better is not enough when getting the best is possible!