BERGEGASLAH BERBUAT KEBAJIKAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

BERGEGASLAH BERBUAT KEBAJIKAN

 

You cannot procrastinate doing a kindness, for you never know how soon it will be too late.

Ralph Waldo Emerson

Anda tidak bisa menunda berbuat kebajikan, karena Anda tidak pernah tahu seberapa cepat hal itu menjadi terlambat

Ralph Waldo Emerson

 

Kalau saudara menonton acara televisi DAAI (DAAI TV) maka secara rutin Anda akan mendengar ceramah dari Master Cheng Yen tentang pentingnya semangat ketergesaan untuk berbuat baik, melakukan kebajikan, menolong sesama maupun menyelamatkan bumi.

Saya kagum atas ajaran beliau dan tindakan kongkrit yang dilakukan oleh para relawan Tzu Chi yang tanpa mengenal lelah dan tidak memperdulikan gengsi, bahu membahu melakukan berbagai macam ragam perbuatan baik kongkrit yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai perbuatan hina; seperti misalnya memulung sampah, dan mendaur ulangnya; guna mencapai dua tujuan besar mulia sekaligus yakni “Merubah sampah menjadi emas!”

  1. Pertama: Menyelamatkan bumi dari sampah-sampah seperti limbah plastik, kertas, dan organik. Sebab jika tidak didaur ulang, sampah air minum dalam kemasan misalnya, baru bisa diurai oleh bumi dalam waktu ratusan tahun! Bayangkan, betapa kotor dan celakanya bumi, jika sampah sejenis dibiarkan menumpuk memenuhi bumi!
  2. Kedua, hasil penjualan sampah kepengepul, bisa dipergunakan untuk menolong banyak sekali orang miskin. Hasil penjualan dari sampah itu bisa untuk membangun rumah sakit, sekolahan, apartemen, dsb; yang diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat miskin yang memerlukannya.

 

Bayangkan! Para relawan Tzu Chi yang notabene bukanlah orang miskin, rela menjadi “Pemulung” sampah dan menyumbangkan semua hasil penjualannya untuk kegiatan sosial yayasan.

Sesuai namanya “Yayasan Buddha Tzu Chi”, mayoritas anggotanya adalah orang dengan latar belakang agama Buddha, dan keturunan Tionghoa; namun relawannya bisa terdiri dari orang berbagai etnis, suku dan agama; apalagi masyarakat yang mendapat pertolongan, terdiri dari segala macam orang dengan latar belakang agama atau suku atau etnis yang beragam.

Kalau Anda mengunjungi “Rumah Susun Cinta Kasih” didaerah Kamal Cengkareng Jakarta Barat, Anda bisa melihat bahwa hampir semuanya adalah saudara kita yang semula adalah warga bantaran kali yang digusur dan “dientaskan” oleh Pemerintah.

Mereka ditolong, diberikan rumah susun gratis dan pekerjaan, karena mereka adalah sesama manusia yang perlu ditolong. Tidak ada urusan atau kait mengait dengan agama atau sukunya. Siapa saja! Non diskriminatif! 100% gratis! Tanpa pamrih! Tanpa obligasi apapun!

 

Saudaraku, Pemerintah kita saja yang sesungguhnya harus berprilaku seperti “Ayah” bagi rakyat Indonesia; yang harus paling bertanggung jawab terhadap penanggungan kesengsaraan dan kemiskinan masyarakat Indonesia…..tidak memberikan hal baik seperti yang telah diberikan oleh yayasan Tzu Chi kepada rakyat yang notabene tidak ada urusan atau kepentingannya bagi mereka!

Bahkan pemimpin agama, dimana banyak umatnya yang hidup miskin dan butuh pertolongan, juga seperti tidak perduli. Pemimpin hanya sibuk dengan urusan ritual, dogma dan doktrin serta pengembangan organisasi; dan seperti menutup mata terhadap fakta, realita tentang betapa banyaknya umat yang hidup menderita sengsara tertindih sakit penyakit dan kemiskinan!

Yayasan Tzu Chi yang notabene tidak ada urusannya dengan orang yang berbeda agama dan berbeda suku bahkan etnis, malahan yang berjuang keras tanpa pamrih mengulurkan kasih dan harta; tanpa memandang latar belakang orang yang ditolongnya; dan tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang yang ditolongnya.

Sama sekali tidak ada urusan dengan syiar agama! 100% murni perbuatan kebajikan!

 

Saya bertanya-tanya dalam hati dan dalam pikiran, “MENGAPA TZU CHI MAU DAN MAMPU BERBUAT BANYAK KEBAJIKAN, SEKALIPUN TIDAK MEMBAWA BAWA NAMA TUHAN BARANG SEKALIPUN?”

Dan saya mempertanyakan hal sebaliknya kepada diri saya sendiri dan kepada aktivitas keagamaan yang saya anut, “MENGAPA SAYA DAN AGAMA SAYA YANG BUKA MULUT TUTUP MULUT MENYEBUT NAMA TUHAN YANG MAHABAIK, NAMUN TIDAK MAMPUNYAI PERBUATAN KEBAJIKAN SEPERTI MEREKA?”

 

Sekalipun dengan berat hati dan agak bingung, saya menemukan penyebabnya, yakni:

  • Bahwa ajaran Master Cheng Yen berbeda dengan ajaran agama saya. Bagi agama Buddha, manusia dan menjadi manusia yang utuh sempurna adalah tujuan utama; bahwa berbuat baik dan kebajikan serta kemurahan, termasuk beramal harta, adalah wajib dan berguna untuk kemanusiaan dan kepentingan diri sendiri, sebagai proses penciptaan dan penciptaan ulang nasib baik “Karma” dalam kehidupan sekarang dan mendatang.

 

Itulah sebabnya Master Cheng Yen mengajarkan dan memberikan teladan hidup dengan cara melakukan berbagai macam ragam perbuatan baik dan kebergunaan kepada sebanyak mungkin umat manusia; secepat-cepatnya dan tanpa pamrih.

Bahkan untuk kelangsungan kehidupan dibumi yang harmonis, kita manusia wajib menjaga kelestarian lingkungan, dan sebisanya menyelamatkan bumi dari berbagai dampak kerusakan seperti global warming, dsb.

  • Master Cheng Yen berorientasi kepada kemanusiaan dan manusia; sehingga prioritas utama dan pertama adalah melayani manusia
  • Sedangkan agama saya adalah berorientasi kepada ketuhanan dan TUHAN. Saya diajarkan bahwa yang paling penting dan harus 100% dilakukan adalah urusan menyintai dan taat kepada TUHAN. Yang nomor satu adalah TUHAN dan urusanNYA. Sedangkan manusia adalah nomor sekian setelah urusan TUHAN dan ketuhanan serta agama.

 

Saya juga diajarkan bahwa hidup dan kehidupan dibumi ini hanyalah semu, dan sesaat saja. Kehidupan sesungguhnya adalah kelak diakherat. Dan bumi beserta segala isinya –cepat atau lambat- akan hancur dan dihancurkan oleh TUHAN, dengan istilah “kiamat”. Itulah sebabnya entah ada atau tidak orang yang mengaku saleh dan berorientasi ketuhanan yang perduli terhadap upaya penyelamatan bumi?

Yang saya tahu, setiap kali ada bencana alam akibat global warming dan sejenisnya, orang “saleh” dan “bertuhan” hanya mengatakan, “Kiamat sudah dekat, mari kita bertobat dan percaya TUHAN”. Tidak ada (?) yang berupaya mencegah kehancuran bumi dengan menjaga kelestarian lingkungan! Karena untuk apa dijaga kalau sebentar lagi dihancurkan TUHAN?

 

Saya bukan sedang memuji agama lain dan atau menjelekkan agama saya sendiri, bukan! Saya hanya sedang berupaya introspeksi tentang pengetahuan dan keimanan saya sebagai umat TUHAN sekaligus sebagai anggota masyarakat dan bagian dari kemanusiaan:

  • Apakah ada kekeliruan prioritas yang harus saya perbaiki?
  • Benarkah bahwa manusia dan kemanusiaan itu kalah penting dengan TUHAN dan ketuhanan?
  • Benarkah mengasihi sesama manusia yang kelihatan itu kalah penting dibandingkan mengasihi TUHAN yang tidak kelihatan?
  • Benarkah menolong manusia itu harus dipilih yang seiman, se TUHAN, sedangkan kalau berbeda boleh diabaikan?
  • Benarkah berbuat kebajikan dan beramal uang itu menunggu sampai kualitas kehidupan kita mapan dan sejahtera? Kalau masih bergumul dalam kesusahan tidak perlu berbuat kebajikan?

 

Saya sampai kepada keputusan bahwa, menurut saya:

  • Saya tidak mau perduli apakah saya berdosa atau tidak; apakah saya menyenangkan hati TUHAN atau tidak; apakah saya menyalahi ajaran agama saya atau tidak; apakah saya akan mendapat pahala atau hukuman akherat atau tidak; Pokoknya, saya akan memprioritaskan bahwa kepentingan manusia dan kemanusiaan harus diatas kepentingan agama. Sekurang-kurangnya sejajar, dan tidak boleh lebih rendah atau kurang!
  • Saya tidak percaya bahwa Agama bisa lebih penting dari manusia!? Menurut akal waras saya, agama diciptakan untuk kepentingan manusia; dan bukan manusia untuk kepentingan agama!! Jadi, kalau harus memilih membela agama atau sesama manusia, maka saya akan memilih membela manusia!
  • Berbuat kebajikan dan menolong sesama tidak perlu melihat latar belakang kepercayaan dan etnisnya. Siapa saja, selama namanya manusia, dan membutuhkan pertolongan, serta saya sanggup menolong, maka HARUS LANGSUNG DITOLONG!
  • Tidak boleh ditunda, dan tidak boleh banyak pertimbangan; sebab bisa saja menit kemudian menjadi percuma, terlambat! Jika orang sudah terlanjur mati, maka sekalipun kita ingin menolong, tidak akan bisa membangkitkannya kembali dari kematian, bukan?!
  • Jangan mengharapkan imbalan atau balas budi atau keuntungan apapun dari orang yang kita tolong. Sekali tangan terulur, sekali uang keluar, maka anggap hilang tanpa bekas! Anggap tidak pernah kita lakukan sebelumnya! Kalau kelak TUHAN hendak memperhitungkannya sebagai kebajikan, dan hendak memberikan ganjaran, ya syukur; jika tidak, ya sudah.

 

Kesimpulan dan keputusan ini saya ambil, berdasarkan pertimbangan dan keyakinan saya bahwa TUHAN itu KASIH.

Saya bisa tidak yakin akan kemahakuasaan TUHAN sehingga IA nampak tidak mampu menolong melepaskan manusia dari terjadinya aneka penderitaan dan bencana dikolong langit ini; namun saya tidak bisa percaya kalau TUHAN jahat.

  • Karena yang jahat itu Setan, dan bukan TUHAN.
  • Yang menyiksa manusia itu Setan, bukan TUHAN!
  • Yang menganiaya manusia itu Setan, bukan TUHAN!
  • Yang membunuh manusia itu Setan, bukan TUHAN!
  • Yang senang melihat manusia menderita itu Setan, bukan TUHAN!
  • Yang mengajarkan kebencian itu Setan, bukan TUHAN!
  • Karena TUHAN, maka IA pasti baik, dan harus baik!
  • Karena TUHAN baik, maka IA pasti setuju terhadap perbuatan baik dan kebaikan.

Sekalipun orang yang kita tolong tidak percaya kepada TUHAN yang kita percayai, seyogyanya itu bukanlah persoalan; karena bukankah semua umat manusia diciptakan oleh TUHAN? Berarti siapapun adanya manusia itu, dan atau apapun kepercayaan orang itu, selama ia bernama manusia pasti adalah ciptaan TUHAN dan milik TUHAN, bukankah demikian?

 

Jadi, sebagai SANG MOTIVATOR saya menghimbau kepada diri saya sendiri maupun kepada Anda selaku sahabat dan saudara, mari kita  melakukan berbagai macam kebaikan kepada siapapun tanpa pamrih dan tanpa memperdulikan latar belakang etnis atau agamanya; serta melakukannya SEKARANG! Tidak menunda dan tidak menghemat! Karena menit kemudian mungkin terlambat! Bisa karena orang yang akan kita tolong telah terlanjur meninggal dunia; atau bahkan kitalah yang mendahuluinya?!

Ingat saudaraku, ESOK MUNGKIN TERLAMBAT!!?