PERBAIKI DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

PERBAIKI DIRI SENDIRI TERLEBIH DAHULU

 

Before trying to fix others, fix yourself first.

Haleigh K

Sebelum mencoba memperbaiki orang lain, perbaikilah diri sendiri

terlebih dahulu

Haleigh K

 

Kecenderungan kita sebagai manusia adalah “Lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahan sendiri”, sehingga akibatnya kita lebih sering menggunakan “jari telunjuk” kita untuk menuding, memberitahu atau mengeritik kesalahan orang lain.

Menasehati orang yang berbuat salah, agar sadar dan tidak lagi berbuat salah, adalah perbuatan yang baik; saya atau siapapun juga tidak akan mempersalahkan Anda jika melakukannya.

Anda juga boleh dan sah saja jika mengkritisi prilaku buruk seseorang, walaupun diri sendiri juga melakukan keburukan itu.

Namun, jika ingin kritikan atau saran perbaikan Anda dituruti oleh orang lain, maka pertama-tama dan utama adalah bahwa Anda sendiri harus terbebas dari kesalahan serupa!

Jika tidak, maka “ocehan” Anda hanya akan “masuk kuping kiri, keluar telinga kiri”, alias tidak digubris! Bahkan jika yang Anda kritik adalah orang selevel, yang Anda dapat adalah tertawaan dan cemoohan belaka, karena ibarat “maling teriak maling!?”

 

Saya ada pernah mengenal penjudi, yang sejak kecil (katanya), sampai tua, masih gemar berjudi. Namun orang itu, jika bertemu orang yang hendak berjudi, akan menasehati; “Jangan berjudi! Enggak ada orang yang kaya dari judi!”

Ha ha ha….Anda tertawa, bukan?

Ya, demikian juga dengan orang yang dinasehatinya, sambil mengolok, “Waduh, Om minumnya kemarin kok mabuknya sekarang?!”

 

Hal lucu serupa adalah seperti yang biasa dilakukan oleh orangtua yang menasehati anak lelakinya yang merokok, “Heh, kamu kenapa merokok? Memangnya nggak tau kalau merokok itu bahaya, merugikan kesehatan, dan membakar uang!!?” ; sang ayah menasehati anaknya sambil merokok.

 

Kebiasaan lucu ini juga terjadi dimana-mana, diperusahaan, dipemerintahan, dilembaga keagamaan, dan dijalanan. Kita merasa superior dan merasa telah berbuat kebajikan, ketika membuka mulut kita menasehati orang.

Kita berharap bahwa nasehat kita akan dituruti, sehingga hidup orang berubah menjadi baik dan indah!

Ha ha ha…. kali ini saya yang tertawa; merasa geli dan sekaligus prihatin.

Menurut saya itu adalah pekerjaan mubazir, dan memalukan; bukan hanya seperti “membuang garam kelaut” tapi lebih tepat seperti “menepuk air didulang terpercik muka sendiri!”

Daripada repot mengurusi dan memperbaiki orang lain, lebih baik benahi diri sendiri terlebih dahulu. Kelak jika kita sudah bisa melakukan apa yang kita khotbahkan, barulah patut untuk menasehati orang lain; dan pada waktu itu, orang yang dikritisi bisa menerima dengan lapang dada; dan bisa saja ia “bertobat” karena menuruti nasehat Anda, yang telah Anda buktikan dengan keteladanan.

Nasehatnya sama, tapi akibatnya berbeda; karena disampaikan oleh orang dengan prilaku berbeda!