BELAS KASIHAN

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

BELAS KASIHAN

 

Compassion must be the basis of all morality.

Arthur Schopenhauer

Perasaan belas kasihan harus menjadi dasar dari segala moralitas

Arthur Schopenhauer

 

 

Belas kasihan. Ketika kita memilikinya, maka tidak perlu diperintah, kita akan jatuh iba dan ingin memberikan pertolongan, kepada orang yang membutuhkan atau memohonnya.

Belas kasihan juga mencegah kita berbuat lalim, kasar, kejahatan terhadap orang lain.

Belas kasihan juga mencegah kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita; bahkan bersedia membagi hak kita kepada orang lain yang sesungguhnya tidak mempunyai hak atas itu

Belas kasihan juga akan mencegah timbulnya banyak dosa seksual.

 

Mengapa perasaan belas kasihan bisa sedemikian efektif mencegah perbuatan jahat, dan mempermudah perbuatan baik?

Karena, perasaan belas kasihan berasal dari emphati, seolah turut merasakan sedih ketika melihat orang lain bersedih; turut merasa senang ketika melihat orang lain bersuka cita; turut berduka ketika melihat orang lain berduka; dan turut berbahagia ketika melihat orang lain berbahagia.

Mirip seperti yang tertulis di Alkitab ataupun yang dikatakan Kong Hu Cu, yang garis besarnya menyatakan demikian, “Janganlah melakukan kepada orang lain, hal yang Anda tidak ingin orang lain perlakukan kepadamu”, atau kalau dibalik “Lakukanlah hal kepada orang lain sebagaimana Anda ingin orang lain perlakukan kepadamu”

 

  • Mengapakah sering terjadi perkelahian –bahkan sampai merenggut nyawa orang- antar sekolah, antar kampus, antar kampung, antar suku, antar agama, bahkan antar negara?
  • Jawabannya sederhana: Karena mereka kekurangan perasaan belas kasihan terhadap orang lain.
  • Mengapakah terjadi penipuan, penganiayaan, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan?
  • Jawabannya juga tetap sederhana: Karena pelakunya kekurangan perasaan belas kasihan terhadap orang lain.

 

Pernahkah saudara mengetahui ada majikan yang memperkosa atau menyetubuhi pembantunya? Tentang Atasan atau Boss pria yang selingkuh atau menyetubuhi sekretarisnya atau bawahannya? Tentang seorang ayah (kandung maupun tiri) yang menyetubuhi anak perempuannya sendiri? Tentang paman yang menyetubuhi keponakannya sendiri? Tentang kakak ipar yang menyetubuhi adik iparnya sendiri?

Dan yang lebih umum adalah, tentang pria yang menyetubuhi pacarnya sebelum menikah?

Pernah?

Apakah akibat dari pelampiasan nafsu syahwat sesaat itu?

  • Ya, ada manusia berjenis kelamin perempuan yang kehilangan kehormatannya, keperawanannya, bahkan sampai hamil tanpa suami, benar?

Apa yang kemudian terjadi?

  • Ada yang melakukan aborsi; adapula yang terpaksa harus pulang kampung, atau pindah kampung lain, untuk melahirkan bayi hasil perbuatan pria asusila!

Kemungkinan apa lagikah yang akan terjadi?

  • Ada kehidupan dan masa depan perempuan yang hancur! Dan juga ada bayi bayi yang tidak berdosa akan terlahir didunia ini tanpa diharapkan!
  • Bisa saja perempuan yang menjadi korban itu kelak menjadi wanita simpanan, menjadi pelacur, membunuh diri, atau membunuh anaknya sendiri ketika lahir!

Belum pernahkah Anda mendengar realita tragis yang kisahnya sering diberitakan dimedia massa kita?

 

Ketika syahwat Anda tergerak, dan iblis didalam diri Anda menyuruh Anda melakukan perjinahan, ingatlah akan perasaan belas kasihan.

Sungguh tidak feasible, sungguh tidak berperikemanusiaan jika kita sebagai makhluk yang dicipta menurut rupa dan teladan TUHAN sendiri, melakukan perbuatan bejad, kenikmatan seksual sesaat, yang akan menghancurkan kehidupan manusia lain yang lebih lemah!

 

Belas kasihan juga bisa mencegah Anda melakukan perbuatan tidak senonoh. Bahkan ketika Anda sebagai pria (apalagi jika sudah berkeluarga dan mempunyai anak perempuan) digoda oleh perempuan ABG (anak baru gede) di mall atau dimanapun juga, janganlah bernafsu.

Anda perlu berbelas kasihan kepadanya, yang entah karena alasan ekonomi ataupun praktek balas dendam karena keperawanannya telah direnggut oleh pacarnya ataupun pria lain.

Bayangkanlah jika gadis ABG itu adalah anak perempuan Anda, bagaimanakah perasaan Anda melihat makhluk lemah seperti itu disetubuhi pria seperti Anda?

 

Saya yakin bahwa terjadinya perselingkuhan, perjinahan, sampai perkosaan, asal muasalnya adalah karena ketiadaan perasaan belas kasihan, sehingga mengakibatkan hilangnya moralitas dan akal waras.

Saya mempunyai beberapa kisah nyata yang terjadi dilingkungan yang saya kenal. Kehidupan menjadi pahit, rumahtangga berantakan, hanya karena ketidaksanggupan menguasai syahwat!

 

Ada seorang eksekutif perusahaan besar bernama “X”, yang tinggal dirumah mewah di Jakarta Utara. Ia mempunyai istri yang baik, putra dan putri yang menjelang remaja. Hubungan kekeluargaan mereka nampak harmonis, mesra, sehingga kedua anaknya tumbuh menjadi remaja yang baik.

Suatu hari, keponakan istrinya, perempuan muda yang baru lulus sarjana ekonomi daerah, ingin tinggal bersama mereka sampai mendapatkan pekerjaan.

Ternyata, hal itu menjadi awal bencana kehidupan rumahtangga mereka, karena “X” entah kerasukan setan apa, pada suatu malam ketika istri dan kedua orang anaknya sedang tidak dirumah, ia “½ memperkosa” (saya katakan ½, karena sekalipun memaksa, namun tidak mengancam dengan golok) keponakan istrinya itu!

Hal itu terjadi berulangkali sampai sang keponakan hamil!

Maka gemparlah rumahtangga “X”. Istrinya shock, dan kedua orang anaknya sangat kecewa dan marah kepada ayahnya yang selama ini dihormati dan dikagumi.

 

Singkat kata, si “X” akhirnya bercerai, dan menikah dengan keponakan istrinya itu.

Sejak peristiwa itu, kehidupan rumahtangga yang semula harmonis dan nampak bahagia, menjadi berantakan! Anak perempuannya minggat ke Ausralia, dan “kumpul kebo” dengan pacarnya.

Anak lelakinya minggat ke Amerika, dan “kumpul kebo” juga dengan sesamanya (menjadi gay).

Istrinya sakit-sakitan, dan akhirnya mati karena kanker.

Setelah beberapa belas tahun kemudian, “X” juga terlunta-lunta tinggal dirumah kost, karena sudah diusir oleh istrinya. Pada ujung hidupnya, “X” menjadi orang tua yang miskin, terlantar, menderita kesepian dan penyesalan.

Karena “X” tidak menabur belas kasihan, maka iapun tidak menuai belas kasihan!

 

Saya masih punya beberapa kisah nyata sejenis, tentang ketiadaan perasaan belas kasihan yang mengakibatkan kejahatan seksual dan penderitaan rumahtangga, namun saya anggap Anda sudah tahu kira kira jalan ceritanya.

 

Melalui bab ini, saya hanya ingin mengingatkan bahwa:

  • Sebelum Anda marah dan ingin menghajar seseorang yang menyerempet kendaraan Anda misalnya, ingatlah bahwa sekalipun Anda pukuli orang itu sampai babak belur atau invalid, apakah Anda bisa memutar jarum jam agar kendaraan Anda tidak jadi diserempet?
  • Jika tidak, berbelas kasihanlah. Ampunilah dia. Taburlah belas kasihan, supaya suatu waktu, jika Anda memerlukan, Anda bisa menuai belas kasihan dari orang lain terhadap Anda.