JANGAN MENGASIHANI DIRI

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

JANGAN MENGASIHANI DIRI

 

Self-pity gets you nowhere. One must have the adventurous daring to accept oneself as a bundle of possibilities and undertake the most interesting game in the world — making the most of one’s best.

Harry Emerson Fosdick

Mengasihani diri tidak akan membawa kita kemana-mana. Orang harus berani menerima diri sendiri sebagai kesatuan kemungkinan, dan mengambil permainan yang paling menarik didunia ini yakni:

membuat yang terbaik dari diri sendiri

Harry Emerson Fosdick

 

Perasaan mengasihani diri sendiri adalah penyakit umum yang diderita banyak manusia lemah, manusia cengeng! Manusia egois!

Contoh mengasihani diri dalam dunia usaha adalah:

  • Karyawan mengeluh bahwa dirinya telah diperlakukan tidak adil oleh atasan dan perusahaan. Dia merasa telah berbuat banyak bagi perusahaan, namun tidak dihargai. Begini kira-kira keluhannya, “Saya telah mengabdi diperusahaan ini belasan tahun. Tidak pernah datang terlambat. Tidak pernah mangkir. Tidak pernah korupsi. Tidak pernah maling! Tapi mengapa karier saya tidak naik naik? Saya telah diperlakukan tidak adil!”

 

Apakah jawaban saya terhadap orang itu?

Saya hanya mengingatkan bahwa,

  • “Datang tepat waktu dan tidak mangkir kerja bukanlah plus-point, bukan kebaikan, bukan manfaat, melainkan KEWAJIBAN! Kalau Anda sering terlambat atau mangkir, namanya karyawan berkinerja buruk, dan layak dipecat! Karena Anda tidak melanggar aturan masuk kerja, maka Anda tidak dipecat, namun bukan berarti Anda layak mendapatkan promosi karier, hanya karena memenuhi kewajiban standard!”

 

Sedangkan untuk jawaban kedua,

  • “Anda tidak korupsi dan tidak maling, juga bukanlah plus-point, bukan manfaat bagi perusahaan; karena kalau Anda korupsi atau maling dan ketahuan, maka hukumannya adalah penjara! Jadi tidak korupsi dan atau tidak maling ketika bekerja adalah hal biasa saja, bukan sesuatu yang istimewa atau yang layak mendapat promosi jabatan!”

 

Jadi saran saya bagi karyawan yang punya penyakit mengasihani diri adalah:

  • Introspeksilah! Cari tahu mengapa kok sudah bekerja belasan tahun dan tetap tidak mendapat kenaikan jabatan? Apakah Anda pantas atau tidak untuk mendapat kenaikan jabatan, ditilik dari kualifikasi pendidikan, atau prestasi kerja, atau kelayakan prilaku, misalnya?

 

Kalau menurut saya, seseorang karyawan dinaikkan jabatannya karena dinilai MENGUNTUNGKAN atau BERMANFAAT bagi atasan atau perusahaannya, serta mempunyai potensi atau kapasitas untuk menjabat tanggungjawab yang lebih besar!

Sepertinya tidak ada alasan umum yang lain.

Dengan kata lain, jika karyawan seolah kariernya bantut, maka bisa saja karena atasannya menilai atau menganggap ia tidak berguna atau tidak layak untuk menjabat posisi lebih tinggi!

Jika merasa bahwa Anda telah diperlakukan tidak adil, dan atau dihambat kariernya oleh atasan atau perusahaan; padahal Anda merasa mempunyai kemampuan untuk menjabat posisi yang lebih besar, maka saran saya ialah: MELAMARLAH KEPERUSAHAAN LAIN DENGAN POSISI YANG LEBIH TINGGI!!

Jika Anda diterima, maka bagus, berarti penilaian Anda tentang diri sendiri yang “dikebiri” berarti benar. Bertindaklah, JANGAN MENGGERUTU ATAU MENGASIHANI DIRI!

Jika ternyata tidak ada perusahaan lain yang menerima aplikasi Anda, karena menganggap Anda tidak qualified, maka bagus, berarti Anda paham sekarang bahwa kapasitas Anda memang kecil. Setidaknya Anda telah mencoba. Pokoknya, JANGAN MENGGERUTU ATAU MENGASIHANI DIRI!

 

Contoh lain yang sering terjadi dari prilaku mengasihani diri, berkenaan dengan keimanan kepada TUHAN.

Orang mengeluh, “Oh TUHAN, percuma saja saya menjaga iman dan prilaku yang baik. Saya rajin berdoa. Rajin beribadah. Rajin berpuasa. Saya tidak mencuri. Tidak berjinah! Tidak membunuh! Tidak merampok! Tidak korupsi! Saya telah berjuang keras agar senantiasa saleh dan menjadi orang baik. Tapi mengapa saya terkena musibah bencana alam? Mengapa saya sakit sakitan? Mengapa saya miskin? Mengapa saya direndahkan orang? Oohh TUHAN, mengapa saya diperlakukan tidak adil??!”

 

Nah, menghadapi prilaku mengasihani diri seperti diatas, saya hanya mengingatkan bahwa:

  1. Pertama: Rajin berdoa, rajin beribadah, rajin berpuasa, BUKANLAH PERBUATAN BAIK! Itu hanyalah perbuatan BENAR. Benar karena menuruti tatacara keagamaan yang mewajibkan umatnya untuk itu.
  2. Kedua: Tidak mencuri, tidak berjinah, tidak merampok dsb, juga BUKANLAH PERBUATAN BAIK! Itu hanyalah BUKAN PERBUATAN JAHAT! Jadi, Anda tidak patut untuk bermegah dan merasa sudah menjadi orang baik hanya karena tidak berbuat jahat!!? Ingat saudaraku, ANDA BELUM BERBUAT BAIK, hanya belum berbuat jahat!! Jadi, tidak layak untuk menuntut berkat dari TUHAN.
  3. Ketiga: Jika terjadi bencana alam, misalnya gempa bumi atau banjir bandang, tidaklah meluputkan orang yang rajin beribadah dengan orang yang tidak pernah beribadah. Alam tidak pandang bulu. Jika disuatu daerah terkena gempa bumi 8 skala richter misalnya, maka jangan mengharapkan bahwa Anda yang berada dilokasi gempa itu hanya terkena gempa 2 skala richter misalnya, itu omong kosong! Jadi, jangan terlalu mengasihani diri sehingga terkesan cengeng dan kekanak-kanakan.
  4. Keempat: Tidak ada korelasi logis antara orang yang rajin beribadah dengan kesehatannya. Sekalipun Anda rajin berdoa, namun jika tidak rajin memelihara kebugaran dan asupan tubuh, maka bisa saja Anda terserang berbagai macam penyakit. Masalah kesehatan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah keagamaan Anda. Ada ilmu agama, ada pula ilmu kesehatan. Jadi jika Anda ingin sehat, pelajarilah tatacara hidup sehat. JANGAN MENYALAHKAN AGAMA ATAU KEHIDUPAN KEAGAMAAN ANDA. JANGAN MENGASIHANI DIRI!
  5. Kelima: Juga tidak ada korelasi antara ketaatan menjalankan ritual agama dengan menjadi kaya atau miskin. Orang saleh menjadi miskin, bukanlah karena kesalehannya! Orang saleh menjadi kaya, juga bukan karena kesalehannya! Perihal menjadi kaya atau miskin bukanlah ditentukan oleh rajin atau tidaknya seseorang menjalankan tata ibadahnya, melainkan lebih kepada strategi dan ilmu menjadi kaya! Kalau hanya dengan berdoa dan menjalankan ritual agama seseorang bisa mudah kaya, maka tidak banyak orang miskin dikolong langit ini, karena mayoritas manusia masuk kategori orang yang beragama dan bertuhan, apalagi bagi kita yang hidup di Indonesia?! Cari tahu mengapa Anda miskin, kemudian cari tahu cara merubahnya agar menjadi kaya. Berjuanglah! Bekerja keraslah! Pokoknya, jangan menyalahkan agama atau TUHAN perihal kemiskinan Anda. Dan juga jangan mengasihani diri! BEKERJALAH!

 

Menurut saya, yang perlu diberi penghargaan atau pujian adalah PERBUATAN BAIK, artinya, perbuatan yang kita lakukan kepada PIHAK LAIN atau ORANG LAIN yang diterima sebagai MANFAAT.

Misalnya:

  • Memberi pertolongan dengan tenaga, nasehat atau uang, kepada orang lain yang membutuhkannya! Memberi minum kepada orang haus, itu adalah perbuatan baik. Memberi makan kepada orang lapar, itu adalah perbuatan baik. Memberi pengobatan gratis kepada orang sakit, itu adalah perbuatan baik. Memberi semangat kepada orang yang putus asa, itu adalah perbuatan baik.

Sedangkan rajin berdoa, atau rajin berpuasa, hanyalah perbuatan benar, dan BUKAN PERBUATAN BAIK, karena tidak mengenyangkan orang lain yang lapar, atau tidak menghiburkan orang lain yang menderita!!

Jadi, jangan salah paham terhadap TUHAN.

Dan juga jangan salah paham terhadap makna kebenaran dan kebaikan.

Serta tentu saja JANGAN MENGASIHANI DIRI SENDIRI!

 

Maksud sesi ini adalah untuk menghindarkan Anda dan saya dari kesalahpahaman universal tentang KEBENARAN, KEBAIKAN DAN KEBERGUNAAN, khususnya bagi orang yang perduli terhadap agama dan ketuhanan.

  • KEBENARAN adalah urusan internal agama, bersifat ego sentris, dan relatif. Benar menurut Anda belum tentu benar menurut saya. Jadi, prilaku yang waras dan bijaksana adalah, “Tidak memperdebatkan urusan kebenaran”. Biarlah kebenaran agama Anda menjadi benar bagi Anda dan orang yang seiman dengan Anda. Sedangkan kebenaran agama lain biarlah menjadi benar bagi penganutnya masing-masing. Tidak perlu diperbandingkan atau diperdebatkan, cukup dimengerti dan ditoleransi. Biarlah kita berbeda dalam persamaan, dan bersama dalam perbedaan.
  • KEBAIKAN dan KEBERGUNAAN harus menjadi prioritas dan fokus aktualisasi keimanan kita, karena sekalipun kita berbeda dalam memaknai “KEBENARAN”, karena bersifat doktrin, dogma, dan iman; namun memberi makan bagi orang lapar, atau menolong orang yang berkesusahan; atau memberikan pengobatan gratis bagi orang sakit, adalah bahasa universal yang bisa diterima dan dimengerti secara sama oleh semua agama dan pengikutnya yang normal: itulah perbuatan baik dan berguna!

 

Kalau setiap kita mau fokus dan perduli terhadap KEBAIKAN DAN KEBERGUNAAN, maka tidak akan ada perselisihan, permusuhan, perkelahian, pembunuhan, bahkan perang, akibat perbedaan agama!!

Kita sebagai manusia normal dan waras, pasti memiliki hati nurani, yakni perasaan iba dan belas kasihan kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan, sekalipun berbeda agama.

Ketika kita bisa keluar dari kungkungan doktrin dan dogma “Kebenaran” yang belum tentu benar-benar benar, maka kita akan bisa menerapkan kebaikan dan kebergunaan secara ikhlas dan tulus, non diskriminatif.

Coba perhatikan:

  • Ketika ada daerah yang tertimpa bencana alam atau musibah, sehingga banyak sekali masyarakat yang terluka atau tewas. Bukankah banyak sekali orang dari daerah lain, bahkan negara lain, yang datang membawa bantuan dan memberikan pertolongan, TANPA MEMANDANG BULU?!

 

Ketika kita menolong, kita tidak lagi memperdulikan apakah orang yang sedang berkesusahan dan perlu kita tolong itu seagama atau sesuku, atau seetnis dengan kita atau tidak?

Kita tidak perduli! Selama ia/mereka manusia, harus ditolong!

NAH, ITULAH YANG NAMANYA KEBAIKAN DAN KEBERGUNAAN!

Kebaikan dan kebergunaan tidak pandang bulu, non diskriminatif.

Bisa saja banyak orang yang mendebat dan memusuhi orang yang memberitakan Kebenaran; namun tidak akan pernah ada orang yang menolak atau memusuhi orang yang menerapkan Kebaikan dan Kebergunaan.