UJIAN KEPEMIMPINAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

UJIAN KEPEMIMPINAN

 

I am amazed when any Top Leader complains that he couldn’t make his good plan happen, due to his people’s resistance. Ridiculous!

Johanes Lim

Saya heran ketika ada pemimpin puncak yang mengeluh bahwa rencana baiknya gagal, karena bawahannya menolak untuk melakukannya. Menggelikan!

Johanes Lim

 

Pernahkah saudara mendengar akan kisah nyata bahwa pemimpin puncak merasa frustrasi dan putus asa terhadap bawahannya yang tidak mau melaksanakan rencana dan perintahnya, sehingga kinerjanya menjadi buruk?

Saya pernah. Ada founder dan president director perusahaan publik client saya yang meminta tolong agar saya membantunya memastikan agar para direksi dan senior managernya mau melaksanakan apa yang telah diperintahkannya.

Selama ini dia selalu kecewa dan gagal, karena visinya bantut, tidak didukung dan dilaksanakan dengan patut.

Setelah mengetahui latarbelakang kegagalannya, akhirnya sayapun menolak untuk menjadi konsultannya, karena saya pesimis bisa membantunya.

Mengapa saya menolak? Padahal kalau dihitung secara ekonomis, dari consulting fee yang akan saya terima, nominalnya cukup menggiurkan?!

Karena saya tidak yakin akan berhasil!

Bukan karena secara teknik manajemen saya tidak bisa membenahi perusahaannya, namun secara kultural, dan secara pragmatis, saya ngeri! Bayangkan, dia saja sebagai owner dan pemimpin puncak, tidak sanggup memerintahkan karyawannya untuk bergerak, apalagi saya yang orang luar!?

 

Apakah sesungguhnya yang terjadi?

Sejak semula, perusahaan itu didirikan dan dikelola secara kekeluargaan. Dari daerah, dia mengajak teman teman baiknya sekampung untuk hijrah ke Jakarta, dan mendirikan bisnis. Dari kecil sampai menjadi besar.

Sekalipun mereka bukanlah orang sekolah, namun karena kerja keras dan punya network yang baik, bisnis mereka maju pesat.

Persoalan baru timbul setelah perusahaan membesar. Tuntutan pemegang saham, dan persaingan yang kompleks, mengharuskan kompetensi pengelolanya meningkat; namun karena mereka sekalian yang menjadi direksi dan senior manager adalah orang lapangan, yang tidak paham ilmu manajemen bisnis, maka gaya dan kapasitas mereka tetaplah seperti ketika mengelola perusahaan kecil, ala kadarnya!

Ketika kinerja perusahaan terus merosot, mereka dipaksa untuk merekrut profesional yang highly educated, agar bisa membantu mereka berpikir, berencana dan melakukan terobosan.

Namun selalu gagal, karena para “tetua” itu menganggap para profesional itu hanya pandai berteori. Hampir semua ide atau pemikiran yang diusulkan, ditolak mentah mentah, bahkan sebelum proposalnya dibaca!

Tentu saja para profesional yang merasa dikebiri, hengkang!

 

Ketika sang “dirut” (direktur utama) mempertanyakan mengapa rencana perusahaan tidak ada yang jalan? Hanya dijawab enteng, “Tanya saja sama para kutu buku itu! Anak kemarin sore mau ngajarin ikan berenang!”

Dan ketika “dirut” memaksa, maka mereka serentak menyahut, “Boleh saja kalau mau bersikeras, suruh mereka melakukannya, kami mau tahu apa bisa berhasil!?”

Karena nadanya berbau ancaman, sang “dirut” ngeri, dan akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala, frustrasi.

 

Itu adalah salah satu kisah nyata yang saya ketahui sendiri. Jika ditambah dengan pengamatan dan pembelajaran, sepanjang sejarah, ada saja kita temukan pemimpin yang gagal memastikan bahwa bawahannya melakukan rencana baiknya secara konsekwen.

Kaisar China juga sering hanya menjadi “boneka” dari ibu suri, atau permaisuri atau kasim, atau jendral. Sekalipun berkedudukan tertinggi, namun tidak mampu memujudkan apa yang diinginkannya, bahkan harus menerima hal yang tidak diinginkannya.

 

Dalam kehidupan berpolitik atau bernegara, kisah serupa juga terjadi, bahwa seorang menteri atau bahkan presiden sekalipun, tidak mampu menyuruh anak buahnya bertindak seperti yang diinginkannya.

Alasannya macam macam, namun kalau saya amati, ada “benang merah” ada patron, ada modus operandi, yang mirip satu sama lain, yakni: KELEMAHAN LEADERSHIP STRATEGY!

 

Pernahkah saudara mendengar ada presiden negara yang mengeluh bahwa, “Saya mau A, tapi sayang, saya tidak didukung…”

Coba bayangkan… kalau presiden negara merdeka saja bisa berkeluh kesah seperti itu, bagaimana dengan rakyatnya?

Kalau menurut saya, itu bukanlah pernyataan pemimpin yang bagus atau cerdas, melainkan pemimpin lemah!

Lemah secara Leadership (kepemimpinan), dan lemah secara strategik, sehingga dia tidak tahu bagaimana cara mengelola dan menggerakkan bawahannya agar menuruti perintahnya.

 

Sekalipun banyak dari bawahannya yang bandel dan bahkan berani menentang perintahnya, namun jika pemimpin punya Strong Leadership, maka dia paham bahwa dia punya wibawa, punya otoritas, punya tongkat komando, bahwa kalau dia mau “A” maka harus terjadi “A”!

Sekalipun sebagai bawahan nyalinya besar atau berlagak hebat dan berani mengancam atasan, namun hukum psikologisnya tidak bisa diubah:

  • Bawahan tetap bawahan, sekalipun banyak, tetap bawahan. Mentalnya bawahan, auranya bawahan, wibawanya bawahan, otoritasnya bawahan!

 

Analogi tentang wibawa dan otoritas yang dimiliki pemimpin adalah seperti polisi lalulintas yang sedang bertugas. Sekalipun misalnya polantas itu kurus, tua, dan berpangkat rendah, namun ketika dia meniup pluitnya dan mengangkat tangan memberhentikan truk kontainer yang sedang melaju, apakah yang akan terjadi?

Ya, benar, pengemudi mobil kontainer yang besar itu pasti menuruti perintah sang polantas, dan menghentikan truknya.

Yang ditaati bukanlah orang yang menghentikan truknya, melainkan fungsi dan atribut polisi lalulintasnya!

Polantas itu boleh pria tinggi besar atau kurus kecil, bahkan boleh wanita. Selama ia polantas dan sedang bertugas, maka secara hukum, pengemudi HARUS MENTAATI PERINTAHNYA!

ITULAH YANG NAMANYA WIBAWA! OTORITAS!

 

Nah, berangkat dari analogi tentang polantas, demikian juga Anda sebagai seorang pemimpin –apakah pemimpin bisnis ataukah politik ataukah rohani-, maka secara otomatis, jabatan dan status Anda itu diikuti oleh wibawa dan otoritas.

Persoalannya hanyalah:

  • Apakah Anda menggunakan wibawa dan otoritas itu dengan percaya diri ataukah tidak?

Jika ya, maka secara hukum (normatif maupun moral), bawahan pasti takluk!

Ibaratnya, bagaimanapun nakalnya seorang anak, diakui atau tidak, ia pasti segan dan takluk kepada perintah orangtuanya. Anak takluk, bukan karena ayah atau ibunya lebih kuat secara fisik, melainkan secara mental, anak kalah wibawa dibandingkan orangtua!

Itulah sebabnya, dalam peristiwa yang normal (waras) sangat jarang terjadi ada anak yang sampai berani membalas menempeleng orangtuanya, sekalipun secara fisik ia lebih kuat dari ayah atau ibunya. Mengapa?

  • Karena orangtua PUNYA WIBAWA DAN OTORITAS TERHADAP ANAKNYA!

 

Jadi, jika Anda sebagai pemimpin mengeluh tidak dituruti oleh bawahan, maka bisa saya pastikan bahwa KESALAHAN ADALAH PADA DIRI ANDA SENDIRI, DAN BUKAN PADA ANAK BUAH ANDA!

Sebagai pemimpin, Anda berhak dan berkewajiban untuk memerintah bawahan. Dan bawahan wajib untuk menuruti dan melaksanakannya. Kalau bawahan membangkang, Anda berhak untuk menegurnya, memberikan sanksi, sampai dengan pemecatan!

Kalau Anda belum pernah “ngamuk” kepada bawahan yang bandel, maka COBALAH “NGAMUK!”

Tegur, atau bentak, dan marahilah bawahan yang bandel itu, dengan keras (bukan kasar, tapi keras. Jangan menghina pribadinya, tapi tegurlah perbuatannya), sambil berkata tegas, “Saya beri Anda pilihan: lakukan perintah saya sekarang, atau YOU’RE FIRED!”

 

Saya berani jamin bahwa bawahan yang paling bandel sekalipun, nyalinya langsung ciut. Bagaimanapun merasa hebatnya dia; bagaimanapun merasa kuatnya dukungan teman temannya terhadapnya, namun jika diperhadapkan kepada pilihan: taat atau dipecat!; maka secara waras manusiawi, dia akan memilih taat.

  1. Pertama, karena dia “kalah hawa”, kalah wibawa dibandingkan Anda sebagai atasannya.
  2. Kedua, dia takut “dapurnya tidak ngebul” kalau dipecat tanpa persiapan

 

Bagaimana jika bawahan itu nekad melawan? Bahkan mengajak teman temannya yang lain untuk memboikot Anda?

Gampang saja, terapkan strategi “potong monyet”: LANGSUNG PECAT PROVOKATORNYA.

Jika tindakannya anarkis atau melanggar hukum, langsung minta polisi menciduknya, dan memprosesnya secara hukum!

 

Jangankan hanya karyawan perusahaan, atau karyawan instansi pemerintah; petinggi militer atau kepolisian sekalipun pasti gentar jika diancam atasannya seperti itu.

 

Bagaimana jika mereka kompak melawan Anda dan sungguh-sungguh berhenti kerja sekaligus, bukankah perusahaan bisa kalang kabut?

Sekalipun kemungkinan untuk itu ada, namun menurut saya, kemungkinannya sangat kecil!

  • Secara umum, sifat dasar manusia itu egois, dan penakut; terutama takut malu, dan takut miskin.
  • Sangat kecil kemungkinannya demi solidaritas, ada orang waras yang nekad ikut berhenti kerja demi mendukung teman.
  • Dia akan berpikir seribu kali untuk melepaskan pekerjaan dan penghasilannya, demi pertemanan.
  • Dia paham betul bahwa jika dia menganggur, maka yang hilang bukan hanya uang penghasilannya, melainkan juga kebanggaan dan harga dirinya!

 

Diatas saya katakan LEADERSHIP STRATEGY. “Leadership” sudah saya bahas, bagaimana dengan “strategy”, apakah maksudnya?

Jika keadaan perusahaan Anda sudah sedemikian buruknya, sampai Anda kehilangan kendali, serta tidak tahu mana kawan mana lawan; sehingga Anda tidak mungkin bertindak tegas menegur atau menggusur bawahan pembangkang, maka saya sarankan agar Anda berpikir dan bertindak strategik, sebelum melakukan tindakan.

Caranya?

Persiapkan “second parachute” pada semua lini vital.

Secara diam-diam, rekrut dan persiapkanlah kader yang akan menggantikan para pemimpin pembangkang yang sekarang menduduki jabatan vital. Latihlah orang Anda secara intensif namun rahasia, agar secara teknik mereka mampu melakukan pekerjaan yang Anda butuhkan.

Kemudian masukan mereka menjadi “asisten” atau “vice” atau “kenek” dibagian yang sekarang masih dikuasai para “pembangkang”.

 

Sekalipun bisa saja kinerja “orang Anda” itu dihambat atau dikerjain, tidak persoalan; yang penting orang Anda itu bisa mulai bekerja dan menguasai praktek dan realita dilapangan.

Jika mereka telah siap secara teknis, untuk menggantikan posisi orang yang akan Anda gusur, maka bertindaklah.

Lakukan seperti saran saya diatas berkenaan dengan “Leadership”.

Ketika Anda memecat para pembangkang, pekerjaan dan kinerja bisnis Anda tidak terganggu, karena langsung bisa diambil alih oleh “second parachute” Anda.

 

Menurut saya, begitu para pembangkang itu tahu bahwa Anda telah memiliki “second parachute”, sehingga keahlian mereka tidak lagi vital bagi Anda, maka biasanya mereka akan “bertobat” dan menjadi jinak.

Selama ini mereka membangkang karena tahu bahwa Anda tidak berani kehilangan mereka! Mereka tahu bahwa “nasib” perusahaan Anda tergantung kepada mereka!

Sedangkan sekarang, “senjata” mereka telah Anda lucuti.

 

Jadi saudaraku, tugas Anda sebagai pemimpin adalah “to make things happen accordingly!”, dan bukan hanya mengeluh!

Jika tetap mengeluh, lebih baik serahkan tongkat komando Anda kepada orang lain yang bisa memastikan bahwa perintah dan rencananya dituruti, dilaksanakan, sampai berhasil!