JANGAN MENYALAHGUNAKAN KEKUASAAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

JANGAN MENYALAHGUNAKAN KEKUASAAN

 

The highest proof of virtue is to possess boundless power without abusing it.

Lord Macaulay

Bukti tertinggi dari karakter berkualitas hebat adalah sekalipun memiliki kekuasaan besar namun tidak menyalahgunakannya

Lord Macaulay

 

Saya senang mengamati dan mencatat kesan pesan dan prilaku tokoh atau politikus yang vokal mengeritik ketidakpatutan yang terjadi dimasyarakat maupun dipemerintahan, ketika tokoh itu masih berada diluar arena (belum menjabat kekuasaan; hanya sebagai pengamat dan kritikus).

  • Biasanya suara mereka lantang, berani, dan provokatif. Kritikan mereka pedas terhadap budaya dan prilaku koruptif yang terjadi.
  • Bahkan mereka bisa mengerakkan demo massa untuk mengecam maupun menuntut adanya perbaikan atas keadaan koruptif itu.
  • Mereka terkesan saleh
  • Mereka terkesan jujur
  • Mereka terkesan pro rakyat dan pro kebenaran
  • Mereka terkesan seperti malaekat
  • Luar biasa!

 

Karena kesan (image, persepsi) yang berhasil mereka bangun atas diri mereka, maka banyak rakyat percaya kepadanya, serta berharap orang baik seperti itu yang menjabat kekuasaan; agar bangsa dan masyarakat Indonesia menjadi baik dan lebih baik!

Momentum itu ibarat “Pucuk dicinta ulam tiba”; memang dukungan seperti itulah yang telah lama ditunggu.

Maka biasanya, tokoh atau public figure yang vokal itu akan direkrut oleh partai politik dan atau penguasa, agar memberi kesan mereka pro rakyat, dan pro kebenaran.

 

Singkat cerita, maka tokoh yang dulu hanya menjadi kritikus, hanya menjadi pengamat, sekarang menjadi pemain, menjadi pejabat, menjadi penguasa!

Dulu ia mengamati; sekarang ia diamati.

Dulu ia mengkomentari; sekarang ia dikomentari.

Lantas, apakah prinsipnya dan prilakunya akan tetap sama seperti dahulu, ketika belum menjadi penguasa? Apakah ia akan tetap vokal anti penyelewengan dan korupsi?

 

Waktu akan segera membuktikannya, dengan cepat, dan tepat!

Inilah yang bisa saya tangkap:

  • Orang yang ketika belum menjadi “pemain” sangat vokal dan konfrontatif terhadap aktivitas tertentu atau institusi tertentu, entah mengapa menjadi pendiam, ketika telah menjadi “pemain”
  • Ketika dikejar oleh wartawan, atau oleh teman teman aktivis pro kebenaran yang dahulu berjuang bersamanya, ia selalu berusaha menghindar; kalau sampai kepergok, dan tidak bisa berkelit lagi, maka ia hanya menjawab cepat cepat, “Sabar… sabar… teman teman, saya masih mempelajari kasusnya. Kita harus menerapkan azas praduga tak bersalah, jangan main hantam kromo saja. Nanti jika buktinya sudah lengkap, pasti saya kasih kabar”
  • Dari bahasa dan ucapannya saja, sudah terdengar ada perubahan kepentingan. Dahulu ketika masih menjadi kritikus dan aktivis, ia bergaya hakul yakin bahwa KAMI SUDAH PUNYA BUKTI ADANYA PENYIMPANGAN! Namun sekarang, begitu nampak penuh pengertian dan kesabaran, sehingga minta semua pihak sabar, menerapkan azas praduga tak bersalah!?
  • Mengapa orang yang sebelumnya terkesan hebat, kuat, benar, dan idealis, kok mendadak menjadi adem ayem, toleran, dan “seperti macan kertas?” Sesungguhnya itu adalah hal manusiawi dan berlaku universal. Ketika seseorang yang “lurus” harus menghadapi sekelompok orang yang “serong”, maka ia akan kehilangan nyali; minimal akan kehilangan kekuatan! Sekalipun ia adalah Pemimpin tertinggi, apakah gunanya jika perintahnya tidak digubris oleh semua bawahannya? Mau dipecat semuanya? Salah salah dirinyalah yang dipecat!
  • Maka biasanya, orang baik yang berada dikawanan penyamun, akan terpaksa tidak bisa menerapkan apa yang dianggapnya baik. Sampai ia diganti, dan atau sampai ia pensiun, ia tidak bisa memberikan prestasi sebagaimana yang dijanjikannya! Kalau Anda sensitif dan atau mengikuti jalan cerita banyak tokoh idealis yang kemudian menjadi pejabat dan sampai lengsernya tidak menghasilkan prestasi adekuat, Anda sekarang pasti memakluminya

 

Hal tragis yang biasanya terjadi (saya tidak mengatakan pasti terjadi, melainkan biasanya, yang berarti sering, banyak, hampir selalu, namun tidak 100% pasti terjadi) adalah:

  • Orang yang ketika belum menjadi penguasa sangat santer cuap-cuap dan teriak-teriak anti kejahatan, anti kebatilan, anti penyelewengan, anti korupsi; maka ketika mereka menjabat, ketika mereka menjadi penguasa, ketika mereka memiliki kekuasaan untuk membuat sesuatu terjadi…… mulailah nampak wajah aslinya….. (lebih tepatnya, nampak “bulu” aslinya, ternyata ia adalah “serigala berbulu domba”) orang itu ternyata tidak cukup kuat untuk menerima amanah, berkat, dan kekuasaan. Godaan kelimpahan finansial, kehormatan dan kebanggaan, serta kenikmatan lahir batin… membuatnya
  • Dari kekhilafan yang berlanjut, menjadi ketagihan, dan ujungnya menjadi kegilaan. Gila harta, gila kekuasaan, gila hormat!
  • Dari sebelumnya sebagai orang yang meneriakkan anti korupsi; maka setelah menjadi koruptor, ia akan berusaha keras untuk memberangus orang yang menentangnya.

 

Saya belum meriset satu persatu terhadap pelaku penyalahgunaan kekuasaan itu. Saya ingin sekali tahu, apakah motivasi dan latar belakangnya:

  • Mereka menyalahgunakan kekuasaan, karena tidak kuat menghadapi godaan kenikmatan ketika berkuasa; walaupun dalam hati kecilnya mereka merasa bersalah, karena awalnya adalah ingin menegakkan kebenaran dengan kekuasaan yang dimilikinya?
  • Atau sudah sejak awal mereka merancang skenario, ingin menjadi penguasa agar bisa cepat kaya raya; namun dengan strategi pura pura menjadi orang baik; sehingga harus kerja keras membangun image yang sesuai, mengkampanyekan diri secara cerdik, dan menjadi penguasa. Sehingga begitu targetnya tercapai, dengan sesegera mungkin mereka mengeruk kekayaan dan memperkuat posisi agar bisa berkuasa secara awet!?

 

Bagi Anda yang sekarang menjadi aktivis dan atau kritikus pembela kebenaran; yang gemar mengkritik pejabat atau penguasa, karena prilaku mereka terkesan lamban, koruptif dan tidak pro-rakyat… maka saya hanya mengingatkan:

  • Menjadi penguasa itu banyak sekali godaannya; terutama godaan kenikmatan, kekayaan, kehormatan, dan kebanggaan.
  • Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Presiden Republik Indonesia (karena saya belum pernah berurusan dengan hal itu), pastinya sangat luarbiasa dilayani, dimanjakan, dan dihormati oleh banyak orang.
  • Jangankan menjadi Menteri, atau Gubernur; menjadi Walikota saja, pengawalan dan pelayanannya sudah luarbiasa heboh!
  • Jangankan menjadi Direktur Utama, menjadi Direktur BUMN (badan usaha milik negara) saja, rasa hormat dan kebanggaan, serta kemudahan sudah berlimpah ruah.
  • “Ini Indonesia Man!” Penguasa atau Pejabat, akan dilayani bagaikan raja! Dan sebagai manusia, kita sangat luarbiasa sulit untuk tidak merasa senang dan bangga ketika mendapat kehormatan seperti itu; sehingga merasa ketagihan, dan takut kehilangan!

 

Tantangan bagi karakter Anda ialah:

  • Apakah Anda tidak akan menyalahgunakan kekuasaan?
  • Apakah Anda tetap bisa menjaga integritas, kewibawaan, ketegasan, komitmen, dan penuntasan misi menjadi “The Change Agent”?

 

Jika “Ya”, maka itu adalah bukti Anda orang yang berkarakter mulia!