YANG TERPENTING ADALAH KEBERGUNAAN, HASIL

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

YANG TERPENTING ADALAH KEBERGUNAAN, HASIL

 

As a businessman, we should not be confused between kindness and usefulness. No matter how sweet your smiles are, what count is the result of your performance.

Johanes Lim

Sebagai Pebisnis, kita tidak boleh dibingungkan antara kebaikan dan kebergunaan. Tidak perduli berapa manis senyuman kita, yang diperhitungkan adalah hasil dari kinerja kita

Johanes Lim

 

 

Pebisnis adalah manusia juga, yang bisa bingung, dan bisa salah mengambil keputusan ataupun mengambil tindakan.

Ketika mengelola karyawan, kita selaku Pebisnis sering dikacaukan penilaiannya terhadap kinerja dan kompensasi karyawan; bukan menilai dan menghargai berdasarkan hasil kongkrit yang kuantitatif, melainkan berdasarkan persepsi kualitatif terhadap sifat, prilaku, dan hubungan interrelasi karyawan terhadap kita!

 

Sebagai atasan, sebagai boss, kita seringkali terperdaya oleh emosi dan persepsi kita.

Kita lebih menyukai dan lebih menghargai karyawan yang menyenangkan, yang hormat, yang “jinak” terhadap kita, sekalipun sesungguhnya kinerjanya biasa biasa saja, bahkan banyak yang buruk.

Kita merasa tidak senang, tidak mempunyai kesan baik, serta tidak bersedia menghargai, kepada karyawan yang secara emosi kurang menyenangkan kita; apakah kurang senyum, apakah kurang nurut, apakah terlalu berani memberikan kritikan dan saran; sekalipun sebenarnya karyawan model itu lebih banyak yang berprestasi.

 

Kita seperti dibutakan, sehingga sering mengambil keputusan yang salah: menghargai (mempromosikan) karyawan bodoh yang baik dan menyenangkan; dan tidak menghargai (mempromosikan) karyawan cerdas berprestasi karena sifatnya tidak menyenangkan kita.

Akibatnya fatal!

Orang bodoh berkuasa dan membawahi orang pandai, maka ibarat berusaha mencampur air dengan minyak!

Pasti terjadi perselisihan terus menerus, sampai salah satu pihak hilang!

  • Biasanya orang pandai yang teraniaya, akan hengkang!
  • Biasanya ketika orang bodoh menjadi pemimpin, akan berusaha agar dirinyalah yang tampil paling hebat…… dengan cara menggusur semua orang yang lebih hebat, dan menggantikannya dengan orang yang lebih payah dari dirinya.
  • Sibodoh melakukan itu bukanlah hal jahat, melainkan sangat manusiawi. Dia ingin merasa aman, merasa superior, tak tergoyahkan. Dia menjadi “Raja bermata satu, diantara orang buta!”

 

Yang keliru dan yang –maaf-, agak bodoh adalah kita selaku pemimpin yang salah menilai dan menghargai orang!

Perusahaan akan semakin kusut, morat marit kinerjanya, karena ditinggal pergi karyawan hebat, dan dirasuki oleh karyawan payah!

Kalau sudah seperti itu, apakah yang bisa Anda perbuat selaku pemimpin bisnis?

BERTOBATLAH!

Ha ha ha… maksud saya, sadarilah kekeliruan manusiawi Anda yang terpesona kepada senyuman karyawan marginal, dibandingkan prilaku kritis karyawan hebat.

Dan berubahlah!

Ambil langkah kongkrit, dan terintegrasi, serta berkesinambungan.

Latih dan binalah motivasi dan kompetensi karyawan, agar menjadi orang yang baik, menyenangkan, namun pandai, dan berprestasi.

Bagi yang tidak mau, atau tidak mampu, sekalipun telah di BINA berulang kali, maka, mohon maaf…. BINA SAKANLAH mereka! Pecat dan gantikanlah “tumpukan sayur” itu dengan orang yang mau dan mampu produktif dan berprestasi!

 

Ketika merancang strategi dan program keunggulan bersaing, kita juga sering salah kaprah, menganggap “Pelayanan, Customer Service” seperti senyuman, keramahtamahan, adalah keunggulan primer; sehingga diexpose dan diharapkan pelanggan meresponi dengan senang, dan membeli lebih sering, berkelanjutan.

Padahal, esensi bisnis bukan itu!

Motivasi dan persepsi pembeli terhadap keunggulan manfaat, bukan itu!

  • Jika Anda berbisnis makanan atau minuman, misalnya, maka yang mutlak dituntut oleh konsumen, bukanlah keramahan atau senyuman manis karyawan Anda! Juga bukan keindahan dekorasi ruangan restoran Anda! Juga bukan kesejukan dan keharuman ruangan Anda! Juga bukan kecepatan menghidangkan makanan dan minuman yang dipesan! Bahkan bukan harga makanan Anda!

BUKAN!!

  • Kalau Anda berbisnis makanan, maka yang dituntut pertama-tama dan yang utama oleh konsumen adalah: RASA DAN KENIKMATAN MASAKAN ANDA!!

Jika rasa makanan Anda tidak enak, atau tidak cocok dilidah konsumen, maka segala macam kehebatan pelayanan yang Anda berikan diatas, TIDAK ADA GUNANYA LAGI!

Konsumen tidak akan kembali makan direstoran Anda!

Mengapa? Karena rasa masakan Anda tidak enak! Tidak cocok!

 

Kalau rasa masakan Anda enak, atau cocok dilidah konsumen, maka sekalipun Anda tidak memberikan segala extra pelayanan diatas -bahkan sekalipun orang harus mengantri menunggu giliran-, orang bersedia melakukannya!

Mengapa? Karena mereka ketagihan enaknya masakan Anda!!

Nah……. kalau Anda mau hebat, mau menjadi market leader, mau bisnisnya berkembang cepat luar biasa gila gilaan…… maka selain rasa yang enak, tambahkan dengan extra benefits seperti yang tercantum diatas; maka itulah yang namanya phenomenal! Unbeatable!

 

Bisa menangkap maksud saya?

Kita harus mengutamakan manfaat, kebergunaan, diatas segala hal.

Setelah itu tercapai, barulah memikirkan pemberian extra manfaat sekunder, agar apa yang kita berikan mengagumkan!

Ibaratnya ialah:

  • Garam harus asin. Gula harus manis. Karyawan harus produktif. Bisnis harus profit.
  • Kalau garam tidak asin, atau gula tidak manis, atau karyawan tidak produktif, atau bisnis tidak profit; maka telah menyalahi kodratnya, tidak ada gunanya, sehingga harus dibuang!!