JAM KARET

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

“JAM KARET”

 

I could never think well of a man’s intellectual or moral character, if he was habitually unfaithful to his appointments.

Nathaniel Emmons

Saya tidak pernah bisa berpikir baik terhadap intelektual dan karakter moral seseorang, jika ia mempunyai kebiasaan yang tidak menepati janjinya

Nathaniel Emmons

 

 

Saya yakin bahwa Anda sudah tidak asing dengan istilah “Jam Karet”, atau kebiasaan terlambat.

Bahkan banyak orang percaya bahwa “Jam Karet” telah menjadi budaya bangsa kita, sehingga jika kita ingin acara tertentu dilaksanakan Pk.10.00, maka kita harus memberitahu kepada hadirin agar datang Pk.09.00.

Karena biasanya orang akan “Ngaret”, datang terlambat, maka ketika banyak orang datang Pk.09.45, “It’s still okay, under estimation, bravo!”

Meskipun jengkel, namun banyak dari kita yang menganggap bahwa prilaku “Ngaret” sebagai hal yang “apa boleh buat, dan apa adanya”, sehingga tidak ngamuk, bahkan ikut-ikutan “ngaret”!

Dan itu dilakukan oleh banyak orang, tanpa merasa malu, dan tanpa merasa bersalah, karena katanya, “Toh hampir semua orang melakukannya?!”

 

Dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan satu berita buruk saudaraku, berkenaan dengan prilaku “Ngaret” atau yang sejenisnya, bahwa:

  1. “Ngaret” adalah perbuatan tercela! Perbuatan memalukan! Pertanda pelakunya adalah orang yang tidak bertanggung jawab! Tidak dewasa! Tidak mempunyai jiwa ksatria! Pendusta! Tidak layak dipercaya!
  2. Orang yang “ngaret” sama dengan orang yang tidak disiplin; pertanda ada “something wrong, sakit” pada sikap mentalnya sehingga berprilaku seperti itu. Ia arogan, egois, memandang rendah dan tidak menghargai orang lain!

 

Jika Anda merasa saya agak berlebihan ketika “memaki” orang yang “ngaret” dan tidak disiplin, sebagai orang yang “sakit”, maka saya ingin Anda merenungkan:

  • Apakah salah jika saya katakan mereka itu tidak bertanggung jawab, dan memandang rendah orang lain?
  • Jika bukan begitu, lantas mengapa mereka tidak menepati janjinya untuk datang on-time? Mengapa mereka membiarkan orang menunggu begitu lama? Mengapa ia tidak menghargai waktu orang lain? Mengapa mereka tidak menjaga komitmen? Mengapa ia ingkar janji? Kasarnya, mengapa mereka berdusta?!
  • Kalau orang itu bertanggung jawab, maka “Sekali ludah keluar, pantang dijilat kembali!”; sekali berjanji “Saya akan datang jam 9”, maka apapun yang terjadi, ia harus datang jam 9!
  • Janji = hutang, harus ditepati, harus dibayar. Jika ingkar, namanya wanprestasi. Jika bersikeras ingkar, namanya pendusta, penipu!

 

Saya marah kepada orang yang ingkar janji terhadap waktu atau pertemuan, karena mereka telah bersalah, telah merugikan waktu dan harga diri orang lain, tapi tidak merasa bersalah!

Sifat itulah yang saya jengkel! Salah tapi tidak merasa salah!

Merugikan orang tapi tidak merasa merugikan!

 

“Makian” saya ini juga saya tujukan kepada perusahaan atau institusi, atau acara, yang ketika sudah berjanji akan beracara pada waktu tertentu, namun kemudian mengingkari, apakah dengan cara terlambat, atau membatalkan secara sepihak!

Seperti Airlines misalnya, sudah menjadi kelaziman jika penerbangan terlambat. Mereka minta maaf hanya sebagai basa basi, formalitas, namun tidak ada upaya keras untuk memperbaiki diri agar peristiwa serupa tidak terulang. Mengapa budaya “ngaret” berlaku di Airlines? Karena mereka menganggap wajar, sudah tradisi, dan tidak ada hukuman bagi mereka!

 

Padahal, seharusnya mereka merasa malu, sedih dan berduka!

Coba bayangkan, penumpang pesawat sudah mempersiapkan diri jauh hari agar bisa datang check-in tepat waktu; membuang uang transportasi untuk datang; bahkan ada yang sampai mengalami stress dan kecelakaan dalam upayanya agar bisa datang tepat waktu ke bandara.

Padahal, ketika sudah tiba dan sudah check-in, pesawatnya delay, terlambat terbang untuk puluhan menit sampai berjam-jam. Orang dibiarkan menunggu, setelah perjuangan dan pengorbanan untuk datang on-time.

Hal yang sering dilupakan Airlines adalah, bahwa mereka juga merugikan orang yang menjemput penumpangnya dibandara tujuan! Belum lagi hajatan yang terbengkalai, atau transaksi bisnis yang gagal, karena keterlambatan penerbangan itu!

Padahal, jika penumpang yang datang terlambat, maka ia akan ditinggal terbang! Dan uang tiketnya hangus!

Apakah Airlines tidak merasa berdosa karena berbuat lalim?

Pesan serupa juga saya tujukan ke aparatur negara, pelayan masyarakat, instansi Pemerintah yang mengurus perijinan, yang terbiasa punya slogan, “Kalau bisa diperlambat, kenapa harus dipercepat?!”; saya ingin mengingatkan bahwa itu adalah perbuatan tidak senonoh! Perbuatan amoral! Perbuatan jahat!

Kelambanan Anda telah merugikan orang! Bukan hanya satu orang, tapi banyak orang! Dan banyak orang yang rugi itu, bisa saja punya “efek domino” merugikan masyarakat, bangsa dan negara!

 

Tanpa bermaksud mengagulkan diri, melainkan hanya ingin memberi pesan bahwa Johanes Lim melakukan apa yang diajarkannya, dan atau mengajarkan apa yang dilakukannya.

  • Bagi siapa saja yang pernah mengikuti seminar publik saya pasti tahu bahwa, jika kami berjanji acara dimulai Pk.08.30, maka sekalipun peserta yang datang baru beberapa orang, seminar pasti saya mulai! Saya tidak akan menunggu sampai mayoritas peserta hadir, karena saya menghargai peserta yang datang on-time!
  • Saya selalu datang 1 jam sebelum acara pelatihan; dan 30 menit sebelum acara meeting atau pertemuan dengan siapapun.
  • Saya akan berhitung dengan cermat, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan buruk, dan mengalokasikan cukup waktu, agar saya bisa datang sebelum waktu perjanjian.
  • Saya tidak mau meleset barang semenitpun, karena bagi saya, menepati janji adalah suatu keharusan, tidak ada kompromi! Saya tahu bahwa integritas dan komitmen serta karakter saya dipertaruhkan. Orang akan menilai saya negatif ketika saya datang terlambat.
    • Karena logikanya: Untuk urusan sepele saja, yakni datang tepat waktu, saya tidak sanggup, bagaimana mungkin saya layak dipercaya melakukan perkara yang lebih besar? Bahkan bisa diperparah dengan persepsi: Untuk hal pemenuhan janji datang saja saya sudah berdusta, bagaimana bisa dipercaya urusan bisnis dan keuangan?!
  • Jadi, karena masalah memenuhi komitmen dan menjaga reputasi adalah urusan besar bagi saya, maka lebih baik saya datang kepagian (terlalu dini) dan harus menunggu 1-2 jam dimuka, daripada saya berkemungkinan terlambat 1 menit!

Mari saudaraku, kita biasakan memenuhi janji maupun pertemuan secara tepat.

Mari kita hargai waktu dan upaya orang lain, agar orang lainpun menghargai waktu dan upaya kita.

Dari keteladanan kita akan kedisiplinan, ketepatan waktu, semoga menular keteman dan saudara kita lainnya; sehingga suatu hari, menjadi budaya masyarakat dan bangsa kita: Disiplin! Menghargai ketepatan waktu! Menghargai Komitmen!

Menjadi orang dan bangsa yang berkarakter, dan layak dipercaya!