TETAP TEGAR MENGHADAPI KESULITAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

TETAP TEGAR MENGHADAPI KESULITAN

 

I am responsible. Although I may not be able to prevent the worst from happening, I am responsible for my attitude toward the inevitable misfortunes that darken life. Bad things do happen; how I respond to them defines my character and the quality of my life. I can choose to sit in perpetual sadness, immobilized by the gravity of my loss, or I can choose to rise from the pain and treasure the most precious gift I have – life itself.

Walter Anderson

Saya bertanggung jawab. Sekalipun saya tidak bisa mencegah hal buruk untuk terjadi, namun saya bertanggung jawab terhadap prilaku saya dalam menghadapi musibah yang menimpa. Hal buruk bisa terjadi, namun bagaimana cara saya meresponi musibah menentukan karakter dan kualitas hidup saya. Saya bisa memilih untuk duduk diam terus bersedih, dan menyesali kehilangan; atau saya bisa memilih untuk bangkit dari perasaan sakit, dan menghargai hadiah paling berharga yang saya miliki, yakni kehidupan itu sendiri

Walter Anderson

 

 

Saya percaya bahwa hidup itu tidak seindah puisi.

Bagaimanapun positifnya kita berpikir dan menjalani hidup, namun tetap saja hari hari malang dan menyedihkan bisa terjadi. Musibah dan kecelakaan serta kerugian bisa terjadi, menimpa kita, orang orang yang selalu berjuang untuk kebaikan, kebergunaan, kemuliaan, kehormatan!

Saya sangat paham dan beremphati terhadap kenyataan itu.

Johanes Lim saja yang telah terbiasa dan terencana menggembleng hidupnya lahir batin; agar menjadi orang yang kuat; agar menjadi orang yang bisa menguatkan orang lain; bahkan yang sekarang sedang membagi metode dan program agar banyak orang menjadi SANG MOTIVATOR; tidak terlepas dari berbagai macam pencobaan, kesulitan, penderitaan, dan musibah!

Bukan saya mau!

Bukan saya tidak mengantisipasi!

Bukan saya yang mencarinya!

Bukan saya tidak berdoa!

Namun tetap, hari buruk bisa datang. Musibah dan kerugian bisa datang. Fitnahan bisa datang. Penyakit bisa datang. Kesedihan bisa datang!

Apalagi bagi hidup kebanyakan orang yang tidak siap?!

 

Sampai hari ini, saya masih sering bertanya tanya, baik kepada diri sendiri, kepada orang yang lebih bijaksana dari saya, dan kepada TUHAN:

“Mengapa hal buruk tetap bisa menimpa orang orang baik?”

“Mengapa TUHAN tidak melindungi dan melepaskan umatNYA dari musibah?”

Karena saya belum mendapat jawaban memuaskan, maka sampai hari ini saya juga tidak bisa memberi jawaban memuaskan kepada orang yang menanyakan hal itu.

Yang bisa saya lakukan dan ajarkan adalah:

  • Jika datangnya musibah bukan karena kelalaian dan kesalahan diri sendiri, maka tidak perlu bertanya mengapa musibah terjadi?!
  • Yang harus kita lakukan adalah, bagaimana cara kita mengelola musibah ketika itu menimpa hidup kita?
  • Kita punya pilihan, dan harus memilih: Merasa kecewa, bersedih, terpukul, mengasihani diri, merasa trauma dan depresi, menyalahkan orang lain dan TUHAN, dan kemudian hidup tanpa semangat dan makna sampai musibah lain menimpa atau sampai ajal menjemput?
  • Atau kita bisa kembali bangkit setelah jatuh terjerembab? Menghapus air mata kesedihan dan menggantikannya dengan harapan? Kita kembali bekerja dan berjuang sambil percaya bahwa, “Pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa, yang tidak melampaui kekuatan kita; sebab TUHAN adil dan baik, yang memberikan kita kekuatan agar bisa menanggungnya!”

 

Saya adalah manusia biasa, yang bisa merasa sakit, sedih, kecewa, dan bahkan frustrasi; apalagi ketika mengalami kesukaran yang besar dan bertubi-tubi serta nampaknya tidak ada jalan keluar; namun sampai hari ini, Johanes Lim tetap memilih dan mengambil opsi kedua, yakni:

  1. Menerima musibah apa adanya, sebagai bagian dari hidup yang tidak terhindari, kemudian mengelolanya agar ada hikmah yang bisa dimanfaatkan; berusaha keras untuk mengatasinya secepat mungkin; kemudian mengantisipasinya agar kesulitan serupa tidak terjadi berulang dikemudian hari
  2. Saya juga meminta kekuatan dari TUHAN agar, pertama, saya tidak bersungut sungut kepadaNYA; dan kedua, agar saya mempunyai kekuatan dan motivasi yang lebih besar dari segala kesulitan yang terjadi, sehingga saya mampu mengatasinya

 

Dengan prilaku itu, sampai hari ini, kesukaran dan musibah telah membuat Johanes Lim menjadi lebih kuat dari sebelumnya; serta memberi saya perasaan belas kasihan dan keperdulian kepada orang lain, yang saya yakin pasti juga sering menderita kesukaran dan musibah.

Saya bisa memotivasi diri saya sendiri agar bisa tetap hidup senang, penuh ucapan syukur dan bermakna, sekalipun hidup berdampingan dengan kesukaran, penderitaan, bahkan musibah.

Dan saya juga mau dan mampu memotivasi orang lain agar juga bisa mengelola hidup dengan baik.

Serta sedang berusaha agar orang yang saya motivasi, bisa menjadi SANG MOTIVATOR, yakni mau dan mampu memotivasi dirinya sendiri dan orang lain

 

Salah satu andil besar mengapa Johanes Lim menulis buku SANG MOTIVATOR ini, adalah berasal dari kesulitan, kesedihan, kerugian, dan musibah; yang sering menimpa, namun yang telah saya kelola dan ambil manfaatnya, menjadi kebaikan, dan kekuatan.

 

Jadi saudaraku, tidak perlu gentar menghadapi kesulitan; dan tidak perlu takut menghadapi bencana.

Selama masih ada hidup, masih ada harapan.

Bangkit secepat-cepatnya, dan kembali berjuang mewujudkan impian, menjadi orang sukses kaya, yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan banyak orang, serta bagi kemuliaan TUHAN!