PERAN ORANGTUA TERHADAP “TAKDIR” ANAK

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

PERAN ORANGTUA TERHADAP “TAKDIR” ANAK

 

Parents wonder why the streams are bitter, when they themselves have poisoned the fountain.

John Locke

Orang tua heran mengapa sungainya pahit, padahal mereka sendiri yang telah meracuni sumber mata airnya

John Locke

 

Ada peribahasa kita yang berbunyi, “Jatuhnya buah tidak jauh dari pohonnya”, kalau dalam bahasa Inggris, ada pribahasa yang semakna, “Like father like son”.

Sekalipun setiap manusia -termasuk anak kita-, adalah unik, dan spesial, mempunyai dan membawa talenta yang akan membentuk kapasitas dan kualitas hidup masing masing; namun tetap, sedikit banyak, peranan orang tua terhadap “takdir” anak anaknya adalah cukup besar!

 

Banyak orangtua tidak menyadari –atau kurang perduli- bahwa KETELADANAN hidupnya adalah mutlak penting dan berdampak serius terhadap kehidupan anak anaknya.

Orangtua merasa telah menjadi orangtua yang baik, ketika mereka telah mampu membiayai kehidupan anak anaknya secara layak; telah mengajar dan menghajar anak anaknya agar memiliki prilaku dan kualitas hidup yang baik.

Mereka sering lupa bahwa manusia –apalagi anak- mendengarkan pengajaran kata-kata, namun melakukan apa yang dilihatnya!

Singkat kata: manusia MENIRU PRILAKU, atau MENELADANI orang tuanya.

 

Bagaimanapun indahnya pengajaran dan perkataan orangtuanya, yang akan dituruti oleh anak menjadi perbuatan adalah prilaku orang tuanya!

Jadi, kalau antara pengajaran perkataan dengan keteladanan terjadi perbedaan, maka yang dipilih oleh anak untuk dilakukan adalah perbuatan orang tuanya, dan bukan perkataannya!

 

Itulah sebabnya mengapa orang tua (ayah atau ibu, apalagi jika keduanya) yang merokok, akan memudahkan anak anaknya untuk juga menjadi perokok; sekalipun anak dilarang merokok oleh orangtuanya, serta telah diajarkan tentang berbagai bahaya yang diakibatkan oleh rokok.

Mereka merokok, karena orangtuanya merokok.

 

Hal serupa juga terjadi kepada anak anak koruptor.

Sekalipun sejak bayi mereka telah diajar dan diajak untuk beribadah, belajar agama, dsb; semua khotbah dan ajaran kebaikan itu hanya akan “masuk kuping kanan, keluar telinga kanan!”, tidak mempunyai makna dan dampak sama sekali terhadap keimanan dan perasaan takut akan TUHAN, mengapa?

Karena orangtuanya (yang sesungguhnya menjadi seperti tuhan yang kelihatan, karena yang melahirkan dan merawatnya) memberi contoh bahwa: beribadah dan bertuhan adalah satu hal, sedangkan mencuri atau korupsi adalah satu hal; keduanya tidak ada urusan satu sama lain; agama dan ketuhanan tidak ada korelasi dan relevansinya dengan cara mencari uang; dengan kata lain, pesan mereka adalah: kita boleh saja tetap mencuri dan tetap menjalankan ritual agama.

 

Maka tidak mengherankan jika anak akan tumbuh dengan perasaan tanpa rasa takut akan TUHAN. Menurutnya, TUHAN tidak kelihatan dan tidak melihat –jangan jangan TUHAN sesungguhnya tidak ada- karena buktinya orangtuanya telah menjadi pencuri selama bertahun tahun tanpa mendapat hukuman apapun dari TUHAN.

Anak akan tetap beragama dan beribadah, karena meneladani orangtuanya, sambil melakukan perbuatan amoral, karena meneladani orangtuanya. Wajar, bukan?

 

Orangtua yang bercerai, apalagi kawin cerai; atau kasarnya “tidak menghargai pernikahan sebagai hal kudus”, maka jangan heran jika kelak anak anaknya juga akan gagal dalam pernikahan; bercerai, atau kawin cerai, mengapa?

Karena sama seperti orangtuanya, anak akan tidak menghargai nilai sakral pernikahan!

 

Orangtua yang penjudi, maka akan mudah menjadikan anak anaknya juga gemar berjudi!

Orangtua yang hedonis, gemar pesta pora foya foya, juga akan nyaris otomatis menjadikan anak anaknya berprilaku hedonis!

Orangtua pemabuk; orangtua pemaki dan pemukul; sebutkan apa saja yang sejenis, maka akan dengan mudah diikuti oleh anak anaknya.

Itu semua bukanlah takdir, juga bukan kebetulan.

Itu hanyalah akibat dari perbuatan orangtua yang tidak bisa memberi teladan hidup yang baik dan benar serta berguna, bagi anak anaknya!

 

Karena itu saudaraku, mulai sekarang, ketika mengajar anak, katakanlah, “Mari nak, dengar semua hal baik yang saya ajarkan, dan ikutilah apa yang telah saya lakukan, dengan lebih baik lagi!”

 

PERHATIAN PENTING

BAGI ORANGTUA YANG MEMPUNYAI ANAK PEREMPUAN:

Saudariku, setujukah Anda bahwa mempunyai dan membesarkan anak perempuan jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan anak laki?

Apalagi dijaman edan seperti sekarang ini!

Sudah biasa terdengar dan terjadi, anak perempuan baru kelas SMP sudah berpacaran, sudah “diobok-obok” oleh teman sekelasnya yang “masih bau leher”. Juga sudah biasa bahwa anak perempuan belasan tahun sudah “buka warung” menjajakan diri, baik secara profesional “just for money” maupun amatiran “just for fun”.

Kalau remaja perempuan itu masih bodoh, maka akan terjadi kehamilan diluar nikah, atau juga pernikahan dini.

Kalau remaja perempuan itu lumayan licik, maka segala “keliarannya” tidak mudah terdeteksi, karena menggunakan alat kontrasepsi. Baru ketahuan jika body nya sudah “rusak”, masih muda tapi sudah nampak “kematangan”!

 

Prilaku yang umum terjadi, dan dibiarkan terjadi adalah BERPAKAIAN MINIM atau berpenampilan sensual.

Orangtua pikir itu adalah style, gaya hidup kota besar, sehingga jangan dilarang, takut anak perempuannya dikatain kuno.

Namun JOHANES LIM MEMPERINGATKAN ANDA: CEGAH, DAN ATASI SEJAK DINI!

Jangan ijinkan anak perempuan Anda berpakaian dan atau berprilaku sensual, apalagi kalau sampai mengesankan “kegatelan”, karena itu adalah awal malapetaka! Banyaknya organ vital yang dipamerkan, akan memberikan “Pengumuman” kepada kaum pria bahwa, “HAYOO SIAPA MAU? SIAPA NGILER? SILAHKAN ICIP ICIP!”

Kalau bahasa kasarnya, perempuan model itu dinamakan, “Murahan!”

Mengapa dibilang murahan? Karena memang murahan! Perempuan seperti itu layak dicap murahan, karena ia TIDAK MENGHARGAI DIRINYA SENDIRI SECARA PATUT!

Karena ia tidak menghargai dirinya, bagaimana mungkin mengharapkan orang (pria) menghargai dirinya? Pria mendekatinya, memacarinya, bukan karena cinta, melainkan karena NAFSU!

Perhatikan 1:

  • Perempuan model itu, pada hari pertama dipacarin, akan segera “diacak-acak” oleh pria yang baru menjadi pacarnya; bukan lagi “diicip icip” melainkan langsung “dilahap”. Dan karena perempuannya mau, maka terjadilah hubungan yang dalam agama dinamakan “jinah”, berdosa!

 

Perhatikan 2:

  • Dalam banyak kasus, hubungan seperti itu tidak akan berakhir dipernikahan serius. Bagaimanapun si perempuan merengek-rengek minta dinikahi, si pria pasti mengeluarkan banyak “jurus alasan” agar menundanya, atau tidak menikahinya.
  • Kalau dimungkinkan, akan diatur cara tertentu supaya tidak dianggap “berjinah” oleh agama, dan juga untuk menenteramkan hati nurani, serta untuk “membungkam” mulut si perempuan.
  • Kalau si pria dipaksa menikah sungguhan, maka biasanya berakhir dengan perpisahan! Mengapa demikian?
  • Karena “APA POINTNYA” bagi si pria untuk repot-repot dan membuang uang untuk menikahi perempuan seperti itu? Mau “malam pertama?” He he he… kan sudah habis malam pertamanya?!
  • Kilah pria itu, “Lho boleh makan sate gratisan, kenapa harus beli kambingnya?!”

 

Perhatikan 3:

  • Perempuan murahan, hanya akan mendapatkan pria brengsek!
  • Tidak mungkin ada pria terhormat (gentleman) yang mau mendekatinya; bukan karena ia kurang cantik, BUKAN! Tapi pria terhormat merasa malu jika berpasangan dengan perempuan yang terkesan murahan! Istilahnya, “NGGAK LEVEL!”

 

Perhatikan 4:

  • Sekalipun hubungan pacaran itu sampai mengakibatkan kehamilan, belum tentu si pria mau bertanggung jawab menikahinya! Mengapa? Karena si pria keberatan dan ber syak wasangka, “Emangnya itu anak gue? Siapa tau itu anak si Polan atau si Anu?! Masak makan nangka barengan kok yang harus nanggung getahnya gue doang!?”
  • Apakah perempuan tidak sakit hati jika pacarnya berkata seperti itu?
  • Namun itu masih dalam koridor “normal”, karena pria “brengsek” pasti mencurigai perempuan “murahan”, pikirnya, “Kalau gue bisa dengan gampang melahapnya, masak iya dia enggak dilahap oleh yang lain juga?!”

 

Orangtua biasanya berkelit dengan mengatakan bahwa “Kami sudah menasehatinya berkali-kali, agar jadi perempuan itu jangan murahan, harus bisa menjaga diri!”

Namun pertanyaannya:

  • Apakah Anda sebagai ibu, telah menunjukkan nasehat Anda dengan PRILAKU? Apakah TELADAN HIDUP Anda juga mencerminkan kepribadian wanita terhormat?
  • Dalam banyak kasus, anak perempuan itu meniru prilaku ibunya! Mengapa ia berpakaian seronok? Karena ibunya juga berpakaian seronok!

Sang ibu biasanya berkilah ketika ditegur tentang caranya berpakaian, “Aahh.. saya kan sudah kawin, sudah jadi istri orang, bahkan sudah jadi ibu! Kelihatan dikit kan nggak persoalan!? Beda dengan anak gadis, harus jaga diri!”

 

HUA HA HAAA…..! Saya tertawa ngakak, geli, campur jengkel!

Hati hati bu…. anak tidak menurut kepada perkataan, melainkan perbuatan!

 

  • Kalau anak melihat ibunya sering pamer paha atau pamer dada, bagaimana mungkin Anda mengharapkannya menutup aurat?
  • Kedua, JANGAN pernah mendandani anak perempuan Anda –sekalipun masih kecil- dengan pakaian yang seksi! Sekalipun masih anak-anak, sekalipun badannya masih rata, tapi JANGAN MENGENAKAN PAKAIAN YANG SERONOK! Mengapa?
    • Pertama, membuatnya terkesan bahwa pakaian yang “kurang bahan” seperti ini adalah biasa, dan boleh dipakainya. Dan itu akan dilakukannya sampai remaja bahkan dewasa
    • Kedua, ingat, anak kecilpun ada yang mau memangsa, yakni pengidap Pedophilia, jadi JANGAN MENCARI GARA GARA!

 

Perhatikan 5:

  • Maraknya ABG (anak baru gede) perempuan yang “menjajakan diri” juga banyak yang diakibatkan karena keperawanannya sudah hilang, dilahap oleh pacar, atau pacar-pacarnya!
  • Menurutnya, disetubuhi oleh pacarnya atau oleh siapa saja, pada prinsipnya kan tidak ada pengaruhnya terhadap badan maupun mentalnya, bahkan spiritualnya: sama sama berdosa!
  • Bedanya, kalau sama pacar, dia tidak mendapat bayaran, alias gratisan!
  • Sedangkan kalau sama orang lain, kan mendapat bayaran, minimal mendapat barang belanjaan! Jadi, kenapa nggak diobyekin untuk mencari uang sekalian? Itulah pikiran mereka yang telah tersesat.

 

Saran tambahan dari Johanes Lim:

  1. Jika Anda penganut agama Islam, maka biasakanlah anak perempuan Anda untuk mengenakan pakaian muslimah, sejak dari bayi, agar sampai dewasa ia akan terbiasa tumbuh menjadi perempuan terhormat, yang menghargai tubuhnya sendiri
  2. Jika Anda non-Muslim, maka aturlah agar anak perempuan Anda terbiasa mengenakan pakaian yang sopan, yang tidak mengumbar auratnya
  3. Jika Anda Kristiani, bekalilah anak perempuan Anda dengan pengetahuan dan kepercayaan bahwa, “Tubuhnya adalah Bait TUHAN, bahwa tubuhnya bukan miliknya sendiri lagi, melainkan milik TUHAN; sehingga ia wajib memelihara dan menghormati kekudusannya!”
  4. Beritahukan anak perempuan Anda bahwa, sekalipun hidup dijaman yang sudah maju, modern, dan dikota besar, jangan pernah lupa bahwa MENJAGA KEKUDUSAN DAN KEPERAWANAN TETAPLAH MUTLAK VITAL! Tidak boleh dilanggar! Bukan melulu demi kepentingan agama, namun yang lebih kongkrit adalah DEMI KEHORMATAN DAN HARGA DIRI ANDA SENDIRI! Kalau Anda “membandrol” harga diri Anda mahal, memang akan dijauhi oleh pria “kacangan” dan juga oleh pria brengsek; namun akan dikejar oleh pria terhormat
  5. Kalau ada teman atau siapapun juga yang mengatakan atau meledeknya bahwa “Kalau perempuan masih perawan adalah kuno, basi, nggak laku!” maka JAUHILAH MEREKA! Mereka bukan orang terhormat! Kalau mereka wanita, pasti sudah “reject”, sehingga supaya tidak malu sendirian, mereka akan menyeret banyak teman untuk mengikutinya, “berkubang dilumpur”!
  • Kalau mereka adalah pria atau bahkan pacar Anda yang merayu dan setengah memaksa agar Anda mau digaulinya, maka JAUHILAH DIA! Kalau pacar, PUTUSKANLAH! Dia bukan pria yang pantas bagi Anda! Dia tidak menyintai Anda! Dia hanya mau menikmati kemolekan tubuh Anda! Dan kalau sudah “kenyang” pasti Anda ditinggalkan!
  • Kalau pria itu sungguh menyintai Anda, maka buktinya adalah bahwa ia menghormati Anda! Kalau ia ingin menyunting Anda sebagai istri –dan bukan sekedar pacar untuk having fun– maka ia akan bersedia sabar, menunggu sampai malam pengantin, sampai pernikahan sah dan diberkati, baru dinikmati bersama-sama, sebagai pernikahan dan hubungan intim yang kudus!