TOLERAN DENGAN PERBEDAAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

TOLERAN DENGAN PERBEDAAN

 

If we were to wake up some morning and find that everyone was the same race, belief and color, we would find some other cause for intolerance by noon.

George Aiken

Andaikan kita terbangun disuatu pagi dan menemukan bahwa setiap orang memiliki ras, kepercayaan dan warna yang sama; kita akan bisa menemukan beberapa alasan yang menyebabkan kita tidak toleran pada siangnya

George Aiken

 

Anda yang sering mengamati sejarah dan kehidupan manusia, mulai dari purbakala sampai hari ini, tentu menemukan bahwa kita, yang namanya manusia, sangat sering membenci, berkelahi dan membunuh, sesama kita manusia.

Ada yang bermotifkan etnis dan suku.

Ada yang bermotifkan agama dan kepercayaan.

Ada yang bermotifkan jenis kelamin

Ada yang bermotifkan ideologi dan politik

 

Kata George Aiken, andaikan kita sekalian pada suatu pagi akan menjadi sama 100% dalam hal ras, kepercayaan, warna kulit, dsb, maka kita tetap akan bisa menemukan beberapa hal yang bisa dijadikan alasan untuk tidak toleran terhadap sesama manusia kita, pada siang harinya!

Sekalipun terdengar ironis, namun realistis, dan manusiawi!

 

Sesungguhnya saya tidak setuju dan tidak senang, ketika kita sebagai sesama manusia, bisa membenci atau tidak menyukai –apalagi sampai menganiaya dan membunuh- orang lain, hanya karena berbeda ras, etnis, suku, warna kulit, jenis kelamin, agama, kepercayaan, pandangan politik, dan sejenisnya.

Saya juga merasa heran, dan frustrasi

Mengapa kok ada manusia yang tidak menyukai sesamanya manusia, hanya karena manusia lain itu tidak sama dengan dirinya?!

 

Apakah yang salah dan buruk dengan perbedaan?

Mengapakah ada orang yang memaksakan agar orang lain menjadi sama seperti dirinya atau kemauannya?

Mengapakah orang bisa membenci hanya dengan sebab yang begitu absurd? Tidak punya pikirankah dia bahwa kita tidak bisa memilih akan terlahir sebagai orang dengan ras, etnis atau suku atau marga apa???! Bahkan sesungguhnya, kita bukan memilih hendak beragama apa, melainkan nyaris sebagai “given” bahwa kita beragama tertentu; lantas mengapa saya dibenci karena agama saya beda dengan agama Anda???!

 

Tidak bisakah kita berpikir waras bahwa berbeda itu juga indah?

Apakah enaknya jika setiap hari kita semua memakan nasi anu, atau mengenakan pakaian dengan warna sama?

Bukankah gado-gado atau capchai bisa terasa lezat dan sehat, karena terdiri dari berbagai macam sayur yang diolah bersama? Kalau hanya kangkung saja, atau kalau hanya wortel saja, apakah bisa lebih enak?

 

Agak menyimpang sedikit, saya mau cerita bahwa, saya mempunyai dua ekor anjing, namanya Balto dan Diego. Mereka lahir dari induk yang sama, dengan waktu yang hampir sama. Mereka kami pelihara dengan perlakuan yang sama, tidak ada yang dibedakan. Mereka juga diajar agar saling mengasihi, karena mereka berdua adalah bersaudara.

Namun yang menjengkelkan adalah, bahwa mereka cukup sering berkelahi, secara serius, yang jika tidak dilerai akan sampai saling gigit dan saling cabik sampai keduanya terluka cukup parah!

Anak saya mengajar mereka.

Saya menghajar mereka.

Berulangkali saya coba mengajar dan menghajar, agar mereka tidak mengulangi perbuatan bodoh itu, yakni berkelahi sesama saudara!

Namun sampai hari ini, saya tetap tidak berhasil mendidik mereka. Kedua ekor anjing itu tetap saja cukup sering berkelahi dan saling melukai!

Saking jengkelnya, saya mengambil kesimpulan bahwa, “DASAR ANJING! Nggak bisa diajar!”

 

Begitu saya mengeluarkan perkataan itu, saya teringat bahwa sesungguhnya dimasyarakat kita sering terdengar makian yang bernada mirip, “ANJING LU!” ketika seseorang marah kepada orang lain.

Sekarang saya mengerti, mengapa terlontar makian itu. Mungkin karena manusia itu sudah sedemikian sulit diajar, atau bertabiat seperti anjing (memakan kembali muntahnya, istilahnya ingkar janji; berbuat tidak senonoh; membenci dan menyakiti saudaranya) sampai derajatnya perlu diturunkan hingga sama dengan anjing!?

 

Padahal, bagi pecinta anjing, mereka akan lebih memilih dan percaya kepada anjing, dibandingkan kepada manusia!

Anjing adalah khewan yang setia, yang membela dan melindungi majikannya!

Anjing juga penurut.

Anjing tidak melawan majikannya; bagaimanapun anjing dihajar oleh majikannya, tidak akan menghindar, apalagi menggigit balik!

 

Sedangkan manusia……. katanya, jauh dari setia; jauh dari membela; jauh dari menurut; bahkan seringkali berkhianat, membokong, membalas air susu dengan air tuba!

 

Wah wah wah….. saya tidak mau melanjutkan lagi, karena saya takut tersinggung; masakkah sesama manusia saya bisa kalah baik dibandingkan anjing? Masakkah sesama manusia saya sifatnya banyak yang mirip anjing?

Saya tidak bisa terima, dan tidak mau itu terjadi, sehingga saya akan berusaha mengingatkan sesama saya manusia bahwa:

  • Kita ini manusia, bukan khewan
  • Kita mempunyai akal budi, artinya punya akal dan punya budi luhur
  • Kita bisa membenci, dan bisa mencintai; namun keduanya bisa kita lakukan secara waras, secara berakal budi, yakni harus dengan alasan yang kuat dan benar
  • Membenci sesama manusia hanya karena ia/mereka berbeda dengan saya/kita, bukanlah alasan dan keputusan yang waras atau manusiawi; karena logikanya, tidak ada seorangpun manusia yang bisa menentukan atau memilih jenis kelaminnya, warna kulitnya, etnisnya, sukunya, bahkan agamanya; jadi karena semua hal itu adalah “given, dari sononya, dari Langit”, maka menyalahkan, atau tidak menyukainya, atau membencinya, apalagi menganiayanya…. adalah perbuatan tidak manusiawi, bahkan boleh dibilang bodoh, edan, gendeng!
  • Jadi, kalau selama ini ada yang mempunyai perasaan sentimen atau ketidaksukaan seperti itu, saran saya ialah BERTOBATLAH! Yang Anda musuhi berarti bukan sesama manusia, melainkan TUHAN yang menciptakan manusia secara berbeda! Dan ketahuilah, yang membenci TUHAN itu adalah Setan, musuh TUHAN! Jadi, jika Anda ingin tetap menjadi dan disebut manusia, jangan ikuti gayanya Setan!
  • Coba renungkan: Andaikan Anda yang dibenci, dimusuhi, dan dianiaya bahkan dibunuh oleh orang lain, dengan alasan suku atau agama Anda berbeda dengan orang itu, APAKAH ANDA GEMBIRA? Jika tidak, maka ingatlah perkataan ini, “Apa saja yang Anda tidak inginkan diperbuat oleh orang lain kepadamu, maka jangan perbuat itu kepada orang lain!”