MENJADI PRIA SEJATI

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

MENJADI PRIA SEJATI

 

My Father taught me a teaching from anonym, how to be a man – and not by implanting in me a sense of machismo or an agenda of dominance. He taught me that a real man doesn’t take, he gives; he doesn’t use force, he uses logic; doesn’t play the role of trouble-maker, but rather, trouble-shooter; and most importantly, a real man is defined by his merits to the society.

Johanes Lim

Ayah saya mengajarkan pelajaran yang dikutip dari anonim, tentang cara menjadi pria sejati – bukan dengan menanamkan agar menjadi macho, atau agenda untuk mendominasi. Ia mengajarkan saya bahwa pria sejati bukan mengambil, melainkan memberi; tidak menggunakan kekuatan paksa, melainkan logika; tidak menjadi pembuat onar, melainkan pemecah persoalan; dan yang terlebih penting ialah, pria sejati ditentukan oleh kebergunaannya kepada masyarakat

Johanes Lim

 

Dulu, ketika saya masih remaja, saya pernah mendengar ajaran dari teman teman sebaya saya tentang menjadi “Pria Sejati”, yang kira kira konotasinya adalah “Jangan kayak banci! Jangan pengecut! Jangan sok suci!”

Salah satu akibat dari pengajaran ngawur dari teman teman sebaya saya ialah: saya belajar merokok! Karena kata mereka, kalau pria tidak merokok, bukan pria sejati, seperti banci! (ha ha ha… padahal banci kan banyak yang merokok juga, kok tetap dikatakan banci?)

Saya juga belajar berkelahi, karena kata mereka, kalau pria tidak suka berkelahi, bukan sejati!

Saya juga belajar kebut-kebutan motor dengan knalpot yang dibuka saringannya, sehingga suaranya meraung raung memekakkan telinga; karena kata mereka, pria sejati itu harus tampil jantan, kasar, dan macho!

 

Saya baru menyadari kekeliruan itu, ketika ayah saya memberikan pelajaran tentang menjadi “Pria Sejati”, bahwa

  • Menjadi pria sejati itu adalah menjadi orang yang bertanggung jawab; menjadi orang yang tegas namun lembut; menjadi proklamator dan penjaga kebenaran, sekalipun akan dibenci dan difitnah oleh banyak orang; menjadi pengayom dan pelindung bagi yang lebih lemah; tidak pamer kekuatan, kepandaian ataupun kekayaan, melainkan menerapkan “ilmu padi” makin merunduk ketika berisi; gemar belajar dan mengajar, tanpa merasa telah menjadi pandai; hidup untuk memperjuangkan dan mengamalkan kebergunaan dan kebaikan bagi banyak orang, seperti “pohon pisang yang pantang mati sebelum berbuah”; mau dan mampu menguasai diri sendiri dalam segala hal, dan dalam segala kondisi, tanpa alasan; toleran dan beremphati kepada minoritas maupun mayoritas

 

Saya tahu bahwa banyak teman teman saya yang salah kaprah dengan arti menjadi “Pria Sejati” dengan menjadi “Pria Kasar”.

Pria yang bertabiat dan berprilaku kasar, ugal-ugalan, bukanlah pria sejati, melainkan pria lemah!

Apalagi kalau sampai pria berkelahi dengan wanita; apalagi kalau sampai pria memukul wanita yang adalah kekasih atau istrinya, dengan alasan apapun, ia bukanlah pria sejati, melainkan BUKAN PRIA!

Tugas pria sejati adalah menjadi “Imam”, menjadi “Lokomotif”, menjadi “The Change Agent” didalam rumah tangganya, dan didalam kehidupan bermasyarakat.

Merubah hidup orang agar bermakna, melalui keteladanan dan pemberdayaan yang konsisten dan konsekwen

Ibarat pohon, pria sejati adalah pohon besar, tempat berlindung dan berteduh bagi makhluk lain yang membutuhkannya.

 

Sebaliknya, pria yang kasar, beringasan, arogan, sok jago, sok pamer, bukanlah pria sejati, melainkan pria sakit!

Ada perasaan rendah diri (inferiority complex) yang dimanifestasikan menjadi tindakan “show of force”; ibaratnya “Tong kosong nyaring bunyinya”, atau “Air beriak tanda tak dalam”

 

Karena itu sahabatku, marilah menjadi “Pria Sejati” untuk memenuhi  fitrah kita, menjadi berguna, menjadi rakhmat, menjadi berkat, bagi banyak orang