BERIKAN BUKTI, BUKAN JANJI

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

BERIKAN BUKTI, BUKAN JANJI

 

True religion is the life we lead, not the creed we profess.

Louis Nizer

Agama yang sejati adalah kehidupan yang kita jalani, bukan kredo yang kita akui

Louis Nizer

 

Saya Johanes Lim, merasa senang dan bersyukur menjadi warganegara Indonesia, dan hidup dinegara Indonesia, yang mempunyai Pancasila, dengan sila pertama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga semua orang yang mengaku orang Indonesia, serta tinggal di Indonesia, wajib hukumnya untuk beragama, dan ber TUHAN.

Pancasila telah menutup pintu terhadap kemungkinan adanya Atheisme atau Komunisme di Indonesia.

Dan pengutamaan terhadap kehidupan berketuhanan itu, telah membuat kita sebagai bangsa, menjadi negara dan masyarakat yang agamis. Kalau kita perhatikan, setiap hari, ada saja pengajaran ataupun syiar agama dinegara kita, baik melalui media massa, ataupun pertemuan ibadah

 

Semua agama yang diakui di Indonesia mengajarkan kebaikan, ketuhanan, dan kompensasi akherat.

Sejak masih bayi, masyarakat kita telah diajar dan diajak untuk mengenal TUHAN melalui jalur agama masing masing; sehingga logikanya, masyarakat Indonesia pastilah menjadi manusia manusia yang baik, suci, takut akan TUHAN dan mencintai sesama; seperti yang diajarkan oleh agamanya.

Bahkan, menurut ajaran agama samawi, atau agama Tauhid, TUHAN ALLAH yang kita percayai adalah Oknum Yang Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha Baik, Maha Pemurah, serta Maha Pengasih.

Menurut pengajaran kitab suci, TUHAN ALLAH hidup, perduli, dan berinteraksi dengan dunia dan manusia yang diciptakanNYA; apalagi dengan umatNYA; pokoknya, secara Theologi, ber TUHAN adalah perbuatan yang baik, benar dan berguna!

TUHAN akan memberkati luarbiasa kepada umatNYA yang taat, setia, saleh dan bersedia menjadi saluran rakhmatNYA

 

Sampai disini saya merasa semuanya baik baik saja, dan benar benar saja. Baik pengajaran, tata ibadah, maupun pengakuan iman yang saya ketahui, semuanya luarbiasa baik!

Dan sepertinya telah dipercaya dan dilaksanakan oleh para pengikut agama masing masing.

 

Emosi dan pikiran saya baru merasa terganggu dan tidak puas, ketika menyadari bahwa Indonesia, dengan populasi penduduk 240 jutaan jiwa, keempat besar dunia; dengan belasan ribu pulau besar dan kecil dari Sabang sampai Merauke; yang gemah ripah loh jinawi, tanah subur makmur; dengan multi etnis, multi bahasa, multi budaya, multi agama………..mengapa kok sampai hari ini, kita masih saja menjadi negara yang penuh dengan orang yang hidup dibawah garis kemiskinan (?) Mengapa kok negara kita mendapat predikat negara paling korup di Asia? Mengapa kok Country Competitiveness kita sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan negara kecil seperti tetangga kita?

Mengapa kok negara kita menjadi seperti “surga” bagi peredaran narkoba, pornografi, maupun koruptor?

 

Pertanyaan “MENGAPA KOK?” itu mengganggu saya, karena tidak sinkron, tidak patut, bersanding dengan pengakuan dan ritual kita terhadap agama dan ketuhanan!

  • Kalau kita sebagai bangsa begitu nampak agamis
  • Kalau kita sebagai oknum maupun kolektif bisa marah dan ngamuk ketika ada orang yang memfitnah atau menghina agama kita
  • Kalau kita percaya dan setiap hari berseru tentang betapa baiknya dan betapa hebatnya TUHAN ALLAH yang kita sembah itu
  • Lantas, MENGAPA KOK kita sebagai manusia dan sebagai bangsa tidak berbuah seperti yang kita ucapkan atau percayai??!
  • Kalau kita memang suci, takut akan TUHAN, lantas bagaimana caranya kita bisa menjadi negara terkorup di Asia, yang artinya sebagai negara dengan populasi koruptor yang besar? Gampangnya, menjadi sarang koruptor!?
  • Apa makna dan manfaat dari ucapan dan ritual ibadah yang dilakukan setiap hari?
  • Apakah kita tidak malu atau takut ketika menyebut nama TUHAN, sambil secara hampir bersamaan, melakukan tindakan kejahatan?!
  • Apakah kata “Dosa, Sorga, Neraka” sudah tidak punya makna dan dampak apapun juga kepada kita, sekalipun setiap hari, kita bolak balik menyebut nama TUHAN?

 

Belum lagi jika kita bertanya MENGAPA KOK orang yang saleh, takut akan TUHAN, dan percaya kepada kemurahan dan pemeliharaan TUHAN ALLAH, kok bisa bisanya hidup sampai miskin papa, bahkan ada yang sampai mati kelaparan?

 

Siapa yang keliru dalam hal ini?

Apakah agama dan TUHAN tidak bisa membantu sama sekali?

Apakah sesama anak bangsa, sesama seagama, tidak mau perduli dan tidak mau membantu meringankan penderitaan saudaranya?

Lantas apa arti kekompakan? Lantas apa arti saudara seiman? Lantas apa arti ibadah dan kesalehan?

Mengapa kalau berkelahi, berperang, bahkan saling membunuh, bisa kompak demi alasan agama? Mengapa untuk hal yang normal, manusiawi, waras, tidak kompak dan tidak saling membantu?

Apa yang keliru dalam hal ini?

 

Hhhhhh….., setiap kali memikirkan hal ini, saya menjadi frustrasi.

Kita, Indonesia, negara dan masyarakat yang agamis, yang ber TUHAN ALLAH, bisa kalah hebat dengan negara negara yang tidak bertuhan!

Mereka tidak percaya TUHAN, dan atau tidak menyembah TUHAN, karena komunis, atau atheis, atau free thinker; namun prilaku dan hasil hidup mereka bisa lebih baik dari kita!

 

Sebagai contoh nyata dan sederhana:

Sebagai penganut agama samawi, saya merasa malu dan iri melihat saudara saya sebangsa setanah air, namun yang berbeda kepercayaan, bisa melakukan perbuatan baik yang kongkrit, mengamalkan ibadahnya secara nyata, bisa dirasakan secara langsung oleh sesama manusia; sekalipun berbeda agama, berbeda etnis; dan tanpa kepentingan agama!

 

Ada yayasan agama Buddha yang bernama “Tzu Chi” yang secara langsung, sering, dan berkesinambungan merancang dan melaksanakan program pemberdayaan serta pensejahteraan masyarakat. Sukarelawan mereka menolong memberikan bantuan pangan kepada rakyat yang terkena musibah. Bukan makan mie instan atau nasi bungkus ala kadarnya seperti yang biasa diberikan orang, melainkan nasi dengan lauk pauk enak yang diolah oleh para Sukarelawannya ditempat pengungsian.

Mereka juga membangun dan memberikan perumahan layak huni kepada rakyat miskin, termasuk memberikan lapangan kerja, agar mereka sanggup memiliki dan memeliharanya!

Mereka juga menolong masyarakat dipedesaan dengan membangun irigasi agar petani bisa berhasil dan sejahtera

 

YANG PERLU SAYA TEKANKAN DISINI IALAH:

  • Mereka tidak mempunyai kepentingan agama sedikitpun! Mereka tidak membarter pertolongan dengan syiar agama! Dan yang ditolong bukan melulu orang yang seagama atau sesuku atau seetnis dengan mereka, BUKAN!
  • Barang yang diberikan juga yang berkualitas baik! Bukan ala kadarnya! Kalau nasi, bukan nasi dari raskin (beras jatah orang miskin, yang biasanya sudah berubah warna dan bau apek)! Bayangkan, mereka bisa membantu rakyat (bukan satu atau sepuluh orang, melainkan ratusan kepala keluarga, atau ribuan manusia) dengan menyediakan perumahan sehat! Pemerintah saja yang sesungguhnya berkewajiban menolong rakyatnya, tidak melakukannya!

 

Saya kagum sekaligus malu kepada mereka.

Saya yang beragama samawi, yang katanya mempunyai TUHAN Pencipta Langit dan Bumi, yang Maha Kuasa, dan Maha Baik; mohon maaf, -saya pribadi- jarang mendengar agama saya melakukan hal seperti yang Yayasan Tzu Chi lakukan.

Biasanya, kami hanya melakukan kepada “Kalangan sendiri” kepada “Saudara Seiman”.

Sekalipun saya tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh penganut agama lain, namun kalau saya search di internet, tindakan mereka sama saja:

  • Tidak menolong dengan material secara kongkrit, hanya memberi doa atau khotbah
  • Jika menolong secara kongkrit, hanya untuk umat sendiri

 

Stasiun televisi yang dimiliki Yayasan Tzu Chi bernama “DAAI TV” juga merupakan siaran televisi yang bagus, mendidik, dan berguna. Tidak ada tayangan iklan komersial, hanya kesaksian hidup, berita, pendidikan, dan hiburan sehat; sangat jauh berbeda dengan televisi swasta yang komersial dan menyiarkan apa saja –baik ataupun buruk- selama jadi duit!  Juga berbeda dengan siaran TV rohani agama lain yang monoton membosankan dan terlalu utopis dan ilahi, sehingga tidak menyentuh dan berguna secara langsung bagi manusia biasa.

 

Ahhh…. mudah-mudahan apa yang telah dilakukan oleh saudara kita dari Yayasan Buddha Tzu Chi, bisa mengetuk hati nurani dan isi kantong kita umat yang mengaku ber TUHAN ALLAH agar juga MEMBERI BUKTI, BUKAN JANJI! Mau beramal ibadah, dan bukan melulu mengurus ritual