Kalah Lawan Vietnam Pakar Revolusi Industry 4.0

revolusi industri 4.0, industrial revolution 4.0, pakar revolusi industri 4.0, industry 4.0, radio bisnis pasfm, johanes lim, pakar revolusi industry 4.0, revolusi industry 4.0

MENGAPA INDONESIA KALAH DENGAN VIETNAM?

Akibat berlarutnya Perang Dagang USA-China, perusahaan besar dan manufaktur kedua negara berlomba mencari negara lain yang kondusif untuk merelokasi bisnisnya

Menurut laporan dari Bank Dunia bahwa bulan Juni 2019 ada 33 perusahaan yang keluar dari China, 23 perusahaan memilih berinvestasi di Vietnam. 10 lainnya pergi ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Tidak ada satupun yang memilih Indonesia

Pada tahun 2017, ada 73 perusahaan di Jepang yang merelokasi bisnisnya.  43 perusahaan memilih investasi ke Vietnam, dan 10 perusahaan ke Indonesia

Presiden Joko Widodo dan juga banyak Pengamat sudah mengetahui penyebabnya, antara lain lambatnya dan berbelitnya proses perijinan relokasi manufaktur di Indonesia, yang memakan waktu tahunan dan biaya besar; sedangkan di Vietnam hanya memerlukan waktu 2 bulan rampung

Masih ditambah dengan tingginya biaya logistik di Indonesia, yang berada pada kisaran 22-24 persen terhadap PDB

Masih ditambah dengan masalah motivasi dan kompetensi SDM yang belum kondusif terhadap GLOBAL COMPETITIVENESS PERSPECTIVE sehingga tidak siap terhadap INDUSTRY 4.0 READINESS; yang tentunya bukan hanya salahnya Pekerja, melainkan juga INSTITUSI PENDIDIKAN DAN PEMERINTAH yang tidak dari dulu mempersiapkan kedatangan terjangan tsunami INDUSTRIAL REVOLUTION 4.0  

Masih ditambah dengan faktor INSENTIF FISKAL Vietnam yang lebih spesifik kongkrit berguna bagi Investor; berbeda dengan kita yang menganggap memberikan Tax Holiday, Tax Allowances, sudah dianggap bagus memadai; sekalipun Investor umumnya lebih memilih INSENTIF DISCOUNT TARIF LISTRIK DAN KERINGANAN BEA MASUK UNTUK PENGADAAN MESIN BARU misalnya

MENGAPA KOK GAK NYAMBUNG?

Karena MEMANG GAK NYAMBUNG! Beda Visi Misi Aksi! Beda Persepsi Motivasi Atensi! Politikus dengan Pengusaha memang beda perspektif dan kepentingan.

Politikus umumnya mengidap MYOPIA POWER hanya memikirkan kepentingannya jangka pendek, yakni berkuasa; sedangkan Pebisnis umumnya berpikir STRATEGIK, kelangsungan berbisnis yang menguntungkan dan aman nyaman untuk jangka panjang

Harusnya Pemerintah “COBA MENGENAKAN SEPATU PENGUSAHA” agar mahfum dan emphatik; sehingga bisa membuat kebijakan yang tepat manfaat dan Meritokratis businesslike

Apa gunanya memberi makanan Kambing dengan lauk ikan dan atau memberi makanan kucing dengan lauk rumput? ITU NAMANYA GAGAL PAHAM, atau GAK NYAMBUNG!

Sebagai Pengusaha atau Investor yang PUNYA DUIT tapi gak punya kekuasaan untuk mengubah peraturan negara; ya gampang saja: RELOKASI KENEGARA YANG KONDUSIF TERHADAP KEMAKMURAN BISNIS, titik

Itu adalah beberapa pendapat dan analisis dari para Pakar yang MELUPAKAN adanya “faktor lain yang crucial vital fatal” yakni seringnya di expose issue PRIMORDIAL bahkan POLITIK IDENTITAS “ANTI ASING ASENG”

Karena mereka BUKAN ASING ASENG maka tidak tersusup dalam benak atau hati nurani mereka bahwa ITU ADALAH ISSUE YANG MENGERIKAN!

Itulah sebabnya mereka menganggapnya tidak ada, dan atau hanya seperti angin lalu, “MASUK KUPING KANAN KELUAR TELINGA KANAN”, tidak pernah nyangkut setitikpun

Akibatnya jelas wajar: KARENA DIANGGAP TIDAK ADA, MAKA TENTUNYA TIDAK PERNAH TERLINTAS DIPIKIRAN UNTUK DIANTISIPASI DAN DIATASI

Sedangkan Pengusaha atau Investor luar negeri yang terkena issue ASING untuk USA dll dan ASENG untuk China Taiwan Hongkong dll, tentu saja menjadikan propaganda busuk tsb sebagai LATENT RISK FACTOR yang harus dihindari

Sedangkan Vietnam, bahkan termasuk Malaysia, tidak mengijinkan adanya propaganda ala DEVIDE ET IMPERA murahan rendahan seperti itu; sehingga Investor merasa sebagai negara yang aman nyaman untuk berinvestasi jangka panjang

JADI TUGAS PEMIMPIN NEGARA DAN MASYARAKAT KITA cukup berat; bukan melulu akselerasi pembenahan penguatan faktor infrastruktur dan atau SDA atau SDM, melainkan MASALAH INAPPROPRIATE MENTAL ATTITUDE dan juga PENEGAKAN HUKUM KONGKRIT serta penerapan MANAJEMEN MERITOKRATIS untuk memastikan bahwa kekayaan kebesaran kelimpahan aneka sumberdaya kekayaan bangsa, konduif dan PRO TERHADAP KEMAJUAN BISNIS, baik untuk Pengusaha local maupun international, secara NON DISKRIMINATIF

Detailnya bisa dipelajari di https://bit.ly/3e7L5yW

revolusi industri 4.0, industrial revolution 4.0, pakar revolusi industri 4.0, industry 4.0, radio bisnis pasfm, johanes lim, pakar revolusi industry 4.0, revolusi industry 4.0