KUASA PERASAAN BERSYUKUR

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

KUASA PERASAAN BERSYUKUR

 

Let us rise up and be thankful, for if we didn’t learn a lot today, at least we learned a little, and if we didn’t learn a little, at least we didn’t get sick, and if we got sick, at least we didn’t die; so, let us all be thankful

Buddha

Marilah kita bangkit dan mengucap syukur, sekalipun kita tidak belajar banyak hari ini, setidak-tidaknya kita belajar sedikit; dan andaikan kita tidak belajar sedikit, setidaknya kita tidak jatuh sakit; andaikan kita sakit, setidaknya kita tidak mati; jadi, marilah kita sekalian mensyukurinya

Buddha

 

Sebenarnya, bagi mayoritas masyarakat kita, telah mengetahui dan menerapkan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha, yakni selalu mengucap syukur atas apa saja yang terjadi, baik ataupun buruk.

Coba ingat, ketika ada orang tertabrak motor, dan kakinya patah, apa yang dikatakan olehnya ataupun banyak orang? “Aduh, untung cuma kaki yang patah, kalau tadi kelindas kepala bisa mati tuh?!”

Juga ketika ada perempuan yang dirampok ketika pulang kerja malam hari, apa yang dikatakan oleh dirinya maupun keluarganya? “Untung cuma dirampok, enggak sampai diperkosa!?”

Ketika orang tidak punya uang untuk membeli lauk ikan, dan hanya bisa makan dengan taburan garam, apa yang dikatakannya? “Masih untung kita bisa makan nasi, sekalipun hanya pakai garam. Banyak orang yang baru bisa makan dua hari sekali!”

Bukankah demikian?

 

Bisa merasa masih beruntung, dan mengucap syukur dikala tertimpa kemalangan, adalah perbuatan yang hebat, dan nyaris ajaib!

Itulah sebabnya, sekalipun banyak dari masyarakat kita yang hidupnya sangat susah, dan masuk kategori sangat miskin, tetap saja masih bisa survive; bahkan mereka masih bisa “menikmati hidup”, sekalipun ala kadarnya.

Coba bayangkan, banyak dari masyarakat kita diperkotaan yang bisa tetap hidup dengan penghasilan belasan ribu sehari, padahal punya tanggungan beberapa orang anak! Bukankah itu pantas disebut seperti keajaiban!?

Resep tetap bisa hidup waras sekalipun didalam penderitaan adalah karena mereka biasa mengucap syukur atas apa saja yang terjadi dalam hidupnya.

 

Ketika orang terbiasa mengucap syukur dan pasrah terhadap perihal yang tidak sanggup diubahnya, maka “pukulan hidup” yang sepertinya dahsyat, menjadi seperti tidak bertenaga; seperti batu dilempar kedalam air, sudah terpecah kekuatannya dipermukaan.

Karena ikhlas menerima “nasib”, orang menjadi tidak bersungut-sungut; bisa tetap bergembira sekalipun tidak ada cukup alasan.

Karena tidak ada kesulitan yang disimpan dalam hati, maka pikiran menjadi tidak terbebani; tetap bisa tidur nyenyak. Itulah sebabnya, mereka tetap bertahan hidup sekalipun kurang makan!

 

Sebaliknya, bagi orang yang tidak terbiasa, atau tidak mau mengucap syukur dalam segala hal, akan sering merasa kecewa, jengkel, marah, bahkan benci; terhadap dirinya sendiri, orang lain, keadaan, setan dan TUHAN; ketika apa yang diinginkannya tidak diperoleh, apalagi jika tertimpa kemalangan!

Ketidakmampuan untuk bersyukur, akan menyulitkan orang untuk merasa puas, atau merasa bahagia. Ia akan cenderung menjadi penuntut, dan penggerutu. Bahkan bisa meletup menjadi kemarahan dan kebencian!

 

Ketika hati dipenuhi ketidakpuasan, maka orang akan menjadi mudah tersinggung, mudah marah, stress, depresi, insomnia, dan gangguan psikosomatik (penyakit badan karena pikiran) lainnya.

Jika diteruskan, bisa menjadi penyakit berat seperti gangguan jantung, stroke, kanker, dan kematian!

Seperti ada tertulis, “Hati yang gembira adalah obat, tapi semangat yang patah mengeringkan tulang!”

 

Sungguh saudaraku, sekalipun terdengar tidak masuk akal ketika mengajarkan orang agar tetap mengucap syukur menghadapi perihal apapun; namun menurut saya itulah pilihan yang terbaik!

Jika kita menghadapi keadaan yang tidak bisa diubah atau ditolak; entah kita menerima dengan ikhlas pasrah ataupun dengan caci maki, maka keadaan external tetap tidak berubah; ibarat “nasi sudah jadi bubur!”, mau ditertawakan ataupun ditangisi, bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi!

Maka pilihan yang waras dan bijak adalah dengan menerimanya dengan ucapan syukur, “Wah masih beruntung nasinya jadi bubur, masih bisa dimakan, daripada gosong!?”

 

Apapun pilihan kita terhadap  situasi yang diluar kemampuan kita untuk mengubahnya: bersyukur atau menggerutu; yang berubah adalah keadaan internal diri kita.

Kalau bersyukur, maka hati bisa tetap merasa ringan, tidak berbeban berat.

Kalau kita kecewa atau marah atau benci dan tidak mau menerima “nasib”, maka emosi kita menjadi buruk; yang bisa merugikan kualitas mental kita maupun kesehatan tubuh kita.

Jadi menurut hemat saya, lebih baik kita belajar untuk bisa mensyukuri apa saja yang terjadi dalam hidup kita; jika tidak bisa kita terima dengan senang, minimum agar keadaan tidak menjadi lebih buruk.

Seperti ada tertulis, “Mengucap syukurlah senantiasa dalam segala hal”.