AWAKEN THE SPIDERMAN WITHIN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

AWAKEN THE SPIDERMAN WITHIN

 

In great power lies great responsibility

Spiderman

Pada kekuasaan yang besar terletak tanggungjawab yang besar

Spiderman

 

Saya pernah menonton film Spiderman yang mengungkapkan realita menyedihkan tentang kemanusiaan. Pada filem itu Peter Parker jurnalist yang adalah Spiderman merasa frustrasi dan give-up terhadap lingkungannya dan dirinya sendiri sebagai superhero.

Seperti kita saksikan bahwa sebagai Peter, Spiderman adalah orang dengan status sosial biasa saja, bahkan bisa dikategorikan “orang kecil”, yang harus mencari makan dengan cara “pontang panting”. Ketika bekerja sebagai deliveryman di restoran cepat saji pizza, yang menjanjikan bahwa pizza diantar dalam sekian menit, atau gratis!

Nah ketika Peter sedang mengantar pizza, ada terjadi tindak kejahatan dijalanan, sehingga jiwa kepahlawanannya menuntutnya untuk menolong.

Setelah selesai berbuat amal kebaikan, Peter terpaksa tetap menjadi Spiderman agar bisa cepat sampai mengantar pizza pesanan pembeli agar tidak terlambat; namun sayang, sekalipun sudah berjuang keras, tetap saja ia terlambat beberapa menit tiba ditempat pembeli.

Tanpa toleransi, tanpa belas kasihan, konsumen menuntut pizza gratis!

Singkat cerita, karena ulah kepahlawanannya itu Peter “sang Spiderman” dipecat, dan pulang dengan terseok-seok menyeret motornya yang juga telah ringsek.

 

Peter sedih, merasa diperlakukan tidak adil.

Dia juga merasa heran, mengapakah sesamanya manusia yang begitu dikasihinya, dan sudah sering ditolongnya, yang juga telah menyebabkannya terlambat mengantar pizza tepat waktu, kok begitu tega, tidak mempuyai belas kasihan sama sekali terhadap orang lain??! Hhhh…..!?

 

Saudara boleh percaya boleh tidak, walaupun itu bukan filem drama, dan saya bukan orang cengeng, tapi saya menangis.

Saya merasa ikut terluka, beremphati.

Sekalipun itu hanya sepotong dari adegan filem fiksi, namun esensinya adalah realita, yang pahit, dan umum terjadi.

Saya ikut menggelengkan kepala sambil menyeka airmata, dan mendesah, “Hhhhh….. manusia…manusia…., apakah memang begitu sulit menjadi orang baik? Apakah begitu sulit untuk mendapat setitik belas kasihan dan kemurahan dari orang lain setelah memberikan berliter kebaikan? Apakah manusia memang tidak ingat budi? Apakah TUHAN tidak campur tangan memenuhi hukum tabur tuai?”

 

Saya terus menonton, dan menyaksikan adegan bahwa Peter tidak lagi mau menjadi superhero Spiderman. Dia membuang kostumnya ketempat sampah, dan tidak mau lagi mengurusi masyarakat yang berkesusahan dan perlu pertolongan. Dia memilih untuk menjalani kehidupan waras dan mengurus dirinya sendiri saja.

Mungkin Peter berpikir, “EGP, emang gue pikirin!?”

Setelah menjadi orang biasa, hidupnya menjadi enak dan gampang, kuliahnya lancar, bisa santai menikmati hidup; tidak lagi pusing mengurusi orang yang tidak berbudi.

 

Saya bisa memaklumi apa yang dilakukan oleh tokoh Peter: Kekecewaan yang menggunung, kesulitan finansial dan berbagai kegagalan hidup, yang diperoleh sebagai imbalan atas jerih payahnya berbuat kebajikan….

Namun saya merasa prihatin, dan tidak setuju dengan keputusan yang diambilnya: membiarkan kejahatan merajalela, dan tidak perduli terhadap penderitaan yang menimpa banyak orang, padahal ia sanggup menolong menguranginya, jika mau.

Saya paham bahwa Peter kecewa dan putus asa terhadap banyak orang dan peristiwa, namun diantara begitu banyak orang yang “bo liangsim” (bahasa Hokhian untuk orang yang tidak punya hati nurani), bukahkah masih ada segelintir orang yang masih menghargai kemanusiaan?

Mengapa ibaratnya seperti “membuang air mandian bayi beserta bayinya?”

Kalau tidak mampu melayani orang banyak, layani saja orang yang sedikit, yang mau dilayani, dan layak dilayani!?

(bagi orang yang pernah membaca kisah tentang 10 orang kusta yang disembuhkan oleh YESUS; hanya 1 orang yang kembali mengucapkan terima kasih, dan ia bukanlah orang Yahudi; sedangkan 9 orang lainnya yang sebangsa, “nyelonong” saja, tanpa ingat berterima kasih)

 

Sekalipun pada waktu itu saya belum menonton sampai selesai, namun saya yakin bahwa pada akhir adegan Peter pasti “bertobat” dan mau kembali melayani masyarakat sebagai Spiderman; karena saya tahu bahwa untuk setiap orang ada fitrahnya masing-masing.

Kalau orang telah terbiasa menjadi orang baik, bukan perkara gampang untuk tidak perduli terhadap kebajikan, karena telah menjadi refleks. Andaikata akal sehatnya menyuruh berbuat jahat, namun hati nuraninya pasti melarangnya; dan yang menang, selalu hati nurani, karena merupakan “titipan suara TUHAN” .

Benar saja, akhirnya Peter teringat akan perkataan almarhum pamannya, “In great power lies great responsibility”. Karena itu Peter kembali menjadi Spiderman, dan memerangi kejahatan!

 

Saudaraku, mungkin Anda bingung, kenapa Johanes Lim jadi mendongeng tentang filem Spiderman? Apa hubungannya dengan menjadi SANG MOTIVATOR?

Ha ha ha…. sabar saudaraku…, saya hanya tergugah dengan perkataan “Dalam kuasa yang besar terletak tanggung jawab yang besar”, karena sangat inspiratif dan membakar semangat, serta tepat sekali jika mau diterapkan dinegara kita.

 

Sebagaimana kita ketahui dan alami sendiri bahwa kehidupan sebagian besar masyarakat kita sedang sangat mengalami kesusahan, yang kalau ditelusuri, kausa primanya adalah karena masalah finansial.

Kekurangan uang (kemiskinan) menyebabkan orang tidak mampu (POWERLESS) memiliki kualitas kehidupan yang memadai, seperti menyekolahkan anak, berobat, memberi makanan yang bergizi, dsb; sehingga mengakibatkan ekses yang buruk dalam kehidupan masyarakat; juga bagi reputasi bangsa dimata internasional.

Padahal, masih sangat banyak orang yang kaya dan sangat luarbiasa kaya di Indonesia; yang kalau mereka tergugah untuk mengalokasikan sebagian “uang jajannya” sudah bisa membantu mengatasi banyak persoalan!

 

Saran saya bagi saudara dan diri saya sendiri adalah:

  • Ketika kita diberi amanah, diberi penugasan, diberi kemudahan, diberi kuasa, oleh TUHAN; baik sebagai pemimpin bisnis (supervisor, manager, direktur, pengusaha) atau pemimpin pemerintahan (RW, lurah, camat, walikota, bupati, gubernur, menteri, presiden) atau pemimpin rohani (aktivis, penceramah, pemimpin umat), kita tidak melupakan satu hal penting bahwa:
  • Kekuasaan mengikuti tanggungjawab
  • Semakin besar kekuasaan = semakin besar tanggungjawab

Melupakan saja tidak boleh! Apalagi menyalahgunakannya!?

Ingatlah kembali tentang apa yang menjadi janji atau nazar Anda sebelum memiliki kekuasaan; baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada TUHAN?

Apalagi jika Anda pejabat Pemerintah, bukankah saudara mengucapkan sumpah diatas Kitab Suci dan didalam Nama TUHAN?

 

Ketika saudara mengkhianati amanah, dengan tidak mempergunakan kekuasaan untuk kemaslahatan orang banyak –apalagi jika menyalahgunakannya dan atau merugikan orang banyak- maka sesungguhnya, yang rugi adalah diri Anda sendiri! Karena Anda telah mengingkari fitrah ilahi, mengkhianati hati nurani, dan mengecewakan TUHAN yang telah mempercayakan Anda agar bisa menjadi kepanjangan tanganNYA, menjadi saluran rakhmatNYA!

  • Ketika Anda tidak setia pada hal kecil, maka Anda batal diberi amanah yang lebih besar! Anda rugi, bukan?
  • Kerugian kedua adalah: Sekalipun Anda tidak merasa malu kepada orang lain, namun Anda pasti malu kepada diri sendiri, ketika hati nurani mulai bicara dan menuduh, bahwa Anda adalah pengkhianat amanah!?
  • Kerugian ketiga adalah: Hilangnya kesempatan bagi Anda untuk mengamalkan ibadah; untuk mengayomi; untuk membina dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang; untuk menjadi “mitra TUHAN” dibumi!

 

Suatu hari, ketika kekuasaan dan kekayaan telah membuat Anda jenuh, dan atau telah hilang, dan atau ketika Anda tergolek tidak berdaya digerogoti penyakit; apakah gunanya semua kekayaan dan kemegahan yang Anda bela secara “membabi buta”?

Apakah yang tersisa setelah itu?

Hanya perasaan sepi, penyesalan, dan selflessness.

Anda telah mensia-siakan kesempatan monumental, karena melupakan bahwa kekuasaan mengikuti tanggungjawab.

 

Karena itu saudaraku, sebelum hati nurani mengeras, sebelum terlambat, sebelum kesempatan dan kekuasaan menghilang, marilah kita bersama sama kembali menjalani fitrah masing-masing.

Siapapun saudara, apapun status sosial saudara, seberapa besar kekuasaan saudara, mari pergunakanlah dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab.

Senantiasalah memiliki emphati, kepekaan rohani, belas kasihan, kemurahan, dan kebesaran jiwa; dengan menggunakan kekuasaan untuk kebergunaan kemanusiaan yang sebesar-besarnya.

 

Jika saudara pemimpin didunia bisnis, maka taruhlah pekerjaan dan bisnis serta orang orang yang terlibat, didalam hati Anda juga. Pikirkan dan perjuangkan bagaimana cara Anda memberi kontribusi positif agar bisnis dan orang yang berkaitan dengan Anda menjadi jauh lebih baik, lebih cerdas, lebih produktif, dan lebih hebat, dibandingkan sebelum adanya Anda sebagai pemimpin.

  • Jika setiap supervisor bekerja dan berprestasi optimal, maka secara otomatis, prestasi manager bagiannya meningkat, dan berlanjut kekinerja total perusahaan menjadi hebat.
  • Jangan bekerja hanya demi uang atau jabatan, melainkan demi kebergunaan yang optimal, yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelum Anda! Itulah kontribusi manfaat yang monumental!

 

Jika saudara pemimpin pemerintahan, maka ingatlah bahwa sejak semula, status Anda adalah “Abdi Masyarakat”, melayani dan mensejahterakan masyarakat. Anda digaji oleh masyarakat melalui retribusi dan pajak; sehingga bukan hanya layak, melainkan menjadi keharusan bagi saudara untuk melayani dengan sebaik-baiknya!

  • Jangan hanya mengejar dan usaha mempertahankan kekuasaan. Tidak perlu harus menjabat berperiode-periode. Satu periode saja lebih dari cukup, jika dipergunakan dengan benar sesuai amanah rakyat, dan fitrah hati nurani!

Lihatlah masyarakat disekililing Anda, yang miskin, yang sakit, yang menganggur, yang menderita; dan upayakanlah menerapkan program pengenyahan kemiskinan, dengan memberdayakan, mencerdaskan dan memberi peluang berusaha masyarakat.

  • Jika sudah mempunyai anggaran, langsung pergunakan, tidak perlu pikir panjang!
  • Jika belum punya anggaran, ajukan segera keotoritas terkait, dan perjuangkan sampai dikabulkan. Sambil menunggu, ajaklah berbagai kalangan dilingkungan kekuasaan Anda untuk berpartisipasi sebagai donatur atau mitra. Selama program Anda benar dan baik, pasti didukung dengan senang hati! Karena orang “berada” dilingkungan Anda pasti senang dan merasa aman jika masyarakat dipintarkan dan disejahterakan!

 

Jika Anda menjadi pemimpin rohani, maka perdulikan juga kehidupan keseharian umat. Cari tahu apakah mereka telah hidup dengan baik, secara moral maupun sosial. Apakah kehidupan rumahtangga mereka rukun dan sejahtera?

Jika ada umat yang miskin dan menganggur, upayakanlah agar mereka mau mampu mendapat pekerjaan dan penghasilan layak. Perjuangkan agar umat Anda bisa memperoleh akses dan fasilitas untuk pendidikan, sandang dan papan yang layak.

Buat program pensejahteraan umat, dengan mengadakan program pelatihan keterampilan gratis, dan salurkan kedunia usaha, apakah menjadi karyawan ataupun wirausaha. Minta dukungan dari umat yang lebih mampu agar berpartisipasi.

Sebagai manusia kita perlu TUHAN dan pengajarannya, agar bisa menjadi manusia yang berakhlak baik; namun kita juga perlu makan dan karya, sehingga khotbah harus diatur seimbang:

  • Mengajarkan kebenaran, sekaligus kebaikan dan kebergunaan; supaya memungkinkan umat menjadi kaya lahir batin, dunia akherat!

 

Sebagai pemimpin rohani, kita dituntut bukan hanya pandai berkhotbah, melainkan juga harus layak untuk diteladani; menjadi seperti “pohon besar” tempat berteduh dan berlindung bagi umat.

 

Mengubah sedikit apa yang diajarkan oleh Motivator dunia Anthony Robbins dengan “Awaken the giant within”, saya ingin kita sekalian “Awaken the Spiderman within”, agar kita paham bahwa dalam diri kita ada fitrah, panggilan ilahi untuk menjadi yang terbaik, untuk berkuasa, dan menyalurkannya kembali kepada banyak orang; sebab, “In great power lies great responsibility”