TETAPLAH BERJUANG

Success Tips diambil dari buku “SANG MOTIVATOR PEMBEBAS” terbitan Gramedia

Author: Johanes Lim, Ph.D, CPC, CHt

WA: 0857 8017 3862

www.indonesia-inc.com

 

 

 

TETAPLAH BERJUANG

 

Always try your best, never give up and remember each human being is the architect of his own destiny.

Laureano Gomez

Selalu coba lakukan yang terbaik, jangan menyerah, dan ingatlah bahwa manusia adalah arsitek nasibnya sendiri

Laureano Gomez

 

Secara normal dan manusiawi, kita memang harus percaya bahwa nasib dan keberuntungan kita tergantung sepenuhnya kepada perjuangan diri kita sendiri. Ibaratnya, kalau kita mau mendapat hasil panen raya berlimpah, maka kita harus melakukan berbagai upaya terbaik yang dimungkinkan, untuk menabur benih dan memelihara tanaman kita.

Sebab, jika kita tidak bersedia menabur benih, dan atau tidak bersedia memelihara benih yang ditabur dengan segenap kemampuan; maka tidak perlu menyalahkan siapapun jika kelak tidak ada hasil yang bisa dipanen!

Dalam hal ini, tidak ada yang aneh, dan tidak ada yang salah. Melulu adalah “common sense”, akal waras.

 

Realita pragmatis itu baru terasa janggal dan “tidak rohani” ketika mencantumkan istilah, “manusia adalah arsitek bagi nasibnya sendiri”, karena bagi pengikut agama tertentu, hal itu terkesan arogan, dan menyalahi kebenaran agama!

Mereka sudah terlanjur percaya bahwa “manusia hanyalah sebutir debu yang tidak berarti apa apa, dan tidak penting; hanya TUHAN saja yang perlu dipikirkan, dan bukan manusia; hanya kehendakNYA yang jadi, dan bukan kehendak manusia”, bahkan ada yang mengajar cukup keras bahwa, “barangsiapa mengandalkan manusia atau dirinya sendiri akan dikutuki TUHAN!”; Wow, cukup mengerikan, bukan?

 

Ketika orang percaya bahwa manusia tidak berkuasa terhadap kehidupannya sendiri, bahwa apa saja yang terjadi dalam hidupnya sudah “suratan takdir” yang tidak bisa diubah; maka dengan kata lain, manusia seperti menyerahkan kemudi hidupnya kepada kuasa diluar dirinya; ibarat mengemudikan mobil pakai “Invisible Driver, pengemudi otomatis yang tidak terlihat”.

Orang seperti itu akan menjadi peragu dan penakut, ketika diminta memutuskan sesuatu yang tidak biasa; bukannya berpikir dan menganalisa situasi agar bisa memberikan jawaban atau keputusan terbaik, malahan dia menanyakan kepada “langit” dan menunggu jawaban.

Biasanya, orang seperti itu akan kehilangan peluang, karena lamban.

Namun ia tidak menyesal, sekalipun batal mendapat keberuntungan, karena ia percaya bahwa, “Ah biar saja, itu bukan kehendakNYA. Nanti akan digantikan dengan yang lebih baik”, begitulah terjadi berulang kali.

 

Orang yang terlalu rohani juga tidak akan agresif atau obsesif dalam mengejar tujuan. Sekalipun ia mencoba untuk melakukan hal baru tertentu, namun tidak cukup persisten. Jika mengalami beberapa kali kegagalan, maka ia akan berhenti. Bukan menyerah karena putus asa, melainkan menganggap bahwa pekerjaan itu “bukan kehendakNYA”, jadi tidak perlu dilanjutkan.

Prilaku yang “ngoyo” dianggapnya mencerminkan orang yang “kurang beriman”. Mereka percaya bahwa, “Kalau memang sudah ditetapkan menjadi milik kita, maka pasti akan menjadi milik kita; namun jika tidak, maka percuma saja memperjuangkannya?!”

 

Bagi saudara yang percaya akan hal itu, maka saya tidak akan mencampurinya, silahkan saja melanjutkan sesuai keyakinan Anda.

Namun bagi Anda yang percaya bahwa nasib Anda -baik atau buruk, sukses atau gagal, kaya atau miskin- berada dalam tanggungjawab Anda sendiri, maka berlakukan kepercayaan dan tindakan ini:

  • Pikirkan dan lakukan segala hal yang baik dengan sebaik-baiknya, dan dengan sekeras-kerasnya.
  • Jika mengalami hambatan, kegagalan, kerugian, JANGAN MENYERAH! Analisa mengapa terjadi hal buruk itu, dan perbaikilah, kemudian lakukan lagi dengan upaya yang lebih keras!
  • Jika masih gagal lagi, kembali analisa, perbaiki dan lakukan lagi, dengan lebih keras lagi!
  • Percayalah, selama Anda tidak berhenti, Anda belum kalah, dan belum gagal. Selama tujuan itu cukup berharga untuk diperjuangkan, dan mempunyai kemungkinan untuk terwujud, maka teruslah berusaha, sampai berhasil!

 

Nah, sambil bekerja, sambil terus bekerja keras, ada baiknya jika Anda juga berdoa kepada TUHAN; bukan meminta agar TUHAN bertindak ganti Anda, bukan! Melainkan berdoa, agar Anda diberi kekuatan dan ketabahan untuk menuntaskan penugasan sampai berhasil!