BERTERIMA KASIH

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

BERTERIMA KASIH

 

Gratitude is not only the greatest of virtues,

but the parent of all others.

Cicero

Perasaan berterima kasih bukan hanya sifat mulia terbesar,

melainkan juga ayah dari sifat mulia lainnya

Cicero

 

Awalnya saya agak bingung, mengapa Cicero mengatakan bahwa Gratitude adalah induk dari segala sifat luhur. Saya pikir bukankah masih banyak sifat mulia lain yang jauh lebih hebat dibandingkan perasaan berterima kasih; seperti dedikasi, persistensi, determinasi, dan sebagainya; yang telah terbukti mampu melambungkan kesuksesan hidup banyak orang?

Namun ketika saya renungkan lebih mendalam, saya merasa bahwa Cicero benar.

 

Tanpa perasaan berterima kasih, baik kepada sesama manusia, TUHAN, maupun diri sendiri, maka kita akan mudah terombang-ambing dalam kelabilan emosi manusia, bahkan bisa terjerumus kepada prilaku sombong, menindas, penggerutu, penderitaan, bahkan tindak menghalalkan cara untuk mencapai tujuan; yang ujungnya adalah degradasi moral dan kehancuran keluhuran prilaku!

 

Kalau kita mempelajari riwayat kehidupan umat manusia, sejak jaman purba sampai sekarang; baik yang tertulis di kitab suci, buku sejarah, maupun realita kehidupan sehari hari, banyak dari kita yang menjadi orang jahat, orang kejam, orang tidak ingat budi, pengkhianat, orang menderita…… kausa primanya adalah lemahnya perasaan berterima kasih. Atau kalau dalam istilah yang lebih agamis, kita kekurangan perasaan BERSYUKUR!

 

Kekurangan sifat berterima kasih membuat kita menjadi orang yang mudah iri hati, dengki, penggerutu; yang jika dipelihara akan berkembang menjadi prilaku penggosip, pemfitnah, penjegal, dan penjahat!

Ketika kita tidak bisa mensyukuri apa yang telah kita miliki, dan mulai merasa tidak puas dengan apa yang ada pada kita, maka kita mulai menuntut ini dan itu –baik kepada sesama manusia maupun kepada TUHAN-; yang jika belum diperoleh, akan membuat kita merasa menderita dan tidak berbahagia.

 

Selidikilah, mengapa ada orang yang menyalahgunakan jabatannya dan menjadi koruptor? Sumbernya adalah perasaan tidak puas dengan apa yang telah dimilikinya. Perasaan itu bisa timbul dari diri sendiri, maupun dari anggota keluarganya. Ingin mempunyai lebih banyak, dan ingin mendapat pengakuan lebih besar, secepat-cepatnya, dan “at all cost”. Karena tuntutan itu lebih besar dari sumber penghasilan normal, maka dicarilah sumber lain yang tidak wajar, yang salah satunya melalui tindak kejahatan korupsi!

Setelah mempunyai rumah yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, tabungan yang lebih banyak, maka perasaan tidak berterima kasih akan menggiring orang untuk melakukan kejahatan pelengkap lainnya, yakni: mempertahankan kekuasaan; agar semua kemewahan yang telah dimilikinya tidak berkurang, bahkan bisa semakin bertambah.

Melakukan penyuapan dan manipulasi, bahkan “pengenyahan” terhadap siapa saja yang tidak mendukung ambisinya.

 

Prilaku “Dosa akan beranak dosa”, berlaku untuk prilaku kejahatan apa saja; baik korupsi, pemerkosaan, perjinahan, perampokan, pembunuhan, penyembahan berhala, homo seksual, dan sebagainya.

Semua bentuk sifat dan prilaku yang tidak luhur itu bisa terjadi karena tidak adanya perasaan berterima kasih! Tidak ada perasaan bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki!

Ketiadaan perasaan bersyukur membuat kita selalu merasa tidak puas, dan ingin mendapat ini dan itu lainnya, demikian seterusnya; kita hidup didalam pengejaran hal yang sesungguhnya tidak esensial terhadap pembangunan karakter mulia, dan kebergunaan bagi kemanusiaan.

 

Saya menyarankan agar kita sekalian mau dan mampu memiliki dan melakukan perasaan berterima kasih, baik kepada TUHAN maupun kepada orang lain, juga kepada diri kita sendiri.

  • Setiap pagi, ketika kita bangun tidur, ucapkanlah syukur kepada TUHAN bahwa kita masih bisa tidur nyenyak (karena banyak orang yang sulit tidur, insomia)
  • Ucapkanlah syukur jika kita bangun dalam keadaan sehat (karena banyak orang yang bangun dalam keadaan sakit)
  • Ucapkanlah syukur jika mata Anda sakit dan tidak bisa melihat (karena banyak orang yang buta dan tuli sekaligus)
  • Ucapkanlah syukur jika Anda tidak punya uang (karena banyak orang juga tidak punya uang, ditambah sakit badan dan sakit hati, karena merasa diperlakukan tidak adil oleh TUHAN)
  • Ucapkanlah syukur jika tidak punya anak (karena banyak orang yang punya anak kepayahan membesarkannya dengan baik)
  • Ucapkanlah syukur jika mempunyai banyak anak (karena banyak orang yang mandul sekalipun telah berobat kesana kemari)
  • Ucapkanlah syukur jika Anda belum punya jodoh (karena banyak orang yang sudah berumah tangga juga menderita hidupnya, bahkan sudah bercerai lagi)
  • Ucapkanlah syukur jika Anda sudah berumah tangga (karena banyak orang yang kesepian karena tidak mempunyai keluarga)
  • Ucapkanlah syukur atas apa saja yang telah Anda miliki (karena banyak orang yang tidak memiliki apa yang telah Anda miliki)
  • Ucapkanlah syukur atas apa saja yang belum Anda miliki (karena Anda mempunyai kesempatan untuk berjuang, meregangkan kapasitas, agar suatu hari juga memiliki apa yang perlu Anda miliki)

 

Pokoknya, perasaan bersyukur adalah kemauan dan kemampuan untuk melihat dan merasakan sisi baik dari segala sesuatu.

Seperti ada cerita tentang orang yang mengeluh dan merasa menderita serta diperlakukan tidak adil oleh TUHAN, karena saking miskinnya sampai membeli sepatu saja tidak mampu!

Kegetiran hatinya baru sirna, dan berganti perasaan malu dan syukur, ketika suatu hari seorang pemulung yang tidak mempunyai kaki, memberikannya senyum dan sapaan ceria, “Selamat pagi pak, hari yang luarbiasa indah, bukan?”

Hidup ini relatif saudaraku. Kaya miskin, bahagia menderita, juga relatif. Tidak ada yang 100% baik atau buruk. Tidak ada yang sempurna. Marilah kita belajar mensyukuri hidup sekalipun tidak sempurna, dan dalam ketidaksempurnaan kita.

Berjuanglah untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup diri sendiri dan orang lain; boleh sekeras-kerasnya dan sehebat-hebatnya, namun demikian, senantiasalah mengucapkan syukur, terima kasih atas apapun hasilnya; baik kepada TUHAN, orang lain, dan diri sendiri.